Metro, Metrouniv.ac.id, 9 Desember 2024 – Ruang Munaqosyah pagi ini mendadak dipenuhi dengan antusiasme mahasiswa yang hadir untuk menyaksikan acara “Semarak Kreativitas,” yang digelar di Kampus I. Hari ini digelar acara nonton bareng film pendek karya mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) sebagai tugas akhir dari matakuliah Sinematografi Siroy Kurniawan, M.Sos.
Sangat mengejutkan, karena Film-film pendek tersebut menurut informasi diproduksi kurang dari satu bulan, akan tetapi telah mampu menggambarkan kreativitas luar biasa dari mahasiswa KPI semester V.

Tiga film yang diputar hari itu berhasil menyita perhatian, masing-masing dengan genre yang berbeda. Sebagai pertama yang diputar, film yang berjudul “Antara Dua Tanggung Jawab” tentang seorang yang tengah berjuang melanjutkan studi untuk masa depannya, punya masalah pelik di keluarganya. Sutradara film tersebut, Alvisa Pratama cukup cerdik menyiasati adegan percintaan yang kurang pantas dengan cukup menunjukkan siluet saja.
Selanjutnya, “Wasilah,” sebuah film romantis dua insan yang berbeda keyakinan yang dipertemukan dalam momen tak sengaja. Tema yang sangat dekat dengan penonton ini membuat adegan demi adegan romantis memancing penonton bersorak.

Film terakhir yang diputar adalah film bergenre horor, dengan judul “Terusik” . Film yang berusaha dikemas lucu, tetapi menegangkan ini menceritakan 3 mahasiswa bandel yang menempati kos-kosan baru, tetapi mengalami kejadian-kejadian aneh. Usut punya usut kamar samping kos-kosannya dulu adalah kos-kosan perempuan yang gantung diri karena menjadi korban perkosaan. Akting mahasiswi yang berperan sebagai perempuan korban perkosaan itu pun banyak menuai pujian.
Siroy, dosen pengampu matakuliah Sinematografi, mengungkapkan rasa bangga atas hasil yang dicapai para mahasiswanya. ” Pada awalnya pesimis, karena harus memberikan pemahaman materi sinematografi hanya dalam 1 semester. Ternyata hasilnya cukup mengesankan dengan karya yang sudah dibuat oleh mereka. Bahkan film horor, ‘Terusik,’ yang semula saya ragukan hasilnya karena berkali-kali diubah skenarionya, justru menghasilkan kejutan yang luar biasa,” ujarnya dengan penuh semangat.

Usai penayangan film, host acara meminta Antony Saputra, perwakilan dari Himpunan Dokumentasi Indonesia, yang diundang khusus untuk tampil di pentas. Antony turut memberikan apresiasi atas kreativitas yang ditunjukkan oleh mahasiswa KPI. Menurutnya karya-karya mahasiswa, yang masih pemula dan dengan alat seadanya ini diluar ekspektasinya. Ia juga tak sungkan berbagi ilmu dengan para mahasiswa yang ada di ruangan tersebut. Selain itu ia juga memberikan kritikan bagi sutradara untuk mengkaji perundang-undangan sebelum menyajikan kepada publik sebagai sebuah film sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Ia mengambil satu contoh adegan merokok di lingkungan kampus. Selebihnya Antony memberikan masukan agar acara seperti ini dapat lebih semarak jika ada penghargaan untuk kategori-kategori seperti aktor terbaik, sutradara terbaik, dan penulis naskah terbaik. “Saya rasa penting untuk memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi para pembuat film,” tambah Antony.

Acara ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa KPI tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam bentuk karya nyata yang membanggakan. Kedepannya, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan untuk memberikan ruang bagi kreativitas mahasiswa dan mengasah bakat mereka dalam bidang sinematografi . (Lk)