metrouniv.ac.id – 4/03/2025 – 4 Ramadan 1446 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)
isy maa syi’ta fa innaka mayyitun
(Hiduplah sesukamu, tapi ingat engkau akan mati)
Terkadang, terhadap orang yang keras kepala; terhadap mereka yang terlalu yakin dengan pilihannya; dan terhadap mereka yang merasa bisa melakukan semuanya tanpa bantuan orang lain; dibutuhkan cara komunikasi yang berbeda. Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah reverse psychology atau psychological reactance. Teknik ini membuat seseorang bertindak berlawanan dengan apa yang disarankan. Jika kita ingin seseorang melakuan sesuatu (A), kita justru harus menginstruksikan yang sebaliknya (Z). Ini bukan tentang sikap plin-plan, tetapi sebuah teknik komunikasi untuk mendapatkan yang benar-benar dimaksudkan. Ini mungkin sebuah teknik permainan bahasa, yang kerap berguna untuk beragam keperluan: iklan, pendidikan, dan dakwah.
Di dalam iklan, teknik reverse psychology cukup efektif untuk menarik perhatian konsumen. Taruh kata, kita punya sebuah produk yang di-display di toko. Tokonya berada di sebelah kiri jalan. Kita ingin menarik perhatian, dan juga minat tentu saja, semua pengendara yang melaju di sebelah kiri. Pilihan kita ada dua. Pertama, kita membuat iklan bertuliskan: “Di Sebelah Kiri Anda, Ada Produk Bagus”. Kedua, kita menggunakan teknik reverse psychology, dan menulis iklan: “Jangan Tengok Kiri, Ada Produk Bagus.” Jika ditimbang, pilihan mana yang lebih efektif dalam hal menarik perhatian? Boleh jadi pilihan kedua, atau pilihan yang menerapkan reverse psychology karena memang ada kecenderungan orang untuk melakukan sesuatu yang dilarang.
Boleh tidak setuju. Namun, asumsi di atas ada landasan ilmiahnya. Chan & Leung (2018) dalam jurnal bertajuk An empirical study on reverse psychology applied in advertising messages melaporakan: hampir 50% orang tertarik dengan pesan iklan yang dikemas dengan reverse psychology. Meski selalu ada konsumen yang tidak nyaman dengan pesan iklan semacam itu, fakta lapangan menunjukkan bahwa taktik reverse psychology turut meningkatkan kesadaran dan minat konsumen terhadap sebuah produk. Yah, tak ada iklan yang bisa menyenangkan semua orang. Tapi terkait efektivitas, iklan yang dibalut dalam nuansa reverse psychology, bisa menjadi sebuah alternatif.
Di bidang pendidikan, kita mungkin pernah menemukan kisah sukses yang berawal dari kata-kata yang terdengar seperti ‘ejekan’. Sebaiknya dianggap sebagai motivasi-tersamar, alih-alih sebagai cemoohan. Ambil contoh, ada seorang anak cerdas namun kurang beruntung secara ekonomi. Kepadanya pernah dikatakan: “Tidak usah rajin-rajin belajar le, kesuksesan itu hanya milik orang kaya. Bukan milik orang seperti kamu” Perkataan semacam ini boleh jadi sebuah reverse psychology ketika di akhir cerita, sang anak bisa membuktikan bahwa ia rajin belajar, ia sukses, ia kini hidup dalam kecukupan. ‘alaa kulliy haal, ia bisa membuktikan jika ‘cemoohan’ yang dulu pernah dikatakan kepadanya, adalah keliru.
Kini kita bisa memahami, jika ada seorang guru berkata kepada muridnya: “Kamu belum cukup cakap untuk bisa menyelesaikan tugas ini.” Jangan buru-buru mencap sang guru sebagai pematah semangat, atau sebagai persona yang tak tahu cara memotivasi siswanya. Karena barangkali, sang guru sedang menerapkan teknik reverse psychology. Ia percaya bahwa muridnya telah cukup tangguh untuk menyelesaikan sebuah tugas secara mandiri. Namun untuk itu, ia perlu mengatakan yang sebaliknya agar advise-nya memuat tantangan bagi sang siswa.
Di bidang dakwah, pola reverse psychology mungkin juga kita temukan. Ambil contoh, lima pesan Jibril kepada sayyidinaa Muhammad saw, yang salah satunya adalah: ‘isy maa syi’ta fa innaka mayyitun. Hiduplah sesukamu, tapi ingat engkau bakal mati. Sepintas, terbaca bahwa manusia berhak melakukan apa saja dengan hidupnya. Mau jadi pendosa, silakan. Mau jadi orang soleh, go ahead. Toh, semua manusia pasti mati. Di kehidupan setelah kematian, manusia yang dulunya melanggar aturan agama akan sengsara. Sebaliknya, manusia yang hidupnya sesuai aturan agama, akan bahagia.
Jika kita menggunakan teknik reverse psychology terhadap pesan, ‘isy maa syi’ta fa innaka mayyitun, kita sangat mungkin akan membatin: kita tidak bisa hidup sesuka hati jika ingin hidup bahagia kelak di akhirat. Manusia harus hidup sesuai aturan agama agar hidup bahagia in the life after death, atau di kehidupan setelah kematian.
Dan begitulah, kira-kira, reverse psychology itu. Sebuah teknik komunikasi yang unik dan bisa jadi sangat efektif jika diterapkan secara tepat. Dan jika, ragam sosialiasi dan iklan terkait kampus dan program studi, dirasa belum maksimal, mungkin kita bisa berkata: “Jangan gunakan teknik reverse psychology agar tetap berada dalam keadaan seperti ini.” Wallahu a’lam.