metrouniv.ac.id – Ahad 15/08/2022 _ 17 Safar 1444 H
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)
“Signs and symbols rule the world, not words nor laws.” Confucius
Dalam teori simbol, angka, kata, warna, peristiwa, foto, persona (individu), sejatinya adalah sebuah simbol. Menjadi simbol, jika di balik yang terlihat, ada konsep, makna, ide yang menyertainya. 13 bukan sekedar angka. Bagi masyarakat tertentu, ia adalah perlambang kesialan. Namun bagi masyarakat lainnya, 13 adalah simbol keberuntungan (lucky number). Membakar sebuah foto boleh jadi lumrah. Namun jika yang dibakar adalah foto seorang pemimpin organisasi, dan dilakukan secara terbuka, pembakaran tersebut bisa menyebabkan konflik. Itu karena sang pemimpin adalah simbol dari nilai-nilai yang dianut oleh anggota organisasi. As such, bukan hanya warna, angka, kata, peristiwa yang terkategori sebagai simbol. Individu adalah juga sebuah simbol. Tetapi mungkin, dengan sistem kerja khas.
Jika ada individu yang konsisten membicarakan, menuliskan, dan mempraktikkan ide atau prilaku tertentu, ia berpeluang menjadi simbol dari ide dan prilaku tertentu itu. Misal, mereka yang kerap berbicara tentang Pengabdian Masyarakat; sering menulis berkaitan dengan Pengabdian Masyarakat; dan melakukan aksi konkrit-kontributif terhadap Pengabdian Masyarakat, akan berpeluang menjadi simbol pejuang Pengabdian Masyarakat. Thus, cukup aman untuk menyatakan bahwa etape menuju sebuah simbol yang solid adalah bil lisan, bil kitabah, dan bil haal. Patut dicatat. Sangat mungkin, etape ini bukan kemungkinan satu-satunya. It is just a probability, not a certainty.
Bil lisan. Gagasan disampaikan secara lisan. Cenderung dilakukan berulang dalam setiap kesempatan yang ada. Diutarakan dalam balutan struktur bahasa dan diksi yang sederhana. Ide atau konsep disajikan untuk pengalaman auditori. Pendengar cenderung mendapat pengetahuan melalui indera pendengaran. Cukup ideal sebagai tahap awal pegenalan gagasan. Namun tetap memiliki celah kekurangan. Dalam penyampaian lisan, pendengar tidak dapat mengontrol kecepatan pembicara. Informasi yang terlewat, sukar ditelusuri. Informasi yang didapat cenderung mudah hilang, karena penyimpanan (retensi) hanya mengandalkan ingatan.
Bil kitabah. Ide dibangun melalui tulisan. Pembaca menyerap informasi secara visual, berdasar kecepatan individual. Informasi yang terlewat, mudah ditelusuri. Daya simpan terhadap informasi (retensi) bisa sangat panjang. Mengikuti kata pepatah: tulisan yang paling kabur cenderung lebih kuat daripada ingatan yang paling tajam. Narasi yang dihafal akan terkubur seiring kematian penghafalnya. Narasi yang ditulis akan terus hidup meski penulisnya telah wafat. Namun begitu, pembaca dan penulis perlu berada pada level kebahasaan yang relatif sama. Pembaca handal akan kerepotan membaca karya penulis yang tidak mengindahkan gramatika dan kaidah penulisan. Pun penulis yang cermat, belum tentu karyanya bisa langsung dapat dipahami atau dinikmati oleh pembaca pemula. Artinya, diperlukan precondition, prasyarat. Baik penulis atau pembaca perlu menguasai kaidah bahasa tulis.
Bil haal. Gagasan dikonkritkan melalui tindakan. Mengamalkan apa yang kerap diucapkan. Mencontohkan apa yang sering dituliskan. Ide, gagasan, dan konsep disajikan secara kinestetik. Melanjutkan tahapan ‘ilmul yaqin dan ‘ainul yaqin ke tahapan haqqul yaqin. Tidak berhenti pada, misalnya, memberi orasi tentang pentingnya akreditasi. Tidak terpaku pada menulis dan sharing pesan terkait urgensi akreditasi. Tetapi, misalnya, terus melaju melakukan publikasi dan kerjasama internasional karena diyakini konkrit-kontributif terhadap akreditasi.
Lisan, tulisan, dan tindakan. Auditori, visual, dan kinestetik. ‘Ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, haqqul yaqin. Siklus yang memungkinkan setiap individu menjadi sebuah role model, dan akhirnya menjadi sebuah simbol yang solid.
Dan, simbol teramat penting bagi filsuf semacam Confucius yang meyakini “Bukan kata. Bukan pula hukum yang mengatur dunia ini. Melainkan simbol.” Niscaya, individu-individu yang menjadi simbol moderasi, akan mengatur dunia ini ke arah harmoni, respek, dan persatuan.