Tuhan Menyapa Nusantara

6pertengahan

Tuhan
adalah maha penyapa dan maha ramah, walaupun pada hakikatnya Tuhan lah
satu-satunya zat yang paling pantas untuk menyombongkan diri lantaran kekuasaan
yang dimiliki. Kendati demikian, Tuhan masih ingin bersikap ramah dengan terus
menyapa setiap hamba yang diciptakannya. Keramahan dalam bentuk sapa,
diturunkan Tuhan kepada setiap hamba dengan bentuk yang berbeda-beda, dan
dengan tujuan yang tidak tunggal. Pluralnya bentuk sapaan yang Tuhan lakukan,
disesuaikan dengan siapa yang akan disapanya.


Seperti
halnya manusia, ketika sesama insan saling menyapa, maka tujuan dari padanya
adalah untuk kemudian manusia yang disapa diharapkan dapat melihat, menatap
atau memperhatikan manusia yang berpredikat penyapa. Sehingga, sapa sesama manusia
yang bersifat empirik dapat menghasilkan sesuatu yang logis dan tidak perlu
memusingkan manusia itu sendiri. Hukum yang berlaku ketika saling sapa
berlangsung dalam pusaran manusia dan manusia, maka bentuk sapa yang
berlangsung tidak memerlukan tafsir mendalam. Karena sapa adalah sapa.


Lain
halnya ketika Tuhan sudah menyapa. Sapa dari tuhan secara empirik terkadang
terlihat tidak indah. Tuhan menyapa bisa dalam bentuk menginteraksikan antara
hamba yang satu dengan hamba yang lain, dimana kesemuanya adalah dalam
kekuasaan Tuhan. Pertemuan antara sesame makhluk yang Tuhan upayakan dalam
bentuk sapaan, dapat berupa bencana alam (Tsunami, Gempa ataupun Tanah
Longsor).


Bentuk
sapaan dari Tuhan perlu memerlukan sebuah tafsir dan pemahaman yang dalam,
untuk kemudian bisa menghantarkan kita selaku hamba untuk sampai kepada
pemikiran bahwa hal yang terjadi itu adalah salah satu bentuk sapaan dari
Tuhan. Tuhan adalah maha mengawasi, ,sebagaimana sesuai dengan salah satu sifat
Tuhan adalah Al-Raqiib (maha mengawasi). Karena Tuhan adalah saling mengawasi,
maka sudah menjadi kewajaran bahwa Tuhan berpotensi untuk menyapa apa-apa saja
yang diawasinya.


Nusantara
(Indonesia) juga merupakan bagian makhluk yang sama sekali tidak luput dari
sifat Al-Raqiib Tuhan. Oleh karena hal tersebut, maka tidak menutup kemungkinan
bahwa Tuhan sigap dalam menyapa nusantara ini. Dalam hal ini, maka bentuk
sapaan dari Tuhan adalah berupa sesuatu hal yang secara empirik terkesan tidak
menyenangkan (dalam sudut pandang manusia). Namun, pada hakikatnya dengan
seperti itu maka melahirkan banyak pelajaran dan menciptakan rasa saling
kepedulian.


Tentu
bahasa menyapa dalam konteks Tuhan adalah berbeda ketika disandingkan dengan
sapa dalam konteks antar makhluk (manusia dengan manusia). Sapa Tuhan tentu
lebih bermakna dan lebih berdampak dibandingkan sapa dalam tataran diskursif
manusia. Maka, bentuk sapa yang akut dari Tuhan harus segera dipahami oleh kita
selaku hambanya.


Nusantara
(Indonesia), dalam kurun waktu yang berdekatan (tahun 2018) mengalami fenomena
yang menimbulkan sebuah keprihatinan. berawal dari pada Agustus 2018 lalu,
Lombok diguncang sebuah gempa dengan kekuatan yang cukup dibilang besar. Belum
kering makam korban bencana Lombok, Nusantara (Indonesia) kembali berduka
dengan adanya gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala pada
September 2018.


Sederet
kejadian yang ada mengingatkan penulis pada QS. As-Syuro ayat 30 yang artinya “Setiap
musibah yang menimpa kalian, disebabkan perbuatan tangan kalian, dan Allah
memberi ampunan terhadap banyak dosa.”


Juga
pada QS. Al-Ankabut ayat 40 yang artiya “Masing-masing Kami adzab disebabkan
dosa mereka. Di antara mereka ada yang kami kirimi angin kencang, di antara
meraka ada yang dimusnahkan dengan teriakan yang sangat pekak, ada yang Kami
tenggelamkan. Allah sama sekali tidaklah menzalimi mereka, namun mereka yang
bersikap zalim pada diri mereka sendiri.”


Kedua
ayat al-quran ini cukup untuk menjadi cambuk bagi kita selaku manusia yang
lemah, bahwa Tuhan selalu menghendaki apapun yang terjadi sesuai dengan sikap
dan tingkah laku manusia. Ketika manusia melakukan kebaikan dan kebajikan, maka
pasti tuhan akan memberikan kebaikan, begitu juga dengan sebaliknya.


Kata-kata
musibah atau adzab, seperti yang tertulis dalam ayat di atas, akan penulis
sederhanakan bahasanya, untuk bisa didamaikan dengan pikiran kita sebagai
manusia. Maka musibah dan adzab tersebut penulis sebut sebagai suatu bentuk
sapaan tuhan untuk manusia. Tentu tuhan menyapa seorang hamba, agar kemudian
hamba tersebut juga dapat menatap dengan cara mengingat tuhan, sebagai balasan
manusia atas keramahan (sapaan) tuhan.


Dengan
sapaan yang tuhan berikan, baru kemudia manusia berbalik ingat kepada tuhan,
maka itu penulis katakana sedikit keterlaluan. Bencana dan adzab adalah suatu
bentuk sapaan dimana tuhan menyapa terlebih dahulu. Beda halnya ketika manusia
menyapa terlebih dahulu dan tuhan membalas sapaan tersebut. Maka yang terjadi
bukanlah bencana ataupun adzab, melainkan suatu keridhaan.


Sebelum
tuhan menyapa kita sebagai manusia, sebagai akibat perbuatan menjauhnya kita
darinya, maka berupayalah kita untuk lebih dulu menyapa tuhan dengan
memaksimalkan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah (sholat, puasa, zakat
dll).jangan biarkan tuhan menyapa terlebih dahulu, namun kita yang harus
menyapa tuhan terlebih dahulu.

Penulis: Wahyu Eko Prasetiyo (Relawan metrouniv.ac.id)


 


 


 


 


 


"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.