Banjarrejo, metrouniv.ac.id, 28 Oktober 2024 – Dalam rangka menyemarakkan Hari Santri, sebuah bedah buku bertajuk “Rethinking Pesantren” karya Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasarudin Umar digelar di Perpustakaan Bait Al Hikmah, kampus 2 IAIN Metro. Acara ini mengundang dua narasumber, yaitu Prof. Akla, dosen, pimpinan IAIN Metro sekaligus pengasuh sebuah pondok pesantren di Lampung Timur dan Dr. As’ad, kepala perpustakaan Bait Al Hikmah, yang juga alumni Ponpes Darus Salam. sebagai keynote speaker kali ini adalah Prof. Siti Nurjanah, rektor IAIN Metro.

Di depan seratusan peserta yang hadir, Ketua pelaksana, Khotijah, SIP, M.H.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program “Santri Goes to Library.” Ia berharap acara ini dapat memberikan banyak manfaat bagi seluruh peserta.

Prof. Siti Nurjanah dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah berkontribusi dalam inisiatif bedah buku ini. Ia menekankan pentingnya buku karya Dr. Nasarudin Umar untuk membuka cakrawala pemikiran tentang pesantren, serta mengingatkan kembali peranan santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Prof. Siti juga memperkenalkan sosok Penulis, prof. Nasarudin sebagai seorang yang alim, bijak serta mengayomi. Beliau adalah pendiri organisasi lintas agama untuk masyarakat, memiliki pengalaman luas dalam bidang ini, termasuk pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Kementerian Agama RI. Karirnya tak pernah surut, menjadi wakil menteri Agama periode 2011 sd 2014 dan saat ini menjadi Menteri Agama di kabinet Merah Putih era Presiden Prabowo Subianto.
Sesi bedah buku dipandu oleh moderator, Tari Eka Miyanti, SIP, seorang fungsional pustakawan di Baitul Hikmah. Ia mempersilahkan Prof. Akla sebagai narasumber pertama untuk membahas buku dari sudut pandang seorang pemilik Pondok Pesantren.

Prof. Akla mengingatkan pentingnya memahami sejarah pesantren, terutama dalam menghadapi tindakan radikal yang sering kali memanfaatkan nama pesantren. Pada akhrirnya pesantrenlah yang mendapat stigma buruk dari masyarakat dan warga dunia sebagai agama teroris.
Prof. Akla juga menjelaskan bahwa santri memiliki peran vital dalam perjuangan Indonesia sejak masa penjajahan, dengan tradisi keilmuan yang terus berkembang. Ia menguraikan dua gelombang besar masuknya Islam ke Indonesia, mulai dari abad ke-13 hingga abad ke-19, yang berkontribusi pada pembentukan pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengembangan moral.

Selanjutnya, narasumber kedua, Dr. As’ad, yang juga alumni Pondok Pesantren Darussalam, membuka prolog dengan bahasa Arab. Ia seperti mewakili generasi yang lebih muda dalam menimbang pesantren dan tantangan kemajuan zaman. Ia mengawali penjelasan secara umum tentang pesantren sebagai sebuah ekosistem yang terdiri dari kiyai, santri, dan pondok dengan kurikulum khas keagamaannya. Di sisi ini ia menekankan bagi mahasiswa untuk mengaktualisasi diri dalam konteks kepesantrenan yang santun, mendalami dan memegang teguh agama, serta terus memperkaya wawasan dengan berbagai literasi meskipun tidak tinggal di pesantren sebagai “santri”. Tetapi era digital, menjadi tantangan tersendiri bagi santri. Alih-alih menjaga diri dari kontaminasi dunia justeru santri bisa tergerus oleh zaman. Sehingga santri harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan AI yang kini sedang berkembang pesat. Sehingga santri dapat tetap eksis dan berkontribusi serta mengambil peran terdepan dalam membawa kemajuan bagi bangsa ini.
Acara ini menjadi lebih semarak ketika moderator menawarkan beberapa bingkisan hadiah bagi para peserta yang bertanya.
Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong generasi muda untuk terus menggali nilai-nilai kepesantrenan dan berkontribusi positif di masyarakat. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi seluruh peserta dan menjadi langkah awal dalam memperkuat pemahaman tentang pesantren di Indonesia. (Lk)