Santri Generasi Now

14alpan

 

Sebagai
seorang musafir yang mencari secuil ilmu di Kota Pendidikan ini, kota Metro,
kotanya para pecandu ilmu. saya merasa bertanggung jawab untuk menyumbangkan
apa pun yang bisa diberikan kepada Kota Pendidikan ini. Tidak peduli sekecil
apa pun, mau pun sebesar apa pun bentuk sumbangsih yang diberikan. Saya merasa
ingin sekali  mengobati rasa yang tidak
karuan di dalam jiwa, rasa yang begitu menggebu dan membahana dalam jiwa seakan
mau meledak. Begitu yang saya rasakan saat ini, maka tulisan ini akan sayas
sumbangkan tulisan ini untuk pembaca di Kota pendidikan khususnya dan umumnya
seluruh pembaca yang budiman, yang jelita dan menawan yang sedia menyimak
tulisan ini.

Kita
tahu bersama, bahwa kemarin sampai hari ini, khalayak ramai sedang asyik
membincangkan "Hari Santri Nasional" yang jatuh pada tanggal 22 Oktober
berdasarkan ketetapan pemerintah melalui Keppres nomor 22 tahun 2015. Di negeri
ini, tidak sedikit yang menggelar acara penyambutan hari santri nasional yang
sudah tertulis dalam kalender-kalender nasonal yakni pada hari minggu, 22
Oktober 2017.

Pagelaran
penyambutan hari santri nasional pun diadakan dan sangat beragam di setiap
wilayah mau pun lembaga pendidikan dan instansi lainnya. Ada yang menggelar
upacara bendera hari santri, dengan mengenakan pakaian ala santri, ada yang
seharian beraktifitas memakai pakaian ala santri, ada juga yang menyambutnya
dengan acara khatmil Qur'an, dzikir dan do'a untuk negeri secara bersama-sama.
Semuanya, sah-sah saja selama tujuan dan bentuk kegiatan tersebut bersifat
positif. Lantas para jurnalis menyabut hari santri lewat narasi juga
dihalalkan, sah-sah saja, maka penulis mencoba mengungkapkan buah pikir kepada
pembaca.

KH.
Ahmad Mustofa Bisri atau lebih familiar dengan panggilan Gus Mus pernah
mengatakan santri itu adalah orang Indonesia yang beragama Islam bukan orang
Islam yang kebetulan di Indonesia. Dengan ini penulis lebih percaya diri (PD)
untuk mengaku sebagai santri dan merasa lega sebab menurut pemahaman yang
berkembang di kebanyakan masyarakat sekarang, santri itu ya orang yang
mengenyam pendidikan di pondok pesantren atau dengan kata lain orang yang
mendalami ilmu agama, nyantri dan belajar kalam Illahi.

Saya
adalah santri sebab saya warga negara Indonesia yang beragama Islam. Saya
sendiri lebih setuju dengan ungkapan Gus Muh mengenai arti santri. Sebab
sebagai umat muslim yang berpedoman hidup dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah maka
merupakan suatu keharusan dan kewajiban untuk mendalami berbagai ilmu termasuk
ilmu agama. Pemikiran logisnya seperti ini "untuk memahami agama pastilah
memerlukan ilmu dan orang yang beragama Islam kemudian menjalankan syariat
Islam. Jadi saya santri, kamu santri dan mereka juga santri ketika beragama
Islam dan orang Indonesia.

Begitulah
interpretasi kata santri menurut penulis dengan menggunakan dan menghubungkan
dengan beberapa pendapat yang sesuai guna menguatkan makna santri menurut
penulis. Namun sebenarnya, interpretasi kata santri sendiri dapat saja berbeda
ketika sudut pandang yang menjadi subjeknya juga berbeda. Hal demikian bukanlah
masalah (problem) yang terpenting bukan apa arti kata santri, namun apa peran
santri masa ini, para remaja kekinian menyebutnya era generasi Now.

Penulis
mengajak para pembaca untuk sedikit mengulas kembali sejarah 22 Oktober untuk
melihat peran santri bagi negeri ini, negeri yang penulis cintai. Selain itu,
hal ini merupakan yang fundamental kenapa ditetapkanya hari santri nasional
pada tanggal 22 Oktober. Simaklah ulasan singkatnya.

Setelah
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamirkan oleh
presiden Soekarno pada 17 Agustus 1945, perjuangan untuk mengamankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terus berlanjut karena belum sepenuhnya aman
dari penjajah. Sebab melimpahnya kekayaan yang dimiliki negeri ini, menjadi
medan magnet bagi para penjajah yang sudah pergi untuk datang menjajah kembali.

Tepatnya
pada tanggal 22 Oktober 1945 pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari mencetuskan resolusi
jihat yang berbunyi "Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu'ain atau
wajib bagi setiap individu." Resolusi ini sukses menyulut semangat arek-arek
santri surabaya untuk mengusir tentara sekutu yang di boncengi NICA. Sehingga
terjadilah pertempuran antara arek-arek santri Surabaya dan tentara sekutu
selama tiga hari (27, 28, 29) Oktober 1945, pertempuran tersebut mengakibatkan
tewasnya Jenderal A.W.S Mallaby dan lebih dari 2000 pasukan Inggris. Hal
tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, selanjutnya banyak terjadi
perlawanan-perlawanan bangsa Indonesia terhadap tentara sekutu hingga berujung
pada peristiwa 10 November 1945, dan pada tanggal tersebut diperingati sebagai
hari Pahlawan.

Kita
patut bersyukur atas gagasan brilian yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari
untuk  membuat resolusi jihat, kendati
ini bukan peristiwa pertempuran besar namun hal ini adalah bentuk perlawanan
pertama terhadap tentara sekutu pasca proklamasi kemerdekaan dan kemudian
menyulut perlawanan diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
untuk mengusir tentara sekutu yang diboncengi NICA atau bisa dikatakan
menseterilkan bumi nusantara dari kekuasaan bangsa lain.

Saya
melihat peristiwa tersebut merupakan manifestasi yang nyata atas pentingnya
santri dalam menjaga keamanan dan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Selain itu,
sikapnya yang berani serta kritis dan tegas dalam mengusir tentara sekuta dan
NICA yang berniat menguasai NKRI adalah karakteristik santri yang sangat baik
(par excellent). Mereka berani berjuang dan mau berkorban bukan untuk dirinya
sendiri, melainkan untuk terjaganya kemerdekaan NKRI atau dapat dikatakan
berjuang demi kepentingan masal.

Bercermin
dari peristiwa 22 Oktober 1945 seharusnya semua santri mulai siuman akan peran
mereka terhadap negeri ini. Saat ini, para penjajah bermunculan kembali namun
dalam jasad yang berbeda dengan ruh yang sama yaitu ingin menguasai NKRI demi
tercapai kepentingannya. Berikut ini wujud penjajahan generasi Now diantaranya
hegemoni negara adikuasa, penguasaan modal berupa kapitalisme global.

Dampaknya
sangat jelas di mata, rakyat yang melarat semakin terpuruk, pasalnya yang kaya
berkemampuan dan berkuasa untuk meningkatkan kekayaanya. Walaupun setiap tahun
angka kemiskinan dapat ditekan, namun realita berkata lain, sebenarnya
kesejahteraan hanya dinikmati oleh minoritas dan kemiskinan menjadi milik
mayoritas. Mereka yang berteman baik dengan para penjajah dari luar menjadi
kaum borjuis yang ikut menjajah negeri sendiri. Hal ini begitu miris, mereka
dengan sadar melacurkan tempat tinggalnya, mengorbankan saudara sebangsa dan
setanah airnya guna kepentingannya sendiri. Sebut saja para koruptor, penguasa
yang sewenang-wenang, pebisnis yang menghalalkan segala cara dan lain
sebagianya.

Penulis
teringat sebuah ucapan dari seorang penulis yang bijak, namanya Rahmatull Umah,
begini beliau menuturkan "Apakah adil anak yang baru belajar karate kemudian
ditandingkan dengan anak yang sudah mahir karate, inilah perumpamaan rakyat
Indonesia, mereka para pedagang kecil dibiarkan bersaing dengan para pedagang
bermodal besar di pasar". Intinya jika kita sedikit lebih peka dan mau berfikir
tentang orang lain, ternyata di negeri ini banyak kesewenangan yang menindas
nasib orang lain, atau kita juga termasuk pelakunya?. Jawab saja sendiri,
penulis pergi membuang pena dan meneriakan pendapatnya sebagai berikut.

Wahai
para santri di Bumi Pertiwi, dulu kau begitu humanis, kritis dan peduli akan
permasalahan-permasalahan negeri. Melalui peringatan Hari Santri Nasional pada
tanggal 22 Oktober 2017 ini, menjadi refleksi untuk menyulut semangat resolusi
jihat dalam rangka memerdekaan NKRI dari penindasan dan kesewenangan para
penjajah dalam negeri maupun dari luar negeri. Era sudah berubah, namun
penjajah ya tetap penjajah, perlawanan sangat dibutuhkan dengan bentuk dan cara
yang lebih kreatif dan inovatif, bukan menggunakan pedang dan peluru. Generasi
now lebih membutuhkan perlawanan secara intelektualitas maka jangan batasi ilmu
yang kau pelajari. Saya mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional jadilah
Santriwan dan Santriwati yang par excellent.

 

Penulis
: Elvan Firmansyah

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.