Satu Belanja, Seribu Silaturahmi: Mengapa Warung Tetangga Perlu Didahulukan (Perspektif Psikologi Keummatan dalam Perilaku Konsumsi)

17. cover Menjaga Kesucian Sejak Awal baju baru

metrouniv.ac.id – 11/03/2026 – 21 Ramadan 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Menjelang hari raya Idul Fitri, denyut kehidupan masyarakat muslim semakin terasa. Rumah-rumah mulai dibersihkan, hidangan lebaran dipersiapkan, dan kebutuhan sehari-hari meningkat. Dalam situasi ini, banyak orang berbondong-bondong berbelanja melalui marketplace dan toko online. Kemudahan teknologi memang memberikan banyak manfaat, namun di balik itu terdapat satu realitas sosial yang sering terlupakan: kehadiran warung tetangga yang menggantungkan harapan pada pembeli dari lingkungan sekitarnya. Dalam perspektif Islam, aktivitas ekonomi tidak hanya dipahami sebagai transaksi material semata, tetapi juga sebagai ruang membangun ukhuwah, empati, dan solidaritas sosial. Bahkan satu tindakan sederhana seperti berbelanja di warung tetangga dapat menjadi jalan memperkuat silaturahmi dan kepedulian sosial. Inilah yang dapat disebut sebagai psikologi keummatan dalam perilaku konsumsi, sebuah kesadaran bahwa pilihan ekonomi seorang muslim tidak terlepas dari tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya.

 Konsumsi dalam Islam: Lebih dari Sekadar Transaksi Ekonomi

Dalam pandangan Islam, konsumsi tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan individu, tetapi juga memiliki dimensi moral dan sosial. Seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan dampak dari setiap tindakannya terhadap orang lain. Allah SWT berfirman:

وَاعۡبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُوۡا بِهٖ شَيۡــًٔـا‌ ؕ وَّبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا وَّبِذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَ الۡمَسٰكِيۡنِ وَالۡجَـارِ ذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡجَـارِ الۡجُـنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالۡجَـنۡۢبِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنۡ كَانَ مُخۡتَالًا فَخُوۡرا ٣٦

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan tetangga yang dekat serta tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36).

Ayat ini menunjukkan bahwa tetangga memiliki kedudukan penting dalam struktur sosial Islam. Mereka bukan sekadar orang yang tinggal berdekatan secara geografis, tetapi juga bagian dari jaringan sosial yang harus diperhatikan hak-haknya. Ketika seorang muslim memilih untuk berbelanja di warung tetangganya, ia tidak hanya membeli barang, tetapi juga menjaga keseimbangan ekonomi komunitas kecil di sekitarnya.

Psikologi Keummatan: Empati dalam Perilaku Konsumsi

Dalam kajian psikologi sosial Islam, terdapat konsep ukhuwah dan empati sosial yang mendorong seseorang untuk memikirkan kesejahteraan orang lain. Sikap ini sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang menekankan solidaritas antar sesama. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”.(HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini tidak hanya berbicara tentang kasih sayang emosional, tetapi juga solidaritas dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas belanja, seorang muslim dianjurkan untuk mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Warung kecil milik tetangga seringkali menjadi sumber penghidupan utama bagi sebuah keluarga. Setiap pembelian yang kita lakukan di sana bisa menjadi penopang ekonomi rumah tangga mereka. Dari sudut pandang psikologi keummatan, tindakan ini mencerminkan “altruisme sosial”, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa harus menunggu keuntungan langsung bagi diri sendiri. 

Hak-Hak Tetangga dalam Ajaran Islam

Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan bertetangga. Bahkan Nabi Muhammad SAW sering mengingatkan umatnya tentang pentingnya menjaga hak-hak tetangga. Rasulullah SAW bersabda: “Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku tentang tetangga, hingga aku mengira tetangga akan mendapat bagian warisan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya posisi tetangga dalam kehidupan seorang muslim. Mereka adalah orang yang paling dekat dengan kita dalam kehidupan sehari-hari. Ketika terjadi musibah, merekalah yang pertama kali mengetahui dan seringkali menjadi penolong pertama. Karena itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sosial, termasuk dalam aktivitas ekonomi.

Warung Tetangga sebagai Ruang Silaturahmi Sosial

Warung kecil di lingkungan perumahan atau kampung sebenarnya memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat jual beli. Ia sering menjadi “ruang interaksi sosial” tempat orang bertemu, berbincang, dan saling mengenal. Dalam perspektif psikologi komunitas, interaksi seperti ini memiliki dampak penting, antara lain memperkuat rasa kebersamaan, membangun kepercayaan sosial, menciptakan solidaritas antar warga, dan meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan. Ketika masyarakat lebih memilih belanja secara online tanpa interaksi sosial, secara perlahan hubungan sosial dalam komunitas bisa menjadi semakin renggang. Warung tetangga sebenarnya menjadi salah satu simpul sosial yang menjaga kehangatan kehidupan bermasyarakat.

Menjelang Lebaran: Momentum Menghidupkan Solidaritas Tetangga

Menjelang hari raya Idul Fitri, kebutuhan masyarakat meningkat. Bagi pemilik warung kecil, momen ini sering menjadi harapan besar untuk mendapatkan tambahan penghasilan setelah menjalani bulan Ramadan. Di banyak kampung dan perumahan, pemilik warung tetangga menaruh harapan sederhana: agar warga sekitar tetap berbelanja di tempat mereka. Dalam konteks ini, berbelanja di warung tetangga dapat menjadi “amal sosial yang sederhana tetapi bermakna besar”. Sebab satu pembelian kecil bisa membantu perputaran ekonomi keluarga mereka. Allah SWT berfirman: “Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menegaskan bahwa kerja sama dalam kebaikan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Penutup: Belanja yang Menguatkan Ukhuwah

Akhirnya mari kita menjadi orang yang mengambil bagian untuk andil dalam Gerakan belanja di warung tetangga. Sudah dimafhumi bahwa di era digital, kemudahan belanja online memang tidak dapat dihindari. Namun sebagai umat yang memiliki nilai-nilai sosial yang kuat, kita perlu menjaga keseimbangan antara kemudahan teknologi dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kadang-kadang langkah kecil seperti membeli gula, kopi, atau kebutuhan dapur di warung tetangga memiliki makna sosial yang sangat besar. Ia bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi juga bentuk perhatian, empati, dan silaturahmi. Satu belanja mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan seribu nilai persaudaraan. Karena itu, menjelang lebaran ini, mungkin sudah saatnya kita kembali menghidupkan semangat lama yang penuh makna. “Ya Allah, satukanlah hati para tetangga kami, jadikan di antara kami kasih sayang dan rahmat, karuniakan kepada kami akhlak yang baik dan sikap bertetangga yang baik, jauhkan kami dari permusuhan dan kebencian, serta jadikan lingkungan kami aman dan tenteram, wahai Tuhan seluruh alam.” Amien ya Alloh ya mujibassailin.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.