metrouniv.ac.id – Metro, Lampung
Acara Seminar Nasional PAI Pascasarjana IAIN Metro menghadirkan narasumber yang pakar di bidang pendidikan, dua orang Guru Besar dari PTKIN terkemuka di Indonesia, yaitu Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., Guru Besar bidang Pendidikan dari UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, dan Prof. Dr. Ali Mudhofir, M.Ag., Guru besar bidang Pendidikan dan ilmu Keguruan di UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dr. Mahrus As’ad, M.Ag dari IAIN Metro.
Diawali dengan penjelasan awal dari moderator, Dr. Ratu Vina Rohmatika, M.Pd. bahwa guru pendidikan agama Islam kini semakin tertantang untuk mengkreasikan cara mengajarnya dengan berbagai strategi, pendekatan, model, metode, teknik, serta taktik pembelajaran, karena menghadapi siswa zaman now yang memiliki berbagai karakter dengan tantangan era education 4.0 yang dikombinasikan dengan penerapan K-13 dengan integrasi pendidikan karakter dan berfikir tingkat tinggi atau disebut juga HOTS (Higher Order Thinking Skill), untuk itu guru harus lebih kreatif dalam mendidik dan mengimplementasikan pembelajaran PAI disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran .
Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., pada kesempatan tersebut menjelaskan bahwa seluruh pendidik yang tidak siap dengan era masa kini maka akan ditinggalkan para muridnya, sehingga dibutuhkan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran PAI. Menurut beliau Pendekatan PAI yang berjalan selama ini dapat dibedakan kepada dua macam, yaitu pendekatan Normatif dan Empiris. Pendekatan normatif berangkat dari norma-norma ajaran Islam, bersifat top-down. Sedangkan pendekatan empiris berangkat dari realitas kehidupan, bersifat bottom-up. Dengan kata lain, jika mengikuti metode double movement, pendekatan normatif itu bergerak dari atas (kitab suci) menuju ke bawah (realitas kehidupan), sebalinya pendekatan empiris itu berangkat dari realitas kehidupan (bawah) menuju norma agama pada kitab suci. Pendekatan yang tepat dalam pembelajaran PAI saat ini menurut beliau adalah pendekatan empiris, karena langsung mengena ke permasalahan siswa dan membantu menyelesaikannya.
Menurut beliau, Guru harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswah hasanah dalam kehidupannya, sehingga, PAI pada era 4.0 harus: Fokus pada problem subyek didik, Berparadigma inklusif, Berorientasi pada perbaikan subyek didik, Berangkat dari kondisi obyektif subyek didik, kemudian ditemukan problem-problem mereka, dari problem-problem itu kemudian dicarikan solusinya pada ajaran agama Islam. Dan juga guru PAI harus menjadikan subyek didik dituntut menjadi kader bangsa yang berakhlak mulia dengan berkolaborasi dengan semua guru di sekolah untuk internaslisasi nilai-nilai akhlak mulia beserta penilaiannya.
Sedangkan, Prof. Dr. Ali Mudhofir, M.Ag., Guru besar bidang Pendidikan dan ilmu Keguruan di UIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan tentang Inovasi Pembelajaran PAI di era education 4.0. beliau menjelaskan bahwa guru masa kini harus bisa menginspirasi semua siswanya, guru harus mendidik siswa dengan berfikir tingkat tinggi atau HOTS dalam menyusun RPP sebagai document curriculum dan saat implementasi pembelajaran atau actual curriculum.
Sedangkan bapak Dr. Mahrus As’ad, M.Ag., Wakil Direktur pascasarjana IAIN Metro, menjelaskan strategi pembelajaran PAI di era education 4.0 adalah menggunakan blended learning yakni pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered) dengan memadukan pembelajaran off line dan online. Beliau menjelaskan bahwa pembelajaran saat ini harus menjadikan siswa sebagai subjek pendidikan yang berorientasi pada siswa, bukan berorientasi pada guru, sehingga siswa dimanapun dan kapanpun bisa menikmati pembelajaran PAI dengan mudah.—RVR—