Oleh
Dedi Irwansyah
Untuk sebagian orang, Islam tidak lebih dari kumpulan aturan dan larangan.
Namun, bagi mereka yang memahami, Islam adalah visi hidup yang sempurna.
[Yasmin Mogahed]
Ini hanyalah refleksi tentang visi socio-eco-techno-preneurship. Sebuah visi yang unik, karena diksi yang digunakannya hanya ada di sini. Tentu, ada penjelasan lain dari penulis lain. Penjelasan berikut ini tidak komprehensif, karena sesuatu yang komprehensif umumnya ditopang oleh ragam penejelasan, dari ragam penulis. Penjelasan berikut bersifat reflektif dan disajikan kata per kata, dari Socio– hingga –preneurship.
Socio-, adalah segala hal yang terkait dengan masyarakat. Sebuah pandangan untuk menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat global. Ia memiliki akar pada ajaran Islam tentang khoirunnas anfa’uhum linnas. Kata naas merujuk pada kelompok manusia yang memaksimalkan karunia akal untuk berpikir, mengembangkan pengetahuan, dan membangun peradaban.
Dari banyak pintu untuk menghadirkan kebermanfaatan, terpilih pintu –eco-, atau ekologi. Pintu yang mengajak pada kesadaran lingkungan, hubungan harmonis antara manusia dan alam, serta keberlanjutan flora dan fauna untuk generasi mendatang. Sebuah pintu yang mengakar kuat pada sabda Rasulullah saw: “Jika hari kiamat akan tiba sesaat lagi dan engkau masih membawa tunas sebatang pohon untuk kamu tanam di semak belukar, teruskan niatmu dan tanamlah.” Alam menjadi dermaga tempat bertolak dan berlabuh. Pengembangan pengetahuan dan peradaban perlu bertolak dari kondisi lingkungan terkini dan bermuara pada proyeksi lingkungan yang ideal di masa datang. Melestarikan alam dan lingkungan merupakan kerja strategis bagi manusia (naas) untuk mengembangkan pengetahuan dan peradaban yang berkelanjutan.
Di era digital, pengembangan pengetahuan dan peradaban patut melibatkan –techno-, atau teknologi. Mempelajari teknologi adalah keniscayaan. Menggunakan teknologi untuk motif maslahat adalah keharusan. Mengembangkan teknologi merupakan fardhu kifayah. Rasulullah saw, menyerahkan urusan duniawi kepada umatnya, sedang untuk urusan agama, Rasulullah saw lebih memahaminya. Dunia dan agama tidak dipandang sebagai dua titik yang bertentangan. Pengembangan peradaban dunia yang memanfaatkan teknologi, didasarkan pada nilai-nilai agama, karena dunia dan agama bukan oposisi biner.
Sementara teknologi adalah sarana, jiwa mandiri adalah tujuannya. Pada titik ini, –preneurship atau kewirausahaan, dipandang sebagai salah satu cerminan dari jiwa mandiri. Selain karena Islam menganjurkan umatnya untuk berniaga dan berdagang, kewirausahaan adalah kemandirian yang perlu ditopang dengan: (1) sikap kejujuran, (2) kemampuan melihat peluang, (3) kemampuan mengambil resiko, (4) keterampilan menciptakan nilai tambah, dan (5) literasi Ziswaf (Zakat, infaq, sedekah, dan wakaf). Bagian kata -preneurship adalah gugusan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diyakini dapat meningkatkan kebermanfaatan seorang manusia bagi manusia lainnya.
Socio– adalah kebermanfaatan yang dimulai dengan memaksimalkan intelektualitas dan mengembangkan pengetahuan; –eco– adalah kesadaran bahwa bumi dan alam adalah amanah yang mesti dijaga; –techno– adalah panggilan untuk mempelajari, menggunakan, dan mengembangkan teknologi secara konstruktif; dan –preneurship adalah sarana muamalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Syahdan, socio-eco-techno-preneurship adalah sebuah pandangan jauh ke depan yang memiliki akar kuat pada tradisi ke-Islaman. Ia adalah past, present, dan future bagi perguruan tinggi keagamaan Islam. Ia akan selalu ada meskipun tidak dituang secara eksplisit. Hari ini, pada peralihan bentuk dari IAIN Metro menjadi UIN Jurai Siwo Lampung, visi socio-eco-techno-preneurship dihadapkan pada tantangan untuk berdampak global dan berkelanjutan menuju Masyarakat yang cerdas, rukun, dan maslahat. Semoga…