metrouniv.ac.id – Selasa 18/01/2022
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)
“Khoirul umuur awsathuha” (Kata Mutiara Arab)
Kira-kira sewindu yang lalu. Seorang invited speaker berkebangsaan Belanda, memberi kuliah di Program Studi Tadris Bahasa Inggris IAIN Metro. Di ujung perkuliahan, ia berujar: “The truth is always in the middle”. Ia menarik kesimpulan itu setelah sebelumnya berceramah tentang pentingnya apresiasi lintas budaya (cross culture understanding); tentang perbedaan budaya sebagai sebuah keniscayaan; tentang taman bunga yang indah karena ragam warna di dalamnya; dan tentang pentingnya ‘mengharmonikan warna berbeda’ alih-alih mempertentangkannya. Sewindu kini telah berlalu. Namun gagasan tentang jalan tengah itu masih terngiang. Apakah benar bahwa kebenaran itu selalu berada di tengah?
Terlepas dari benar atau tidak, gagasan jalan tengah patut mendapat perhatian para pembuatan keputusan. Ada banyak saat di mana decision makers dihadapkan pada dua narasi berbeda dari kasus yang sama. Ambil contoh cerita tentang kegagalan seorang mahasiswa di kelas statistik. Bpleh jadi, versi sang dosen berbunyi: “Si mahasiswa gagal lulus mata kuliah statistik yang saya ampuh’. Mungkin saja, versi mahasiswa berkata: “Sang dosesn gagal mengajarkan statistik dengan cara yang menyenangkan.” Jika demikian, every case has two stories, setiap kasus memiliki dua versi narasi. Dan jika benar demikian, para penentu kebijakan patut mempertimbangkan sebuah jalan tengah. Misal, si mahasiswa dijadikan informan (pemberi informasi), bukan sekedar responden (penyedia respon ‘iya’ atau ‘tidak’), untuk memformulasi metode pembelajaran statistik yang lebih sesuai (appropriate) dan kontekstual.
Lebih dari itu, mengelaborasi cerita versi sang dosen dan versi si mahasiswa berarti berlapang dada menerima dualitas sebuah fenomena. Menarik benang merah dari dua versi cerita yang berbeda berarti memberi diri kesempatan untuk menguji hipotesis “kebenaran selalu berada di tengah”. Decision makers atau policy makers lalu perlu membuka mata dan hati terhadap ‘versi lain’ dari cerita yang terlebih dulu diterimanya. Karena jika tidak, para pembuat keputusan hanya akan menyuguhkan tembang ‘Logika Kekuatan’ di saat para kawula merindukan kidung ‘Kekuatan Logika’. Kawula yang cermat paham bahwa kidung ‘Kekuatan Logika’ sarat dengan nilai pencarian kebenaran. Dan, tembang ‘Logika Kekuatan’ kental dengan pesan membenarkan apa yang dianggap benar. Padahal, untuk tetap berada di jalan tengah, logika kekuatan mestinya berada di bawah kekuatan logika.
Menarik, kekuatan logika dan jalan tengah telah terpatri dalam ilmu statistik. Melalui sebuah teknik yang disebut interpolasi. Teknik interpolasi digunakan untuk menentukan nilai yang derajat kebebasannya (d.k.) tidak tertera di dalam tabel (tabel t, f, atau r). Jika ada nilai yang ‘tersembunyi’ di antara dua nilai yang telah diketahui, nilai itu bisa dimunculkan melalui teknik interpolasi. Teknik ini semacam menghasilkan air hangat dari daftar menu yang hanya menuliskan ‘panas’ dan ‘dingin’, atau semacam memunculkan sikap moderat ketika pilihannya adalah ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Karenanya, teknik interpolasi sejalan dengan cara kerja moderasi yang berasaskan jalan tengah dan kekuatan logika itu tadi.
Syahdan, interpolasi mencuatkan apa yang hilang secara formal. Interpolasi tidak terkait langsung dengan moderasi. Namun jika ada yang hilang di tengah-tengah polarisasi yang runcing, orang bisa berjalan ke tengah. Tidak asal berjalan. Yang benar-benar mendambakan moderasi, akan berjalan dengan quwwatul mantiq, dengan kekuatan logika. Berjalan dengan logika kekuatan tidak selaras dengan adagium sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya. Mantiqul quwwah atau logika kekuatan cenderung merupakan antitesis dari moderasi.
Wallahu a’lam.