Penulis: Mufliha Wijayati
Hari ini, adalah hari ketiga saya dan teman-teman PIES IV tinggal di Canberra. Jadwal orientasi kami hari ini cukup padat; mengaktifkan komputer kerja kami di kantor, menandatangani kontrak administrasi asrama mahasiswa, makan siang di Kebab Turki teryummy di Yarralumla, Shalat Jumat, dan membuat kartu mahasiswa. Semua dilakukan setelah ada appointment, sesuai schedule, ritme cepat, dan tap….tap…tap. Jangan bayangkan kami bisa selfie dan hahah hihii di setiap aktifitas meskipun ada agenda santai seperti lunch yang biasanya menjadi ajang narsis dan manyun-manyun bibir. Menahan diri untuk tidak selfie di tempat-tempat amazing itu butuh perjuangan keras dan keikhlasan. Mungkin 'tidak selfie di tempat-tempat keren' itu akan menjadi hal berat yang hanya bisa dilakukan oleh DILAN.
Sebagai 'manusia baru' di 'tempat baru', tentu setiap langkah menjadi sangat sesuatu. Masjid Canberra adalah pilihan pendamping kami untuk mengenalkan tempat-tempat ibadah di Canberra. Di Canberra sendiri, ada sekitar sembilan masjid dan mushala yang bisa digunakan untuk beribadah. Di antaranya, mushala di Australian National University tempat kami studi, University of Canberra, London Circuit, Tiptree Crescent-Gunghalin, dan Queanbeyan. Sedangkan, kita bisa menemukan masjid di Canberra Islamic Centre, Canberra Empire Circuit, Masjid al Taqwa, dan tentu saja Masjid Canberra.
Masjid Canberra adalah Masjid pertama yang dibangun di Kota Canberra, atau menjadi Masjid kedua yang dibangun di Australia. Masjid pertama didirikan pada tahun 1861 oleh masyarakat Afganistan yang memiliki usaha peternakan unta di Maree, di Australia Selatan. Menurut penuturan pendamping kami, Haula Nur-Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang Studi di ANU, pembangunan Masjid ini diinisiasi oleh orang Indonesia. Ide pendirian mesjid di Canberra ini ada sejak tahun 1950-an, mengingat bahwa banyak umat Islam yang datang dari lebih 60 negara menetap di Australia, termasuk Canberra. Ide ini menjadi nyata saat Duta Besar Indonesia untuk Australia saat itu Dr. A. Y. Helmi mendiskusikan idenya dengan Sir Gordon Freeth (Menteri dalam negeri dan tenaga kerja Australia). Dari hasil pertemuan tersebut Dr. Helmi mulai menggalang dana dengan menghubungi dua negara Muslim lain yang penduduk Muslimnya banyak tinggal di Canberra, yaitu Malaysia dan Pakistan.
Dengan dana patungan, tahun 1960 pembangunan Masjid Canberra terwujud di atas tanah yang disediakan oleh Pemerintah Australia di kawasan komplek perwakilan negara asing yang berkantor di Ibu Kota Australia ini. Ulama Indonesia Haji Soetan Mashoerdin ditunjuk sebagai imam pertama Masjid Canberra. Serangkaian kegiatan ibadah, pendidikan, dan dakwah dilakukan di Masjid ini. Imam Masjid Canberra saat ini adalah Sheikh Mohammed Swaiti seorang ulama dari Timur Tengah. Hingga kini, masjid Canberra menjadi salah satu masjid yang paling banyak dikunjungi dengan beragam kegiatan ibadah, pendidikan, dan aktifitas sosial lainnya. (www.kompasiana.com/rrnoor/uniknya-canberra-mosque-di-australia_)
Dari aspek bangunan, masjid ini tampak tidak ada yang 'istimewa' jika dibandingkan dengan Masjid di Indonesia yang besar, megah, kaya dengan keindahan ornamen lokal atau ornamen asing lainnya. Yang menarik adalah keragaman yang hadir di Masjid ini tetap dibiarkan hidup asik tanpa diusik.
Pengamatan sekilas saya baru sebatas di area perempuan. Di Indonesia shalat Jumat pada umumnya hanya diikuti oleh laki-laki, meskipun tidak menutup kemungkinan perempuan juga melakukannya di daerah-daerah tertentu. Di masjid Canberra banyak perempuan yang ikut shalat Jumat. Tampaknya pun, mereka berasal dari berbagai suku bangsa. Dari wajah dan cara berpakaian, saya menduga mereka dari Melayu (Indonesia & Malaysia), India, Pakistan, Bangladesh, dan area Timur Tengah. Dari empat puluhan jamaah perempuan, yang menggunakan mukena tertutup hanya kami berdua -PIES Student- dan 1 orang lagi yang saya duga juga dari Indonesia. Jamaah lain menggunakan pakaian yang mereka kenakan saja, gamis dengan jilbab menjuntai dengan kaos kaki, yang barangkali relatif sering dijumpai juga di Indonesia, pakaian sari dengan selendang, abaya sampai mata kaki dan bagian telapak sedikit terbuka, bahkan ada yang menggunakan pakaian jeans dan tunik dengan mata kaki telanjang juga. Tapi mereka dengan khusyu' menghadapkan wajah suci mereka untuk menyapa Tuhannya tanpa harus saling mengganggu dan merasa pakaian mereka paling baik dan sopan untuk menghadapNya. Karena masing-masing memiliki argumentasi atas apa yang mereka jalani.
Di halaman masjid, saya sempat melihat aktifitas ekonomi semacam bazar makanan kampung halaman. Waktu shalat Jumat bisa menjadi ajang reuni dan obat kangen kampung. Ada yang jual, bakso, nasi kuning, dan makanan jajan pasar camilan khas Indonesia. Kami tak sempat mencicipinya, karena sebelum Shalat Jumat tadi, kami baru mencicipi kebab asli Turki yang porsinya besar luar biasa. Saya harus menghabiskannya dalam tiga ronde. Selain karena porsi besar, meski doyan kebab ala-ala, untuk taste original kebab seperti ini lidah Jawa saya belum terbiasa. Soal rasa jangan ditanya, konon ini paling yummmy seantero Canberra.
Saya belum punya cukup waktu untuk mengamati dan menanyai banyak hal di Masjid istimewa ini, karena jam 14.00 kami ada janji untuk membuat kartu mahasiswa. Ini Australia, datang terlambat pada janji yang sudah dibuat itu termasuk 'pamali'. Kata pendamping saya, Jennifer-Alumnus ANU yang akan riset di Indonesia untuk Ph.D-nya nanti, terlambat itu rude behaviour. Begitu rupa mereka menghargai menit bahkan detik, sehingga dia membawa kami terbang dengan mobilnya. Kalau waktu tak kita hargai, maka kita akan terbunuh olehnya. Al-Waqtu ka asy-Syaif.
Meski sejenak, ada rasa bangga membuncah dari kunjungan saya ke Masjid Canberra. Pertama, karena Indonesia adalah negara yang menginisiasi dibangunnya Masjid pertama di Canberra. Kedua, Ulama Indonesia pun pernah menjadi Imam besar di Masjid ini. Ketiga, Jamaah Indonesia cukup banyak di sini. Dan yang keempat, ini yang mengejutkan, usai shalat jumat saya melihat di dinding masjid terpampang kaligrafi ayat kursi TAPIS, tenun khas dari Lampung. Terbayang 'kan perasaan saya? Begitu bangga dan terharunya saya, sebagai orang yang lahir dan hidup di Lampung, budayaku ada di negeri kanguru. Kelak, Tapis ini akan jadi penanda jejak Islam di Canberra.
Salam manis dari Canberra