Metro, metrouniv ac.id — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Mahasiswa Pecinta Seni (IMPAS) Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung resmi menapaki usia ke-26 tahun dengan menggelar perayaan Hari Lahir (Harlah) bertema “Jejak Ekspresi Menyatukan Rasa Mengukir Karya.”

Kegiatan yang dilaksanakan pada malam Minggu (13/9) tersebut digelar di Gedung Serba Guna Kampus 1 UIN Jusila. Momentum ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan refleksi perjalanan panjang IMPAS dalam mewarnai ranah seni di lingkungan kampus dan masyarakat. Selama lebih dari dua dekade, IMPAS telah menjelma menjadi wadah produktif bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi kreativitas, mengekspresikan nilai-nilai estetik, serta memperkuat jejaring solidaritas melalui bahasa seni yang inklusif dan universal.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Akla, menyampaikan apresiasi mendalam atas kiprah IMPAS selama ini. Ia menegaskan bahwa kontribusi IMPAS tak dapat dilepaskan dari berbagai momen penting kampus—baik pada tataran seremoni resmi maupun dalam membentuk atmosfer kebudayaan kampus yang hidup.

“IMPAS bukan hanya eksis, tetapi aktif memberi warna dalam setiap kegiatan institusi. Paduan suara, tari, pembacaan puisi, hingga pertunjukan musik. Hampir di setiap momentum penting kampus, IMPAS hadir menyumbangkan karya terbaiknya. Ini bentuk dedikasi yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Tak hanya dihadiri oleh pimpinan universitas, acara ini juga mendapatkan dukungan dari Pembina Impas, Ayyesha DF, M PD., juga Tim Layanan Akademik, yang turut menyaksikan dan mengapresiasi geliat seni yang ditampilkan para mahasiswa. Kehadiran berbagai unsur sivitas akademika menunjukkan bahwa seni bukan elemen pinggiran, melainkan bagian integral dalam ekosistem pendidikan tinggi.

Rangkaian kegiatan berlangsung semarak, menampilkan pertunjukan musik akustik, tari tradisional dan kontemporer, pembacaan puisi, serta pameran karya seni mahasiswa. Setiap pertunjukan bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi bukti konkret konsistensi IMPAS dalam melestarikan dan mentransformasikan potensi seni mahasiswa menjadi bentuk ekspresi yang membangun.
Tema “Jejak Ekspresi Menyatukan Rasa Mengukir Karya” pun terasa hidup sepanjang perayaan. Dalam setiap detik pementasan, tergambar semangat kolektif untuk menjadikan seni sebagai medium perekat, sekaligus sarana untuk mengukir identitas dan kontribusi yang bermakna.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah alumni IMPAS, yang tak sekadar menjadi saksi sejarah, tetapi hadir memberikan semangat dan inspirasi bagi generasi penerus. Kehadiran mereka menjadi pengingat akan pentingnya kontinuitas gerakan seni mahasiswa sebagai bagian dari pembangunan karakter dan peradaban kampus.
UKM IMPAS telah membuktikan bahwa seni bukan hanya ekspresi rasa, tetapi juga instrumen pengabdian. Dalam usia ke-26 tahun ini, IMPAS bukan hanya merayakan masa lalu, tetapi juga menatap masa depan. Dengan semangat baru untuk terus berkarya sekaligus memperluas dampak bagi kampus dan masyarakat luas. (Lk/Ay)