REZEKI

WhatsApp Image 2025-05-27 at 13.09.58

Oleh :

Mukhtar Hadi

 

Secara Bahasa, kata “rezeki” berarti pemberian, baik yang telah ditentukan maupun tidak. Pemberian itu dapat berupa makanan, nafkah, pendapatan, keuntungan atau segala sesuatu yang digunakan untuk memelihara kehidupan. Dalam makna yang luas, rezeki diartikan sebagai hal yang memberikan manfaat kepada makhluk ciptaan Allah. Kata rezeki sendiri di dalam Al-Qur’an  disebutkan sebanyak seratus dua puluh tiga  kali baik dalam bentuk kata kerja (fi’il) maupun kata benda (isim), dengan makna yang tidak sama atau  berbeda-beda.

Kebanyakan orang memahami bahwa yang dinamakan rezeki adalah sesuatu yang diperoleh dalam bentuk uang, barang atau perdendaharaan kekayaan. Salah!, tentu tidak, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Berdasar kepada makna yang luas sebagaimana di atas, rezeki tidak hanya sekedar penghasilan berupa uang, benda atau harta, tetapi lebih dari itu semua, yaitu segala sesuatu yang memberikan manfaat kepada semua makhluk yang diciptakan oleh Sang Khaliq. Jika yang dimaksudkan dengan rezeki adalah semua yang memberikan manfaat, maka rezeki itu bisa berupa benda (materi) dan bisa berupa bukan benda (non materi).

Menurut Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi (1911-1998), seorang ulama dan mufasir dari Mesir, rezeki itu terbagi menjadi empat tingkatan. Tingkatan rezeki yang paling rendah adalah harta, lalu di atasnya dinamakan rezeki tingkat tinggi yakni berupa kesehatan, di atasnya lagi disebut tingkatan utama, yakni anak yang shaleh, dan yang paling atas sekali disebut dengan rezeki tingkatan utama, yaitu Ridha Allah SWT.

Seseorang yang bekerja membanting tulang, berangkat pagi pulang petang, terkadang sampai kepala menjadi kaki dan kaki menjadi kepala, hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, dan beberapa keping atau lembar uang, maka sesungguhnya ia sedang mengejar rezeki yang berupa harta benda. Terkadang untuk mendapatkan rezeki yang berupa harta ini banyak orang yang menghalalkan segala cara. Tidak perduli cara mendapatkannya dengan cara halal atau haram. Diantara mereka kadang-kadang saling bunuh hanya persoalan sesuap nasi dan uang receh. Karena itu, sadar dan ketahuilah, bahwa harta yang diperebutkan itu adalah rezeki dengan tingkatan yang paling rendah. Carilah dengan usaha keras, tetapi dengan cara yang wajar dan tidak keluar dari ketentuan Allah SWT. Bekerja dengan sungguh-sungguh tetapi jangan melupakan dari ibadah dan mengingat Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Rezeki yang derajatnya lebih tinggi dari sekedar harta atau uang adalah rezeki yang berupa kesehatan. Kesehatan adalah rezeki termahal yang dimiliki manusia setelah harta benda. Orang boleh berharta banyak. Memiliki uang yang berlimpah dan mungkin hampir-hampir tidak terbatas. Deposito atau uang simpanannya di bank tidak habis untuk tujuh keturunannya, asetnya dimana-mana, memiliki saham di banyak perusahaan, namun jika ia penyakitan, sakit-sakitan atau tidak sehat, maka semuanya menjadi tidak berarti. Harta yang banyak tidak bisa ia nikmati. Makanan yang lezat, pakaian dan aksesoris yang  mahal, tempat wisata yang mewah dan berkelas, semuanya tidak ada artinya bagi orang yang sakit.

Kenikmatan bagi orang yang sakit adalah kesembuhan dan kesehatan. Hanya itu saja dan tidak pada harta benda yang berlimpah. Jangan sia-siakan kesehatan, karena ia lebih berharga daripada uang atau harta. Caranya bagaimana?. Berilah asupan makanan bagi tubuh kecuali yang baik-baik saja, sehat bergizi, yang halalan toyyiban (halal dan baik). Rajin bergerak dan berolahraga serta pikiran yang tenang, bahagia, sabar, tunduk pasrah serta tawakal kepala Allah SWT. Jangan lupa berbagi dan bersedekah.

Rezeki tingkatan ketiga dan disebut rezeki utama adalah memiliki anak-anak yang shaleh dan shalehah. Anak keturunan adalah karunia dari Allah SWT. Namun berhati-hatilah karena anak keturunan bisa menjadi bencana dan fitnah bagi orang tua dan keluarganya. Banyak orang tua yang direpotkan bahkan mengalami kesengsaraan akibat dari ulah anaknya yang tidak shaleh. Dalam Bahasa Jawa ada istilah anak polah bopo kepradah, yang maksudnya adalah apa saja yang dilakukan oleh anak berupa kejahatan atau perilaku yang tidak baik, maka akan berdampak menyusahkan atau menyengsarakan orang tuanya. Sebab itu, untuk memiliki rezeki berupa anak yang shaleh maka orang tua harus mengajarkan dan membiasakan anak dengan ajaran dan nilai-nilai Islam (agama) sejak dini. Disamping itu, Rasulullah mengajarkan kepada para orang tua untuk berdoa kepada Allah SWT agar supaya memiliki anak keturunan yang menjadi Qurrata a’yun (penyejuk mata) bagi orang tua. Anak yang  bisa menjadi penyejuk mata adalah anak-anak yang shaleh dan shalehah.

Terakhir, tidak ada rezeki yang paling agung dan paling utama kecuali keridhaan Allah SWT. Tugas manusia di turunkan ke muka bumi ini adalah hanya beribadah (mengabdi) kepada Sang Pencipta. Semua bentuk pengabdian atau ibadah adalah semata-mata mengharapkan keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu, apapun yang dimiliki manusia, baik berupa harta benda, paras yang rupawan, jabatan dan kekuasaan, anak keturunan yang banyak, dan lain sebagainya, tidak ada artinya tanpa kerelaan dan keridhaan Allah SWT. Para arif dan abid (ahli ibadah), sering menangis tersedu-sedu dan berurai air mata mengharap dengan cemas supaya ibadah dan amalan yang dilakukan mendapatkan keridhaan Allah.  Mereka takut dan khawatir kalau-kalau ibadahnya dan pengabdiannya ditolak dan tidak diterima. Sangat wajar, jika keridhaan Allah adalah rezeki yang paling utama dan puncak dari segala rezeki. Ya Allah, Ya Rozzaq. (mh.27.05.25).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.