Words have power.
Words are power.
Words could be your power.
(Mohammed Qahtani)
metrouniv.ac.id – 23/08/2026 – 10 Rabiul Awal 1448 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Bahasa, kadang-kadang seperti tanah lapang. Orang dapat membangun apa saja di atasnya. Istana. Sekolah. Rumah sakit. Tembok. Jembatan. Hingga tempat-tempat ibadah.
Yang dibangun bergantung pada apa yang ada di kepala. Yang dibangun juga dipengaruhi oleh apa yang bersemayam di dada. Barangkali itu kenapa ada ragam adagium tentang bahasa dan unsur-unsur pementuknya seperti kalimat dan kata-kata.
Di Barat, dikenal adagium because words carry weight, karena kata-kata membawa bobot, memiliki berat jika ditimbang. Ini adalah undangan untuk bijak dalam berbahasa. Karena dua kalimat dengan makna yang kurang lebih senada, bisa mendatangkan akibat yang berbeda. Seperti kalimat “I disagree” dan “I see it differently.”
Kalimat “I disagree” (Aku tidak setuju) terdengar biasa dan sederhana. Tetapi begitu ia terucapkan, sebuah tembok pemisah lantas terbangun. Sebuah pintu yang tadinya terbuka, lalu tertutup. Bandingkan dengan “I see it differently” (Saya punya cara pandang yang sedikit berbeda). Kalimat ini mengakui perbedaan pandangan. Semacam bahasa halus dari kalimat pertama tadi. Namun, begitu ia terutarakan, ada jembatan yang sedang ingin dibangun. Ada pintu yang ingin dibiarkan tetap terbuka. Dua kalimat yang senada namun berbeda rasa. “I disagree” membangun tembok psikologis. “I see it differently”, membentangkan jembatan komunikasi.
Di Nusantara, kadang terdengar tentang bahasa membawa rasa. Ungkapan yang menunjukkan pentingnya menjaga perasaan lawan bicara. Karena dua ungkapan yang sewarna-secara-makna, bisa menghadirkan rasa yang benar-benar berbeda. Seperti ungkapan “Kamu salah” dan “Ada yang perlu kita perbaiki bersama.”
Kalimat “Kamu salah” mungkin benar, paling tidak secara gramatika. Namun entah mengapa, kalimat itu kerap mendatangkan rasa getir nan pahit bagi pendengarnya. Berbeda jika yang terucap adalah “Ada yang perlu kita perbaiki bersama.” Terdengar lebih legit. Bahkan jika kalimat ini terdengar pahit, ia adalah pahit yang menyehatkan seperti jamu. Jadi, “Kamu salah” dan “Ada yang perlu kita perbaiki bersama,” keduanya memiliki makna yang tidak jauh berbeda. Namun keduanya memberi rasa yang tak sama. Yang pertama terasa seperti ‘menyodorkan telunjuk,’ yang kedua terasa bagai ‘mengulurkan tangan.’
Dalam pada itu, Islam adalah tradisi yang memberi perhatian besar pada penggunaan bahasa. Sebuah perhatian yang mungkin luput dalam kajian linguistik modern. Betapa Islam mendefinisikan kalimat sebagai potensi sedekah. Al-kalimah al-ṭayyibah ṣadaqah (HR. Bukhari). Sehingga, kalimat, perkataan, penggunaan bahasa yang santun adalah sedekah.
Diduga keras, bahwa kalimat seperti “I see it differently” dan “Ada yang perlu kita perbaiki bersama” adalah bentuk sedekah melalui bahasa. Satu kalimat dapat menjadi sedekah. Jika kalimat itu menyelamatkan perasaan dan muka seseorang. Dan manakala kalimat itu mengubah hidup orang lain, ke arah yang lebih baik.
Tradisi Islam tampak setuju dengan gagasan tentang words carry weight. Bahwa kata-kata memiliki bobot dan berat. Karena masyhur di kalangan Muslim, hadits tentang dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan. Dua kalimat itu adalah “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (HR. Bukhari). Namun, barangkali berbeda dari perspektif linguistik modern, bobot kalimat dalam Islam tidak hanya berdampak di dunia (in this life), namun juga di kehidupan setelah dunia ini (in the life after this life).
Syahdan, Mohammed Qahtani, tampak menyadari betul tentang itu semua. Ia hanya mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Menurutnya, words have power. Setiap kata punya kekuatan. Words are power. Karena kata-kata adalah kekuatan itu sendiri. Kekuatan yang bisa digunakan untuk membangun jembatan atau meruntuhkan dinding. Kekuatan yang dapat dipakai untuk mencipta rasa manis atau getir. Words could be your power. Kata-kata bisa menjadi kekuatan yang membawa manusia ke sebuah aksi, suasana, dan tempat. Inspiratif!
‘Alaa kulliy haal, bahasa adalah tanah lapang. Kita bebas mendirikan apa saja di atasnya. Tetapi setiap bangunan yang didirikan, memiliki fungsi dan akibat. Di titik itu, bahasa patut digunakan secara cermat dan bijak. Sebab kata memunyai berat. Sebab kata mendatangkan rasa. Sebab bagi umat Muslim, kata adalah sedekah yang bisa menjadi titian (wasilah) menuju surga. Wallahu a’lam.