Metro, metrouniv.ac.id – Ruang rapat di Rektorat UIN Jurai Siwo Lampung terasa berbeda pagi itu (1/10). Tidak sekadar menjadi forum evaluasi teknis, pertemuan pimpinan akademik yang dipimpin Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Prof. Dedi Irwansyah, menjelma menjadi ruang kolektif yang hangat dan penuh semangat pembaruan. Forum ini menjadi cerminan nyata dari transformasi kepemimpinan yang tidak berjarak, mendengarkan yang paling dekat dengan persoalan di lapangan, dan memberi ruang bagi tumbuhnya sinergi.

Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Ida Umami, dalam arahannya di awal forum, menekankan pentingnya menciptakan budaya kerja yang kolaboratif dan terbuka. Ia menaruh harapan besar pada jajaran pimpinan lain untuk aktif mengambil peran strategis dalam pengembangan kampus.
“Saya ingin jajaran pimpinan lainnya juga muncul. Saya tidak merasa tersaingi. Justru saya ingin memberi ruang seluas-luasnya bagi para wakil rektor dan lainnya untuk tampil, termasuk dalam forum-forum nasional. Harus ada regenerasi. Jangan sampai kesannya hanya rektor yang dominan,” tegas Prof. Ida.

Rektor menambahkan bahwa semangat kolektif seperti inilah yang akan menjadi fondasi kuat bagi UIN Jurai Siwo Lampung dalam menghadapi tantangan ke depan. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas unit dan fakultas sebagai kekuatan utama kampus.
“Saya ingin semua pimpinan di tingkat fakultas terus bersinergi. memberi pelayanan terbaik bagi mahasiswa kita,” kata Prof. Ida, menutup arahannya dengan nada optimistis.
Arahan tersebut disambut antusias. Para pimpinan fakultas, yang sebagian besar merupakan figur baru di struktur kelembagaan UIN Jurai Siwo, tidak menyia-nyiakan ruang yang diberikan. Dengan penuh semangat, mereka menyampaikan berbagai realitas yang dihadapi di tingkat operasional, mulai dari pelaksanaan perkuliahan semester ganjil, seminar proposal, hambatan pada proses kelulusan, dinamika kenaikan jabatan akademik dosen hingga keterbatasan sarpras yang ada.

Prof. Dedi Irwansyah yang memimpin langsung jalannya diskusi, menciptakan atmosfer yang kondusif. Di awal forum, ia bahkan menyampaikan satu isyarat yang kuat:
“Dalam rapat hari ini, kami sengaja tidak membawa HP. Ini bentuk mutual respect. Kita hadir sepenuhnya, untuk mendengarkan satu sama lain dan bersama-sama mencari solusi,” ujarnya.

Semangat forum begitu hidup. Tidak sekadar menyampaikan keluhan, para peserta terlibat aktif dalam menawarkan solusi, menajamkan arah kebijakan, dan membangun sistem kerja yang lebih adaptif dan efisien. Mereka hadir bukan sebagai pelaksana administratif, tapi sebagai mitra strategis dalam membangun masa depan institusi.
Rapat yang pada dasarnya beragendakan evaluasi kerja Bidang 1 ini melampaui tujuannya sebagai forum administratif saja. Ia bahkan menjadi refleksi dari arah kepemimpinan yang ingin menghapus sekat, membangun kepercayaan, dan menciptakan ruang yang nyaman untuk tumbuh dan bergerak bersama. (Lk)