Sketsa Hybrid Learning

bg dashboard HD

Dedi Irwansyah (Kepala Pusat
Penelitian dan Penerbitan IAIN Metro)

 

Untuk interval waktu yang cukup panjang, ada masanya
kata ‘surat’ mudah ditemukan dalam lirik lagu Indonesia. Sebut saja lagu Fatwa Pujangga (Victor Hutabarat), Surat
Cinta
(Vina Panduwinata), atau Kangen (Dewa 19). Lalu, datang masa di
mana kata ‘surat’ meredup tergantikan oleh istilah-istilah berbau teknologi.
Kata-kata semacam SMS, facebook, BBM,
gadget
ditemukan memberi warna pada banyak lirik. Serupa meski tak sama,
obrolan di dunia pendidikan pernah sangat diwarnai oleh diksi semisal fotocopy dan Over Head Projektor (OHP) yang lalu, dalam banyak kasus,
tergantikan oleh soft file dan Powerpoint Typical Presentation (PPT).
Perubahan yang mewarnai masa demi masa itu, ada kaitannya dengan perkembangan
teknologi.

Guna menyelami dimensi teknologi dalam kegiatan
pembelajaran, penulis menyusun angket
sederhana dan mendistribusikannya kepada mahasiswa di akhir perkuliahan. Ada
tiga pertanyaan utama di dalam angket. Pertama,
tentang impresi responden terhadap perkuliahan online. Dari 81 responden,  38,3%
berkesan melelahkan; 33,3% menantang (challenging);
14,8% membosankan; dan hanya 13, 6% menyenangkan. Kecenderungan perkuliahan online dipersepsi minor karena beban
tugas yang lebih menggunung dibanding perkuliahan tatap muka atau  face to
face
(F2F).  Perkuliahan online juga direspon negatif karena  materi ajar lebih sukar
dicerna akibat penggunaan metode ceramah secara online. Walhasil, perkuliahan online
(atau remote learning, e-learning, virtual class) tampak menyisakan ‘pekerjaan rumah’ bagi para
pengajar agar dapat mereformulasi strategi-strategi pedagogik yang bertalian
dengan pemberian tugas dan penyajian materi ajar.

Kedua,
tentang preferensi platform pembelajaran online.
Hasil menunjukkan 48,1%  responden
memilih Google Meet; 21% Youtube Channel; 19,8% Zoom Meeting; 8,6% Podcast; dan
2,5%  Blogspot. Google Meet dan Zoom
Meeting memungkinkan interaksi langsung secara audio dan visual. Sifatnya yang synchronous, di mana guru dan pebelajar hadir di waktu yang bersamaan di sebuah ruang
virtual, memudahkan pengajar mengadopsi metode pembelajaran yang biasa
dilakukan secara luring atau F2F. Sebaliknya,
Youtube, Podcast, dan Blogspot memiliki karakteristik asynchronous. Dosen dan mahasiswa tidak perlu berada di waktu yang
sama. Mahasiswa dapat mengakses
konten yang dikreasi oleh dosen kapan saja dan dari mana saja. Pada titik inilah
perkuliahan online menjadi
menguntungkan. Materi ajar yang dikemas dalam bentuk Podcast dan Youtube,
misalnya, dapat diunduh, diputar berulang-ulang (sampai paham), ditonton atau
didengarkan (juga secara berulang-ulang hingga jenuh), sambil jogging pagi hari, menunggu warung, membantu
orang tua di ladang, mencuci piring, dan lain sebagainya. Pendek kata, materi perkuliahan
yang dikemas secara asynchronous, membuka
pintu multitasking. Dan, mahasiswa pun
akan dapat melakukan dua kegiatan, atau lebih, pada rentang waktu yang sama.

Ketiga, tentang model pembelajaran yang paling disukai.
Hasilnya, 8,6% untuk perkuliahan online; 39,5%
untuk perkuliahan tatap muka; dan 51,9% untuk kombinasi antara tatap muka dan online. Menarik, di balik kejenuhan
terhadap perkuliahan online, sebagian
mahasiswa merindukan perkuliahan tatap muka, dan mayoritas menyuarakan
kombinasi antarkeduanya (hybrid learning).
Apapun model perkuliahan, yang menjadi respon terhadap perkembangan pandemi
Covid-19 nantinya, penulis melihat peluang 
besar pengembangan materi belajar yang bersifat asynchronous. Tanpa harus menjadi youtuber atau podcaster, para
dosen perlu mencoba merambah dua kanal komunikasi tersebut.

Sebagai penutup. Mungkin
benar jika sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.
Mungkin benar bahwa setiap warna ada masanya dan setiap masa ada warnanya.
Mungkin benar bahwa kata ‘surat’ semakin jarang ditemukan dalam lirik lagu masa
kini sebagai imbas dari laju pesat teknologi. Namun, patut dicatat bahwa justru
teknologi pula yang melejitkan lagu bertajuk Surat Cinta untuk S****a. Mungkin cukup benar untuk mengatakan
bahwa konten atau materi ajar konvensional akan selalu mendapat tempat, dan
akan berpeluang memiliki jangkauan lebih luas bagi para digital natives atau finger
generation
ketika disepuh dengan magis teknologi.

Metro 20 Januari
2021
 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.