Metro, metrouniv.ac.id – “Mengenalkan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dari kampung ke kampung di Negeri orang, Suriname, ini benar-benar inspiratif”, ungkap Dr Aria menanggapi cerita Asyari Latif, warga negara Indonesia yang tinggal di Suriname pada Focus Grup Discussion yang digelar oleh Asosiasi Kolaborasi Dosen Lintas Negara (KODELN) pada Rabu 9/10/2024 di Universitas Maarif Lampung.
Dr. Aria yang merupakan Dosen IAIN Metro dan juga tutor Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing dan sempat keliling ke beberapa Negara dalam tugas tersebut menyebutkan adanya benang merah dari apa yang menjadi konsentrasi dan aktifitasnya selama ini dengan apa yang di lakukan Asyari Latif yang pada kesempatan tersebut menjadi narasumber tunggal.

Sebelumnya Asyari Latif, aktifis sosial Suriname yang didapuk sebagai narasumber FGD tersebut menceritakan tantangan dan peluang membentuk masyarakat agamis di negara tempatnya tinggal. Ia yang semula bekerja di Komjen tersebut, akhirnya menjadi PNS di negara tersebut walaupun masih berkewarganegaraan Indonesia. Selanjutnya memutuskan menjadi pegiat sosial keagamaan di negara tersebut. ia menuturkan tentang Suriname yang memiliki ikatan historis yang kuat dengan Indonesia (13 % suku Jawa) yang saat pendudukan Belanda di Nusantara terjadi pemaksaan dan penculikan penduduk Jawa untuk selanjutnya dipekerjakan paksa ke perkebunan tebu di wilayah tersebut. ” sebenarnya masih ada kebanggan mereka terhadap nenek moyangnya, sehingga praktik praktik adat masih cukup kental di sana seperti tradisi selamatan, mitoni, sesaji dan sebagainya”, ujarnya. Ia melanjutkan penjelasannya kembali, “sebagai yang diambil paksa secara random dijalanan, maka hampir dipastikan tidak ada dari kaum terpelajar maupun santri. sehingga praktik keagamaan mereka (Islam) cukup memprihatinkan dan hampir bisa dikatakan sebagai Islam KTP saja”.

” Jangan dibayangkan Jawa seperti Indonesia, yang setiap saat didampingi alim ulama dengan kajian Islam, TPQ dan pondok pesantren di mana-mana, yang dengan mudah masyarakat mendapatkan pengajaran tentang dasar dasar keislaman, di sana mengaku Islam saja sudah syukur, bahkan di sana berlaku kultur hidup bersama tanpa ikatan pernikahan hingga memiliki keturunan. hal itu lazim bahkan oleh mereka yang notabene beragama Islam”, ujarnya menanggapi pertanyaan Dr. Mahrus Asad, Warek III IAIN Metro tentang keingintahuannya sejauh mana mereka mempedomani falsafah kebajikan dan tata Krama Jawa dalam kehidupannya.

Demikian pula pranata Humas IAIN Metro, sdr. Luky yang ingin mengetahui sejauhmana keberterimaan Islam oleh masyarakat setempat, semisal pakaian syar’i. Asyari Latif yang juga seorang Youtuber aktif dengan nama canel Surindo Family dan pemimpin yayasan Stichting Aliyah Suriname South America tersebut menjelaskan, ” Islam di sana memiliki posisi terhormat, mereka yang ingin mempraktikkan Islam dalam kehidupannya tidak ada kendala”, ujarnya menggambarkan keberterimaan masyarakat setempat atas Islam yang sekaligus sebagai peluang dakwah di sana.

Diskusi tersebut berlangsung cukup hangat, dihadiri Rektor UMALA dan jajaran pimpinan lainnya, Koordinator KODELN, ibu Indriani dari Universitas Saburai, Warek III, Kepala SPI, KA Pusat Hubungan Internasional, Humas IAIN Metro, serta dosen dari tiga perguruan tinggi tersebut. Mereka berharap kedepan agar dapat dilanjutkan hubungan ini dalam bentuk kerjasama yang lebih intens yang bisa diwujudkan semisal student exchange dan bidang lainnya. (Lk)