6 agama resmi di Indonesia sejak tahun 2000-an membuat semua paham atas
kepercayaan akan senantiasa bersentuhan. Tidak dapat dipungkiri, negara ini
hidup karena perbedaan kepercayaan. Menjadi sulit jika hanya mengedepankan satu
kepercayaan dalam penentuan kebijakan. Akan ada perselihan, ketika hanya
menggunakan satu paham kepercayaan dalam pembuatan sebuah kebijakan. Peristiwa
tersebut terbukti pada saat pembuatan butir-butir pancasila, ketika hanya
mengedepankan satu paham kepercayaan dalam setiap sila maka terjadi pergesekan.
Pergesekan akan senantiasa terjadi, bilamana toleransi menjadi hal yang
dikesampingkan.
Bhineka
tunggal ika, berbeda-beda tetap satu juga. Kebhinekaan tersebut harusah
senantiasa dipegang teguh dalam perbedaan kepercayaan-keagamaan. Dibalik
perbedaan akan senantiasa ada persamaan kebutuhan akan negeri ini, kemajuan
sosial menjadi fokus perhatian agama. Perbedaan kepercayaan, suku, ras dan
budaya, membuat sebuah kedewasaan dari setiap bulir pemikiran, hal tersebut
harus dikedepankan. Bagaimana tidak? Setiap pendewasaan pemikiran akan
senantiasa berbenturan dengan paham-paham tertentu, baik dari kepercayaan,
suku, ras dan budaya masyarakat lainnya. Toleransi yang kemudian harus menjadi
fokus perhatian.Dengan toleransi yang tertanamkan dalam setiap pemikiran maka
akan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan negeri ini.
Perjuangan
sudah cukuplah pada abad 19, saat ini tidak perlu menjadikan perbedaan sebagai
sekat untuk melakukan aktivitas. Bagaimana nenek moyang telah menjadikan
perbedaan sebagai kekuatan negeri ini.Menjauhkan perpecahan atas perbedaan dari
negeri pertiwi, menjadi hal yang harus senantiasa menjadi pokok kebijakan
pemerintah. Sejalan dengan kebhinekaan, bagaimana negeri pertiwi ini terbentuk
dengan banyaknya perbedaan, terlihat dengan banyaknya budaya kedaerahan. Dapat
dijumpai bahwa dengan berbeda daerah, maka disananlah terdapat perbedaan, baik
itu kepercayaan, suku, ras, dan budaya.
Hal
yang harus dihilangkan adalah pendudukan akan kebenenaran. Semuanya tahu, bahwa
hal yang sudah terpatri dalam pemikiran setiap insan maka itulah yang
dibenarkan. Misalnya Islam, maka hal-hal yang berbau tentang Islam maka itulah
yang paling benar, menganggap yang berselisih dengannya menjadi salah dan harus
duluruskan. Klarifikasi kebenaran dalam negeri ini tidak bisa dilakukan pada
satu sisi kepercayaan. Jubah-jubah tebal yang disandang haruslah senantiasa
dilepaskan, rasa saling memiliki harus menjadi saluran kekuatan, perbedaan
harus dijadikan sebagai keistimewaan, toleransi menjadi solusi keindahan negeri
ini.
Negeri
ini akan rusak bilamana saling menjunjung perbedaan. Karena negeri ini
dibangung dengan pondasi perbedaan, tidak membenarkan bahwa perbedaan akan
menghancurkan negeri ini. Sebelum deklarasi 45, negeri ini menjadi lubang
penghidupan bagi negeri lainny, dengan kekejaman yang terjadi, pembantaian
bilamana ada perlawanan. Namun dengan perbedaan yang ada dan tersusun menjadi
kekuatan kita bisa menjauhkan kekejaman dari negeri pertiwi. Kita tahu Aceh
dengan kekuatan Islamnya, surabaya dengan pemudanya, maluku dengan perjuangan
pattimura, di sulawesi (makasar) dengan benteng Rotterdam yang dibangun oleh
Sultan Daeng Bonto Karaeng atau Raja Kerajaan Gowa-Tallo, dan peristiwa
lainnya. Bagaiamana perbedaan tersebut menjadi kekuatan utama yang tersusun di
negeri ini. Bilamana hari ini toleransi mau dihilangkan, maka hal-hal negatif
akan senantiasa terjadi dan hal tersebut akan mematahkan semboyan negeri ini "Bhinika
Tunggal Ika".
Perlawanan-perlawanan
terhadap kapitalis masa sebelum proklamasi. Hal itu banyak dilakuan oleh
daerah-daerah yang bersatu meski terdapat perbedaan. Seperti halnya, perang
Saparua di Ambon, perang paderi di Sumatra Barat, Perang Diponegoro yang
dipimpin oleh pangeran Diponegoro untuk melawan pemerintah Hindia Belanda yang
mencampuri urusan politik kerajaan Yogyakarta, perang Aceh dengan semangat
membela agama dan negeri ini hingga membuat pasukan yang dihimpun Hindia
Belanda kewalahan dan tidak mampu menghadapi secara fisik, perlawanan
Sisingamangaraja di Sumatra Utara selama 24 tahun terhadap rezim Hindia
Belanda, perang Banjar di Banjarmasin yang dipimpin oleh Pangeran Antasari
karena ikut campurnya Hindia Belanda atas urusan politik, perang Jagaraga di
Bali yang terjadi karena ikut campurnya Belanda atas hak tawang karang yang
dipimpin oleh Raja Buleleng, perang Tondano di Sulawesi Utara dan masih banyak
lagi bentuk perlawanan penduduk negeri ini.
Peristiwa
tersebut menjadi fokus utama dalam mengetahui bagaimana dengan perbedaan,
negeri ini bisa memproklamirkan kemerdekaannya atas penyiksaan negara
kapitalis, Belanda selama 3,5 abad dan Jepang selama 4 tahun dari 1942-1945.
Karena kebersatuan dan kebhinekaan, jubah perbedaan haruslah di tanggalkan,
tidak ubahnya sebuah kekuatan yang laumpuh jika jubah-jubah perbedaan menutupi
toleransi antar kepercayaan, suku, ras dan budaya. Karena saat ini negara
kapitalis tidak melakukan penyerangan secara fisik melainkan menyerang dengan
banyak hal, diantaranya menyusup ke dalam kepemerintahan, kebudayaandan
kepercayaan untuk melakukan politik adu domba atas perbedaan, seperti taktik
perang yang disarankan oleh Dr. Snouck Hugronje yang menamainya sebagai Abdul
Gafar pada saat Hindia Belanda kewalahan dalam menaklukkan Aceh sebagai daerah
Islam. Politik adu domba saat ini menjadi pilihan rezim-rezim yang ingin
menguasai Indonesia dan memecah persatuan Republik ini.
Toleransi
menjadi hal yang harus dilakukan oleh penduduk negeri ini, karena satu hal
tersebut akan menjadi fokus utama rezim kapital untuk menguasai dan menggrogoti
negara kesatuan Republik Indonesia. Bilamana toleransi sudah tidak ditemui,
maka adu domba antar suku yang pernah terjadi antara suku bugis dan madura kala
itu, suku bali dan lampung di Lampung Selatan dan lainnya. Peristiwa tersebut
akan memecahkan persatuan dan kesatuan yang tertuang dalam Undang-Undang dan
dasar negara. Penanggulangan tingkat awal sudah di mulai dengan melakukan
pendidikan berbasis perbedaan etnis yang di lakukan oleh Sekolah Menengah Atas
di Raman Utara. Hal tersebut menjadi jawaban dari permasalahan etnis sebagai
bibit-bibit perbedaan.
Toleransi
pada dasarnya hal yang harus senantiasa dilakukan, bilamana hal tersebut benar
maka dibenarkan, bilamana salah maka salah. Toleransi dewasa ini jarang ditemui,
haus akan kekuasaan dan kekayaan menjadikan toleransi tersingkirkan dari
pemikiran setiap manusia, tidak banyak yang bisa dilakukan bila toleransi tidak
diindahkan. Maka selanjutnya, negeri ini akan hancur bilamana toleransi antar
penduduk tidak ada.Secara perlahan dan perlahan rezim akan bergerak
menghancurkan negeri ini dari dalam, dengan menyebarkan isu-isu dan
keikutsertaannya dalam bidang politik dan masuk ke dalam pemikiran dengan
mempengaruhinya dengan iming-iming kekuasaan dan kekayaan.
Kapitalis
akan menjanjikan kapitalis muda kepada setiap orang dengan iming-iming
kekayaan. Politik adu domba akan dipraktekkan oleh rezim kapitalis dengan
memanfaatkan perbedaan dan menanggalkan toleransi. Secara perlahan negeri ini
akan dikuasainya, telah terbukti hingga saat ini penguasaan atas tanah leluhur
banyak dikuasai oleh asing, hal itu disebabkan oleh politik yang menanggalkan
kebhinekaan. Sudah cukup bukti dan sudah cukup perlawanan di contohkan,
selanjutnya negeri ini harus mengedepankan toleransi atas perbedaan dari
masing-masing kepercayaan suku, ras dan budaya. Jadikan semuanya sebagai
kekuatan untuk melawan rezim kapital yang telah dilakukan oleh leluhur
terdahulu.
Dwi
Nugroho (Mahasiswa IAIN Metro)