Sampah Makanan dan Nilai-Nilai Humanisme

14IMG20190418114325

Seberapa sering anda menyisakan makanan saat anda makan di rumah makan,
di warteg atau di tempat-tempat makan lainnya? Mungkin menyisakan makanan di
atas piring adalah hal yang pernah dilakukan oleh banyak orang, dan bahkan bisa
jadi semua orang pernah melakukan hal tersebut dengan berbagai alasan yang
variatif. Pernahkan kita berfikir tentang bagaimana kelanjutan dari sisa makanan
yang kita tinggalkan di atas piring tersebut?


Karena alasan sudah kenyang, tidak enak, tidak selera makan atau dengan
alasan lainnya, banyak orang tidak menghabiskan makananya, dan membiarkan
makanan tersebut menjadi sampah. Sampah makanan kerap kita temui terutama di
rumah makan, warung makan, terlebih saat ada pesta pernikahan dan pesta-pesta
lainya.


Bisa kita observasi sendiri, melihat bagaimana banyak orang menyisakan
makanan di piringnya. Terutama saat acara-acara pesta. Pernahkan kita datang di
sebuah pesta pernikahan misalnya? Mungkin di rumah tetangga, atau saudara.
Tentu kita banyak melihat sisa-sisa makanan dari para tamu undangan yang
kemudian dibuang oleh petugas kebersihan pada pesta tersebut.


Berdasarkan banyak pengamatan yang pernah penulis lakukan, bukan hanya
sampah makanan yang berupa nasi sayur dan lauk-pauk yang banyak terbuang,
Melainkan kue-kue seperti roti dan lain-lain di dalam mika (kotak kue) serta
sudah sisa dan tergeletak di bawah kursi-kursi tamu, banyak dibuang begitu
saja. Tentu ini adalah hal miris bagi sebagian orang yang melihatnya, dan
krusial untuk segera diselesaikan.


Budaya kemubaziran semacam itulah yang kemudian jarang terfikirkan pada
banyak orang. Memang menyisakan makanan di atas piring adalah hal yang kecil
dan sepele. Namun, apabila itu terjadi secara kolektif, maka bukan lagi soal
sisa makanan di atas piring, melainkan sampah makanan yang bisa mencapai satu
ember hingga satu tong. Apabila sampah makanan sudah mencapai satu ember hingga
satu tong, maka berapa porsi makanan yang sudah terbuang dengan sia-sia, yang
apabila tidak terbuang, tentu dapat bermanfaat bagi mereka yang miskin dan
kelaparan di luar sana.


Sadarlah, saat kita makan di suatu acara pesta, dengan berbagai hidangan
yang mewah, namun kita tidak menghabiskan makanan sehingga menjadi sampah
makanan, sedangkan di luar sana banyak orang yang kelaparan. Bukankah lebih
baik makan dengan porsi yang tidak terlalu mengenyangkan bagi kita, dibanding
menyisakan makanan di piring, yang sebenarnya itu bisa dimanfaatkan untuk orang
lain.


Bukankah Islam sendiri telah mengajarkan kepada seluruh pemeluknya
melalui QS. AL-A’Raf : 31 yang artinya “ Makan dan munumlah kalian, namun
jangan berlebih-lebihan (boros), karena Allah tidak mencintai orang-orang yang
berlebih-lebihan”.


Kemudia dalam QS. Thaha:81 yang artinya “ Makanlah di antara rezeky baik
yang kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan
kemurkaanku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa oleh kemurkaanku maka
sesungguhnya binasalah ia”.


Makan dan minum dengan tidak melampaui batas sudah jelas secara eksplisit
diterangkan dalam Al-Qur’an yang merupakan kitab suci Islam. Maka sungguh,
agama sendiri sudah mengajarkan secara tidak langsung tentang bagaimana kita
meminimalisir adanya sampah makanan. Menyisakan makanan di atas piring adalah
tindakan melampaui batas dan menyebabkan kemubaziran, dan diancam dengan
kemurkaan Allah.


Dalam QS. Al-Isra’:26-27 Allah SWT. Berfirman “ dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat hak mereka dan kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.


Dalam ayat di atas menyimpan nilai-nilai kemanusiaan yang begitu kuat.
Bagaimana Allah mengajarkan kepada manusia untuk saling memperhatikan antara
satu sama lain. memperhatikan keluarga, orang miskin dan orang yang sedang
dalam perjalanan, dengan bentuk memberikan hak-haknya secara penuh.


Mungkin hak mereka salah satunya adalah makan. Untuk itu, dalam membantu
memenuhi hak-hak mereka, kita diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dan tidak
menghambur-hamburkan harta secara boros. Melainkan, lebih baik diberikan kepada
keluarga, orang miskin atau orang yang dalam perjalanan, yang tentunya mereka
lebih membutuhkan.


Harta secara devinitif, singkatnya adalah sesuatu hal yang dibutuhkan dan
diperoleh manusia dan kemudian dapat dimanfaatkan. Maka dari itu, tidak mentup
kemungkinan makanan yang kita makan adalah harta. Dengan begitu,
menghambur-hamburkan makanan secara boros termasuk yang ditegur dalam QS.
Al-Isra’:26-27.


Oleh karenanya, untuk menghindari tersisanya makanan di atas piring, maka
ambillah makanan secukupnya, dengan kapasitas yang menurut kita tidak terlalu
mengenyangkan, namun sedang saja. Karena, semakin banyak kita tidak menyisakan
makanan di atas piring, maka akan semakin banyak makanan yang tidak terbuang,
dan dapat bermanfaat bagi mereka yang lebih membutuhkan, dibandingkan terbuang
sia-sia.


Kita harus ingat, di luar masih banyak yang kelaparan, kekurangan makanan,
kekurangan gizi sampai busung lapar, namun kita sendiri malah membuang-buang
makanan hingga menjadi sampah makanan. itu merupakan tindakan yang sangat
mengenyampingkan nilai-nilai humanisme.


Semakin banyak kita menyisakan makanan di atas piring, dan membuangnya
hingga menjadi sampah makanan, maka semakin menunjukkan ketidak pedulian mereka
yang miskin dan kelaparan, dan semakin kita tidak memperhatikan nilai-nilai humanisme.
Meski kecil, namun hal ini cukup penting untuk diperbincangkan dan segera direspon
positif dalam menghindari kemubaziran, dan mengoptimalkan efektivitas makanan
untuk nilai-nilai humanisme.

Penulis : WEPO


 


"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.