metrouniv.ac.id – 18/02/2025 – 19 Sya’ban 1446 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Alhamdulillah kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT akan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan 1446 H. Tanpa Ridha dan perkenan-Nya, belum tentu kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan ini. Masih ingat dalam pelupuk mata, orang-orang yang di bulan suci Ramadhan tahun lalu bertemu dan shalat tarawih dengan kita di Ramadhan tahun ini sudah tidak bisa ditemui lagi. Orang-orang itu bisa saja sahabat, tetangga, orang tua, anak, adik, kakak atau kerabat-kerabat lainnya. Tahun yang lalu masih bersama, namun tahun ini sudah tidak bersama lagi karena sudah dipanggil duluan oleh Allah SWT.
Tidak ada kata yang sepantasnya diucapkan kecuali rasa syukur kehadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan waktu dan kesempatan, kesehatan dan umur sampai saat ini sehingga kita dipertemukan lagi dengan bulan suci Ramadhan. Ramadhan adalah Penghulu segala bulan, bulan terbaik dibandingkan bulan-bulan lainnya, bulan yang penuh keberkahan, bulan maghfirah (ampunan), dan bulan yang segala amal kebaikan di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Bersyukur tiada akhir dan tiada henti karena nikmat yang diberikan Allah SWT yang tidak terperi dan terkira yaitu nikmat umur dan kesehatan. Jadikan Ramadhan sebagai penanda usia dan pemberian kesempatan dari Allah kepada kita untuk bertaubat, beribadah dan beramal shaleh.
Rasulullah SAW mencontohkan, salah satu cara menyambut bulan suci Ramadhan adalah dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Puasa di bulan Sya’ban dimaksudkan sebagai persiapan untuk membiasakan diri berpuasa dan melatih fisik agar nanti ketika bertemu dengan bulan Ramadhan kita sudah siap baik secar fisik jasmaniah maupun rohaniah. Sebab itu ketika bulan Sya’ban, Nabi berpuasa sunah labih banyak dibandingkan dengan puasa sunah di bulan lainnya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits.
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam, Ya Rasulullah, saya belum pernah melihat Engkau berpuasa pada satu bulan lebih banyak dari bulan-bulan lainnya sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?, Rasulullah SAW menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang sering dilupakan manusia yaitu antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa” (HR. An-Nasa’i).
Ramadhan laksana tamu agung yang merupakan kehormatan bagi siapapun yang diberikan kesempatan untuk menerima tamu agung tersebut. Ibaratnya, seseorang yang mendapatkan informasi akan kedatangan tamu agung ke rumahnya dipastikan akan mempersiapkan segala sesuatu sebelum tamu agung itu datang dengan sebaik-baiknya. Dia akan persiapkan rumahnya dengan berberes membersihakannya. Kalau ada sampah, kotoran atau sarang laba-laba yang menempel di dinding rumah, maka akan ia bersihkan. Kalau perlu dicat dinding rumah yang sudah mulai kusam. Tidak lupa dia hias rumahnya dengan hiasan yang sedap dipandang mata. Kursi tamu dibersihkannya, jika mampu akan ia ganti dengan kursi yang baru. Harapannya sang tamu nanti akan senang dan gembira, sang tamu juga akan memiliki kesan yang mendalam terhadap sang Tuan Rumah. Sang tuan rumah juga akan senang dan bangga karena rumahnya telah disinggahi oleh tamu yang agung.
Begitulah seharusnya kita menyambut tamu agung. Itulah sebabnya telah menjadi tradisi masyarakat muslim Indonesia, denyut nadi datangnya bulan Ramadhan biasanya sudah terasa satu dua bulan sebelumnya. Masjid atau musholla dibersihkan, karpet atau tikar dibersihkan, pengeras suara diperbaharuai atau direparasi, khawatir nanti pas Ramadhan tidak berfungsi dengan baik. Beberapa masyarakat melaksanakan tradisi Punggahan, yaitu bersedekah yang diikuti doa keselamatan agar kiranya disampaikan umurnya sampai bulan Ramadhan dan bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik. Para pedagang sibuk kulakan, mempersiapkan stok barang kebutuhan pokok maupun kebutuhan lebaran agar kebutuhan masyarakat terpenuhi. Dalam konteks Ramadhan, semua itu dipahami sebagai bentuk rasa syukur dan bahagia bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan.
Berbahagialah menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Jangan sebaliknya, malah bersedih dan gundah gulana. Sebab ada orang-orang yang menyambut Ramadhan dengan kesedihan. Dia bersedih karena membayangkan Ramadhan berarti bertambahnya pengeluaran bagi keluarganya. Sudah mulai berhitung dan membuat daftar menu untuk sahur dan berbuka. Agenda buka puasa bersama di restorant atau café. Menghitung buget untuk beli baju lebaran, kue lebaran, angpao yang harus dibagi, sewa kendaraan untuk mudik atau pulang kampung, dan sebagainya.
Ramadhan dan lebaran esensinya bukan itu semua. Esensi Ramadhan adalah kesempatan memperbanyak ibadah karena ibadah kita dilipatgandakan pahalanya di bulan itu. Bukan soal mau sahur dan berbuka apa. Esensi lebaran adalah kemenangan, yaitu kemenangan setelah kita menyelesaikan puasa selama satu bulan penuh dan melaksanakan ibadah fardhu dan ibadah sunah Dengan demikian berbelanjalah selama Ramadhan baik untuk makan atau yang lainnya secara proporisonal dan kewajaran saja. Pun untuk hari kemenangan, persiapkan dan lakukan dengan sewajarnya saja. Jangan hal-hal yang esensial dan subtansial dikalahkan dengan hal yang kulit permukaan semacam menu buka dan sahur serta soal baju lebaran. Berbahagialah orang yang dipertemukan kembali dengan Bulan Suci Ramadhan. Wallahu’alam bishawab. (mh.18.02-25).