metrouniv.ac.id –10/03/2026 – 20 Ramadan 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Menjelang hari raya, pemerintah RI memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada aparatur negara seperti Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI, dan Polri dan penerima lainnya. Bagi sebagian orang, THR mungkin dipandang sekadar tambahan penghasilan yang membantu kebutuhan keluarga menjelang Idulfitri, namun dalam perspektif psikologi spiritual tidak sesederhana demikian. THR dapat diartikan lebih dalam sebagai rezeki yang mengandung pesan moral dan spiritual. Menurut psikologi positif, rasa syukur merupakan salah satu kondisi emosi spiritual seseorang yang mampu meningkatkan kebahagiaan, ketenangan batin, serta kualitas hubungan sosial. Ketika seseorang menerima rezeki dengan rasa syukur, maka ia tidak hanya merasakan kebahagiaan pribadi, tetapi juga termotivasi kuat untuk menebarkan manfaat kepada orang lain. Al-Qur’an mengingatkan pentingnya sikap syukur dalam menerima nikmat Allah SWT: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini menegaskan bahwa bentuk syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap batin yang diwujudkan melalui penggunaan nikmat secara benar dan penuh tanggung jawab yaitu membelanjakannya pada hal yang bermanfaat dan diridhoi Allah Swt.
Psikologi Rezeki: Antara Nikmat dan Ujian
Dalam perspektif psikologi religius, setiap bentuk rezeki sesungguhnya memiliki dua dimensi sekaligus yaitu nikmat dan ujian. THR yang diterima oleh aparatur negara adalah nikmat karena memberikan tambahan kesejahteraan bagi diri dan keluarga. Namun pada saat yang sama, ia juga merupakan ujian tentang bagaimana seseorang memanfaatkan nikmat tersebut. Sebagian orang mungkin tergoda untuk menghabiskan THR secara konsumtif tanpa perencanaan yang jelas dan kurang bermanfaat. Dalam psikologi perilaku, hal ini sering dipengaruhi oleh dorongan emosional sesaat, terutama menjelang hari raya yang identik dengan tradisi belanja dan perayaan. Sebaliknya, individu yang memiliki kesadaran spiritual cenderung memandang rezeki sebagai sarana untuk memperluas amal kebaikan. Mereka tidak hanya memikirkan kebutuhan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan cara rezeki tersebut dapat memberi manfaat yang lebih luas. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Hadis ini mengajarkan bahwa nilai sebuah rezeki tidak hanya terletak pada jumlahnya, tetapi pada seberapa besar manfaat yang dihasilkan dari rezeki tersebut bagi pemilik, keluarga dan sesamanya.
Empati Sosial: Menyadari Tidak Semua Orang Mendapat THR
Dari sudut pandang psikologi sosial, penerimaan THR juga mengandung pesan penting tentang empati. Di tengah masyarakat, banyak pekerja informal atau masyarakat kecil yang tidak mendapatkan fasilitas seperti THR. Kesadaran akan realitas ini dapat menumbuhkan rasa kepedulian sosial di kalangan aparatur negara. ASN, khususnya yang berada di lingkungan Kementerian Agama RI, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam memaknai rezeki dengan penuh kesadaran spiritual. THR dapat menjadi sarana untuk berbagi, membantu sesama, serta memperkuat solidaritas sosial. Al-Qur’an menegaskan bahwa dalam setiap harta terdapat hak bagi orang lain: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
(QS. Adz-Dzariyat: 19). Ayat ini memberikan pesan psikologis bahwa berbagi bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga jalan menuju ketenangan batin dan kebahagiaan yang lebih mendalam. Sebaik-baik individu adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Dari Rezeki menuju Amal
Psikologi spiritual menekankan bahwa kebahagiaan haqiqi tidak hanya berasal dari kepemilikan harta benda, tetapi dari makna yang ditemukan dalam tindakan memberi dan berbuat baik. Ketika THR dimanfaatkan untuk kebaikan, amal, sedekah, atau membantu orang lain, maka rezeki tersebut berubah menjadi sumber keberkahan yang lebih luas. Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengandung pesan kuat bahwa memberi adalah bentuk kemuliaan. Dalam konteks penerimaan THR, aparatur negara dapat menjadikannya sebagai momentum untuk memperbanyak amal, memperkuat hubungan keluarga, serta membantu masyarakat yang membutuhkan. Secara psikologis, perilaku berbagi terbukti mampu meningkatkan rasa kebermanfaat diri, memperkuat empati, dan menumbuhkan rasa bersyukur dalam kehidupan.
THR sebagai Energi Moral untuk Meningkatkan Kualitas Pengabdian
Selain menjadi sarana amal, THR juga dapat menjadi energi moral dan psikologis untuk meningkatkan kualitas kerja aparatur negara. Dalam teori motivasi kerja, penghargaan yang diterima seseorang dapat memperkuat komitmen terhadap tanggung jawab profesionalnya. Bagi aparatur negara muslim, diyakini bahwa bekerja dengan baik merupakan bagian dari ibadah. Oleh karena itu, penerimaan THR seharusnya mendorong peningkatan integritas, profesionalitas, dan pelayanan kepada masyarakat. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya.”(HR. Thabrani). Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas kerja dan pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk tanggung jawab spiritual seorang muslim.
Mantap Bersyukur dan Mengelola Rasa Iri dalam Penerimaan THR
Penerimaan THR tidak hanya berkaitan dengan nilai materi, tetapi juga sikap batin dalam menyikapinya. Perbedaan jumlah THR adalah hal yang wajar karena dipengaruhi oleh kepangkatan, masa kerja, dan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk menjaga rasa syukur dan tidak terjebak dalam perasaan iri ketika melihat orang lain menerima jumlah yang lebih besar atau ketika ada kawan pasangan suami istri yang sama-sama memperoleh THR (diibaratkan mobil bergardan ganda). Dalam psikologi sosial, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain sering menjadi sumber ketidakpuasan dan mengurangi rasa syukur. Padahal Islam mengajarkan bahwa rezeki setiap orang telah ditetapkan dengan ukuran dan hikmah masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam hal rezeki (QS. An-Nahl: 71). Seorang muslim perlu meyakini bahwa sedikitnya rezeki tidak selalu berarti kekurangan, karena keberkahan sering hadir pada sesuatu yang sederhana. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa kekayaan sejati adalah kekayaan hati, bukan banyaknya harta. Harta pada hakikatnya merupakan ujian kehidupan; ada yang gagal ketika diberi kelimpahan, tetapi ada pula yang justru lulus ketika diuji dengan keterbatasan. Karena itu, berapanpun jumlah THR yang diterima hendaknya disyukuri dan dimanfaatkan sebagai sarana ibadah, sehingga rezeki yang mungkin tampak kecil tetap menghadirkan keberkahan yang besar dalam kehidupan penerimanya.
Akhirnya, marilah kita jadikan THR sebagai rezeki yang menumbuhkan amal. THR bukan sekadar tambahan penghasilan menjelang hari raya. Ia merupakan rezeki dari Allah Swt yang membawa pesan spiritual tentang rasa syukur, empati sosial, dan tanggung jawab moral. Jika dimaknai dengan kesadaran spiritual, maka THR dapat menjadi sarana untuk memperkuat amal, membantu sesama, serta meningkatkan kualitas ketaqwaan seseorang. Rezeki yang dikelola dengan penuh syukur tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga menumbuhkan keberkahan yang berkelanjutan. Bagi aparatur negara, terutama ASN muslim di Kemenag RI, THR seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan nilai-nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan etos kerja yang lebih baik. Sebab pada hakikatnya, rezeki terbaik adalah rezeki yang mampu menumbuhkan amal dan membawa manfaat bagi banyak hal dan personal. Allāhumma lakal-ḥamdu ‘alā mā razaqtanā, wa bārik lanā fī rizqinā waj‘alhu rizqan ṭayyiban mubārakan. Amien ya Alloh ya rabbal alamien.