Tulungagung, metrouniv.ac.id-Membahas persoalan mahasiswa PTKIN yang belum memiliki kemampuan dalam membaca Al-Qur’an dengan benar dan lancar, IAIN Metro dan IAIN Tulungagung Jawa Timur saling bertukar pengalaman membicarakan hal tersebut. Sesi tukar pengalaman di bidang kemahasiswaan dan kerjasama tersebut berlangsung pada saat kunjungan kerja IAIN Metro ke IAIN Tulungagung hari ini. Jum’at (07/09).
Selama ini IAIN Metro dan IAIN Tulungagung memiliki permasalahan yang sama dalam bidang kemahasiswaan, yaitu banyaknya input mahasiswa yang berasal dari sekolah umum non madrasah aliyah atau pesantren. Tidak heran jika banyak mahasiswa PTKIN khususnya di IAIN Metro dan di IAIN Tulungagung yang belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan lancar dan benar.
Menurut Prof. Mastukin Rektor IAIN Tulungagung, banyaknya input mahasiswa dari sekolah umum merupakan suatu kebahagiaan. Pasalnya, hal ini mengindikasikan bahwa PTKIN semakin diminati anak-anak lulusan sekolah umum. Namun, prof. Mastukin mengingatkan bahwa perlu ada tindakan khusus dalam memberikan pendidikan tambahan membaca Al-Qur’an bagi mahasiswa lukisan sekolah umum yang memiliki kemampuan rendah dalam membaca Al-Qur’an.
Lebih lanjut Prof. Mastukin menceritakan strategi IAIN Tulungagung mengatasi masalah tersebut dengan membentuk sistem ma'had bagi semua mahasiswa baru, tanpa gedung asrama atau tanpa dititipkan di pesantren sekitar kampus. Ma'had lebih menonjolkan fungsinya, yaitu pembelajaran Al-Qur’an. Setiap pagi, senin s/d kamis, saat jam pertama perkuliahan, praktik Ma'had dijalankan. Sudah berjalan satu tahun dan efektif untuk menjadikan semua mahasiswa baru dapat membaca Al quran dengan baik dan lancar.
Menurut Dr. Ida Umami, M.Pd, Kons Wakil Rektor III IAIN Metro, sistem ma’had pantas diterapkan di PTKIN yang belum memiliki fasilitas asrama. “Sistem ma'had seperti ini memungkinkan diterapkan di semua kampus PTKIN yang belum memiliki gedung asrama mahasiswa, seperti di IAIN Metro.” Ujar Ida Umami.