Bone, metrouniv.ac.id — Selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Oktober 2025, para pemangku kepentingan pendidikan tinggi keagamaan dari seluruh Indonesia berkumpul di IAIN Bone, Sulawesi Selatan, dalam sebuah forum penting: Pembahasan Isu Strategis Pengembangan Pendidikan Tinggi Keagamaan. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat arah dan masa depan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Acara resmi dibuka oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Sahiron, yang menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi dalam menjawab tantangan zaman. Hadir pula dalam forum ini sejumlah tokoh penting diantaranya para rektor dan ketua dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), para kasubdit, dan pejabat dari Direktorat PTKI. Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen untuk berperan dalam forum strategis tersebut, Rektor UIN Jurai Siwo Lampung menugaskan Wakil Rektor II, Dr. Yudiyanto, M.Si., untuk mewakili kehadirannya.

Dalam forum ini, enam isu strategis menjadi sorotan utama dan menjadi bahan diskusi intensif untuk merumuskan langkah-langkah ke depan. Keenam isu tersebut adalah:
- Penguatan Kerja Sama Internasional, untuk mendorong daya saing global PTKI dan membuka akses kolaborasi lintas negara.
- Pengembangan Pendidikan Vokasi, sebagai jawaban atas kebutuhan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja.
- Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), guna memberi ruang bagi pengalaman dan pengetahuan informal untuk diakui secara akademik.
- Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sebagai upaya menjangkau lebih banyak mahasiswa lintas wilayah dengan fleksibilitas digital.
- Program Studi Keilmuan Kepesantrenan, yang merevitalisasi khazanah pesantren dalam bingkai akademik.
- Penguatan Pusat Studi Ekoteologi serta Kurikulum Berbasis Cinta dan Moderasi, yang menekankan pentingnya spiritualitas yang ramah lingkungan dan berlandaskan kasih serta toleransi.

Forum ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga wadah membangun komitmen bersama dalam mereformasi dan memperkuat fondasi pendidikan tinggi keagamaan Islam. Semua peserta terlibat aktif dalam merumuskan arah kebijakan yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan nasional, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan global.
(Kontributor : Yud)