metrouniv.ac.id – 21/09/2025 – 30 Rabiul Awal 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)
Telling is useful. Showing is more effective. But the combination
of both is the most powerful.
Dia adalah sosok yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kampus ini. Ia memiliki jasa besar yang tak terbantahkan. Namanya tercatat dalam banyak peristiwa penting dan strategis yang akhirnya menentukan arah kebijakan kampus. Ia tampil dalam banyak peristiwa penting. Ia terlibat dalam keputusan-keputusan besar yang menaikkan pamor dan reputasi kampus. Namanya hampir selalu ada dalam pewartaan, eksternal apalagi internal. Foto-fotonya nyaris tak pernah absen di setiap pemberitaan daring dan media sosial. Ia adalah sosok yang tak pernah lelah memikirkan perkembangan kampus. Tidak pernah letih memperjuangkan yang terbaik bagi civitas akademika. Ia adalah tokoh sekaligus legenda yang akan selalu diingat.
Itu semua adalah telling! Narasi tanpa dilengkapi eviden yang solid dan terukur. Teknik telling adalah menceritakan untuk memberitahu. Sebuah Teknik untuk mendeskripsikan suatu peristiwa atau seorang tokoh. Ia dipandang baik untuk tujuan yang bersifat informatif.
Teknik telling cenderung menjadi lebih baik manakala dipadukan dengan teknik showing. Karena showing berarti eviden. Kombinasi telling dan showing bermakna gabungan antara narasi dan eviden. Dengan telling dan showing, sesuatu yang awalnya informatif akan meluas menjadi sesuatu yang substantif. Informasi yang mulanya hanya menyentuh bagian permukaan saja, akan akan merambah lapisan kognisi yang lebih dalam. Boleh dikata, perpaduan antara telling dan showing bisa menyentuh pikiran sekaligus perasaan, kognitif dan afektif.
Hari ini, dia punya jasa besar untuk kampus ini. Ia hadir membawa wacana segar dan perubahan nyata. Betapa tidak, saat ia datang ada beberapa fakta memprihatinkan di kampus ini. Rerata tahun kelulusan mahasiswa S1 adalah 4,8 tahun; mahasiswa S2 adalah 2,8 tahun; dan terdapat rata-rata 15% mahasiswa yang tidak jelas nasib studinya setiap tahun. Lalu saat menjadi decision maker, ia lantas meredesain kurikulum. Ia memperkuat mata kuliah metodologi penelitian dan penulisan karya ilmiah, serta mereposisi mata kuliah-mata kuliah tersebut ke tahun kedua. Lebih awal dari posisi pada kurikulum sebelumnya. Lalu, untuk mempercepat kelulusan bermutu, ia bangun ‘Omah Karil’ dan mengembangkan aplikasi ‘PastiKelar’. Sebuah aplikasi untuk mempertemukan mahasiswa dan dosen pembimbing secara regular dan terjadwal. Kini, setelah ia purna tugas, rerata kelulusan S1adalah 4,1 tahun dan S2 adalah 2,1 tahun. Amazingly, hari ini kampus ini kini dikenal dengan citra ‘Zero DO’. Ia adalah legenda hari ini, yang tidak hanya menarik dalam angka statistik, namun juga harum dalam budaya akademik. Bagi banyak orang, ia akan terus hidup dalam memori dan hati civitas akademika.
Syahdan, teknik showing bersifat data-based. Ia memunculkan data-data untuk menopang sebuah ide utama. Ia melengkapi narasi dengan eviden. Ia seperti sahabat yang tidak hanya bertanya, “Sudah makan siang, belum?”, namun juga mengajak dan mentraktir yang ditanya untuk makan siang bersama.
Konon, penyampaian cerita yang memadukan teknik telling dan showing akan lebih memberikan dampak emosional dan kedalaman pengalaman bagi para pendengar atau pembaca. Ada saran untuk memadukan kedua teknik tersebut. Karena telling saja akan membuat sebuah narasi menjadi datar, template, normatif, dan informatif semata. Pun demikian, showing saja akan membuat narasi menjadi lambat, sangat substantif, dan melelahkan.
Tokoh ‘dia’ di atas adalah fiktif semata. Dia tidak merujuk pada satu orang tertentu di kampus tertentu. Dia bisa siapa saja dan di kampus mana saja. Dan pada setiap kampus, ada persona-persona non-fiktif yang melegenda. Pada saatnya, legenda-legenda non-fiktif tersebut patut dikisahkan secara informatif dan substantif. Berkaca pada tokoh ‘dia’ yang fiktif, orang boleh berkalam: “Kisah seorang legenda kampus yang paling fiktif sekalipun patut disajikan dengan cara yang paling utuh: dengan teknik telling yang informatif dan permukaan, serta dengan teknik showing yang substantif dan menggugah.” Karena telling membawa kejelasan, showing memberi kedalaman, dan perpaduan antara keduanya melahirkan pemaparan yang kuat, pemaparan yang terdiri dari narasi dan eviden. Wallahu a’lam.