STRATEGI MENGGAPAI HAJI MABRUR

IMG-20250512-WA0007

Oleh : Dr. Ahmad Supardi, MA

 

Ibadah Haji merupakan Ibadah Mahdhah  yang diwajibkan oleh Allah swt kepada hambanya, sekali dalam seumur hidup, bagi yang mampu melakukan perjalanan kepadanya, apakah itu dengan berjalan kaki, menunggang unta, berlayar maupun dengan menaiki pesawat. Aman di perjalanan, mempunyai belanja yang mencukupi, baik untuk dirinya mau- pun untuk keluarga yang ditinggal (keluarga yang menjadi tang- gungannya), dan berbadan sehat. Kesemua itu diistilahkan da- lam ajaran Islam, manistathaa ilaihi sabiilaa (orang yang mampu melakukan perjalanan kepadanya).

Ibadah Haji, juga disebut dengan ibadah dalam rangka memenuhi panggilan Nabi Ibrahim as, sebab memang ibadah haji ini pertama sekali disyari’atkan melalui pangggilan Nya. Oleh karena itu pulalah yang menyebabkan, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam ibadah haji itu, kesemuanya menceriterakan riwayat hidup (napak tilas) atas kehidupan Nabi Ibrahim as be- serta keluarganya (Siti Hajar sebagai isterinya dan Ismail sebagai anaknya).

Sikap Memenuhi Panggilan

Sewaktu Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim as menyerukan panggilan Ibadah Haji, Nabi Ibrahim sedikit ragu apakah panggilannya akan didengarkan oleh seluruh ummat manusia, Allah swt kemudian meyakinkannya, “Seru sajalah dan Aku (Allah) yang akan menyampaikannya.

Maha Benar Allah atas segala firmannya, panggilan Nabi Ibrahim as yang telah dikumandangkan ribuan tahun yang lalu itu, telah didengar oleh seluruh ummat manusia, hanya saja memang harus diakui bahwa sikap ummat Islam dalam me- menuhi panggilan itu yang berbeda-beda. Sikap tersebut dapat diklasifikasikan menjadi empat sikap, yaitu:

Pertama, ada yang ingin melaksanakannya dan ia mampu untuk itu, maka iapun dengan senang hati mengerjakannya. Kedua, ada yang ingin mengerjakannya dan ia mampu untuk itu akan tetapi ada sesuatu aral melintang di luar kemampuannya, menyebabkan dirinya tidak jadi mengerjakan ibadah haji itu. Ketiga, ada yang mampu mengerjakannya, kesempatan baginya terbentang luas baik dari segi harta maupun dari segi waktu, akan tetapi hatinya tidak tergerak, hatinya justru semakin menjauh. Keempat, ada yang ingin mengerjakannya, niat yang bulat telah ditanamkan, semangat berkobar menyala-nyala bagaikan api unggun di puncak kepanasannya, namun seperti kata pepatah, “Ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.”

Oleh karena itu, merupakan kekeliruan yang sangat besar bagi seseorang yang menyatakan bahwa dia tidak pergi melak- sanakan ibadah haji sebab belum ada panggilan, atau panggilan- nya belum datang dan atau panggilannya belum sampai. Panggilan itu telah ada, telah datang dan telah sampai sejak Ibrahim as, buktinya berbondong-bondong ummat Islam setiap tahun dari seluruh penjuru dunia mengerjakannya. Hanya saja memang harus diakui, bahwa sikap kita dalam memenuhi panggilan itulah yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Malahan acap pula kita meletakkan sikap panggilan itu secara berlebih-lebihan.

Menghayati Ritual Ibadah Haji

Dalam memenuhi panggilan Nabi Ibrahim as, ada satu hal yang diharapkan oleh setiap jama’ah yaitu mendapatkan haji mabrur. Sebab apa yang diebut haji mabrur, sesuai dengan janji Rasulullah saw, tidak ada balasannya kecuali surga. Surga adalah dambaan setiap insan yang beriman. Oleh karena surgalah balasan akhir yang dijanjikan oleh Allah swt kepada hamba-Nya yang memenuhi perintah-Nya tersebut.

Persoalannya sekarang adalah bagaimanakah yang disebut dengan Haji Mabrur itu. Haji Mabrur, pada hakikatnya tidak ada satupun di antara umat manusia yang mengetahuinya, termasuk yang melaksanakan ibadah haji itu sendiri. Pencapaian haji mabrur, hanyalah diketahui oleh Allah swt semata dan sekaligus menjadi rahasia milikNya, sebab Allah lah yang menerima atau menolaknya. Namun demikian, haji mabrur secara syari’at adalah ibadah haji yang dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya, disertai dengan penghayatan yang mendalam atas ritual-ritual Ibadah Haji, sehingga makna paling dalam dari ibadah haji itu, diaktualisasikan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.

Di dalam pelaksanaan ibadah haji, seorang calon haji me- ngenakan pakaian ihram, sebuah pakaian berwarna putih tidak berjahit. Semua calon haji memakai pakaian ini tanpa kecuali dan tanpa memandang pangkat, golongan, harkat dan martabat. Kenapa harus memakai pakaian yang sama dan warna yang sama, sebab pakaian dapat merupakan perlambang dari kedudukan seseorang. Pakaian juga dapat membuat seseorang berbeda, pakaian yang sama, tetapi karena warna berbeda, maka membuat orang berbeda. Pakaian yang sama, dengan warna yang sama, tetapi karena bahannya berbeda, maka membuat orang pula berbeda.

Pakaian, menurut Dr. Ali Syariati, bisa berbentuk sifat bi- natang yang melekat pada diri manusia, seperti sifat kekejaman yang melambangkan pakaian srigala, sifat kerakusan yang melambangkan pakaian anjing, sifat kelicikan yang melambangkan pakaian tikus, sifat mengekor atasan yang melambangkan pakaian kerbau dan lain sebagainya. Kesemua pakaian itu, harus ditanggalkan dan diganti dengan pakaian putih, seragam kebesaran yang kelak dipakai memasuki liang kubur. Semua berkumpul menjadi satu tanpa perbedaan suku, ras dan golongan, sebagai sebuah perlambang bahwa manusia di hadapan Allah adalah sama, tidak ada perbedaan di antara mereka, yang membedakan mereka hanya satu, yaitu kualitas ketaqwaan terhadap Allah swt. Sifat ini harus melekat pada diri seorang Haji kapan dan dimana sajapun dia berada.

Thawaf, adalah pekerjaan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Perbuatan mengelilingi itu, merupakan sebuah per- lambang bahwa manusia hidup di dunia ini berputar sesuai dengan poros yang telah ditentukan Allah swt. Sama halnya dengan bumi, bulan dan planet-planet lainnya berputar bersama- sama dengan matahari mengelilingi sebuah poros. Bagi seorang yang telah melakukan ibadah haji, maka apapun yang dia lakukan di dunia ini, haruslah berputar pada satu poros yaitu poros keridhaan ilahi. Ketika seseorang keluar dari poros ilahi ini, maka dia akan tersesat di dunia dan di akhirat.

Sa’i adalah berlari-lari kecil dari bukit shofa ke bukit marwa sebanyak tujuh kali. Pekerjaan sa’i adalah meneladani Hajar––istri Nabi Ibrahim as––dalam mencari air untuk menutupi kebutuhan anaknya yang sedang kehausan. Sifat ini melam- bangkan sifat optimisme dalam hidup, bekerja keras dalam meng- arungi lautan kehidupan yang penuh tantangan dan harapan. Dalam sa’i ini yang dicontoh adalah Hajar, seorang budak belian, yang diabadikan oleh Allah swt dalam ritual ibadah haji. Ini se- buah perlambang bahwa semua manusia di hadapan Allah swt adalah sama, yang membedakan mereka hanyalah kualitas ketakwaan kepada Allah. Kedua sifat ini––sifat optimisme dan persamaan manusia di hadapan Allah swt ––haruslah menjadi sifat dan sikap seorang haji.

Wukuf adalah berkumpul di Padang Arafah. Perkumpulan ummat Islam ini adalah kata lain dari kongres ummat Islam internasional, dalam merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang harus dilakukan atas berbagai persoalan yang dihadapi ummat Islam se dunia. Hasil kongres ini, haruslah merupakan program utama bagi seorang haji dalam melaksanakan missinya, setelah pulang dari tanah suci.

Melontar Jumrah adalah meniru perbuatan Nabi Ibrahim as, melempari syethan yang menggodanya, untuk tidak melakukan perintah Allah, mengurbankan putra kesayangannya Ismail. Per- buatan ini dalam arti melawan rayuan godaan syethan laknatullah, haruslah menjadi komitmen setiap pribadi seorang haji.

Qurban, yaitu menyembelih binatang. Penyembelihan binatang ini adalah sebuah perlambang tentang pengorbanan dan perhatian terhadap nasib fakir miskin. Seorang haji di mana pun dia berada, haruslah memiliki sifat pengorbanan dan per- hatian terhadap nasib fakir miskin. Selain itu, yang harus diper- hatikan adalah secara syar’i yang disembelih itu adalah binatang, tetapi secara hakiki, sesungguhnya yang disembelih itu adalah sifat kebinatangan yang melekat pada diri yang bersangkutan, sehingga setelah pulang melaksanakan ibadah haji, seorang haji telah jernih dari sifat-sifat kebinatangan.

Kesemua sifat-sifat tersebut, haruslah menjadi sikap seorang yang telah melaksanakan ibadah haji. Bila sifat ini telah melekat pada diri seorang haji, maka hajinya dapat dipastikan termasuk dalam kategori haji mabrur. Akan tetapi, apabila hal ini tidak me- lekat pada diri seorang haji atau hajjah, niscaya kemuliaan ibadah hajinya menjadi ternoda, malah jangan-jangan “tertolak.”

Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.