Oleh: Dr. Zusy Aryanti, M.A.*
Ada orang tua yang menganggap bahwa mendidik anak adalah kegiatan serius. Harus dilakukan pada waktu tertentu. Di tempat tertentu. Kalau perlu, dengan wajah tertentu pula. Wajah yang menunjukkan bahwa sebentar lagi akan ada nasihat penting tentang kehidupan. Padahal, anak-anak sering kali tidak membutuhkan semua itu. Bahkan, boleh jadi anak justru lebih mudah belajar tentang kehidupan ketika orang tuanya sedang tidak merasa sedang mendidik.
Sebuah moment singkat di depan gerbang sekolah, pertengkaran kecil terjadi.
“Ayo pulang!”
“Sebentar, Bu. Masih mau main.”
“Nggak bisa. Ayo sekarang!”
Anak cemberut. Ibu kesal. Keduanya pulang dengan suasana hati yang tidak menyenangkan. Padahal, masalahnya cuma satu: anak ingin bermain sebentar, sementara ibunya ingin segera pulang. Urusan yang mestinya bisa diselesaikan dengan percakapan pendek malah berubah menjadi adu kekuasaan. Seperti biasa, orang tua menang. Bukan karena argumennya lebih bagus, melainkan karena orang tua memang memegang kekuasaan.
Begitulah. Dalam banyak keluarga, anak yang baik sering kali didefinisikan sebagai anak yang penurut. Disuruh mandi, mandi. Disuruh makan, makan. Disuruh diam, diam. Kalau bisa, sebelum perintah selesai diucapkan, anak sudah melaksanakannya. Anak yang banyak bertanya dianggap cerewet. Anak yang mengajukan alasan dianggap membantah. Anak yang punya keinginan berbeda kadang dicap keras kepala. Kita ingin anak tumbuh mandiri, tetapi sejak kecil hampir semua keputusan kita ambilkan. Agak aneh juga, bukan?
Anak bukan Robot
Edward Deci dan Richard Ryan, melalui self-determination theory, menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk merasa punya kendali atau otonom atas tindakannya sendiri (Ryan & Deci, 2000). Dalam pengasuhan, gagasan ini dikenal sebagai autonomy support, yaitu pengasuhan yang memberi kesempatan atau mendukung untuk anak merasa otonom. Anak tidak cukup hanya diberi kesempatan memilih. Ia juga perlu didengarkan ketika berbeda pendapat, diberi penjelasan ketika dilarang, dan dipercaya mengambil keputusan kecil sesuai usianya. Bagaimana anak akan belajar menentukan pilihan jika hampir semua hal dalam hidupnya sudah diputuskan orang lain?
Tentu saja bukan berarti anak bebas melakukan apa saja. Kalau anak ingin bermain gawai sampai tengah malam, orang tua tidak perlu mengangguk demi menghormati kebebasannya. Anak tetap membutuhkan aturan. Hanya saja, aturan tidak harus selalu datang dalam bentuk perintah yang tidak boleh dipertanyakan.
Misalnya, daripada berteriak, “Pokoknya pulang sekarang!”, orang tua bisa berkata, “Mau langsung pulang atau main lima menit lagi? Setelah itu kita pulang, ya.” Sama-sama pulang. Bedanya cara pertama anak diminta patuh dan cara kedua anak belajar membuat pilihan sekaligus memahami batasan batasan. Lima menit tambahan bermain mungkin terlihat sepele, namun ketika waktunya habis, anak belajar bahwa memilih juga berarti menepati kesepakatan.
Kemandirian tidak tiba-tiba muncul ketika anak berusia tujuh belas tahun, punya KTP, atau mulai kuliah. Kemandirian dilatih sejak kecil, melalui keputusan-keputusan sederhana yang kadang kita anggap tidak penting.
Ada kebiasaan lain yang juga menarik. Ketika anak mulai bercerita tentang masalahnya, kita sering kali lebih cepat menyiapkan nasihat daripada mendengarkan ceritanya sampai selesai. Orang tua sering merasa harus memberikan nasihat setiap kali anak bercerita tentang masalahnya. Anak mengeluh karena bertengkar dengan teman, langsung dinasihati tentang persahabatan. Anak kecewa karena mainannya direbut, segera diberi ceramah tentang kesabaran. Anak baru bercerita dua kalimat, nasihat orang tua sudah sepanjang pidato. Padahal, mungkin anak hanya ingin didengarkan. Ketika anak mengatakan bahwa ia sedih karena tidak diajak bermain, respons sederhana seperti, “Oh, pantas kamu sedih. Terus bagaimana?” bisa jauh lebih berarti daripada rentetan nasihat yang belum tentu ia pahami.
Mendengarkan bukan berarti membenarkan semua tindakan anak. Ketika anak bercerita bahwa temannya merebut mainannya, kita mungkin cukup mendengarkan dan memahami kekesalannya. Berbeda halnya jika ia mengaku membalas dengan memukul, di situlah kita perlu menegur. Bukan karena ia tidak boleh marah, melainkan karena kemarahan tidak boleh menjadi alasan untuk menyakiti orang lain.
Kita wajib menegur dan meluruskan kesalahan ,Tetapi memahami perasaan anak sebelum menghakiminya adalah bagian penting dari pengasuhan. Anak yang merasa didengarkan akan lebih nyaman bercerita. Sebaliknya, jika setiap cerita selalu berakhir dengan teguran, lama-kelamaan anak bisa memilih diam.
Ketika anak sudah memilih diam, orang tua biasanya mulai mengeluh, “Anak saya sekarang kok nggak pernah cerita apa-apa?” boleh jadi dulu ia sering bercerita. Hanya saja, kita terlalu sibuk menasihatinya.
Bebas, tetapi Ada Batas
Mendukung kemandirian anak memang membutuhkan kesabaran. Memberikan pilihan, mendengarkan alasan, dan menjelaskan aturan jelas lebih melelahkan daripada sekadar mengatakan, “Pokoknya harus!”. Pengasuhan bukan perlombaan mencari cara paling cepat membuat anak diam. Pengasuhan adalah proses mempersiapkan anak agar suatu hari mampu mengatur dirinya sendiri. Jika sejak kecil semua keputusan diambilkan orang tua, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang selalu menunggu arahan. Bahkan untuk urusan sederhana, ia mungkin ragu menentukan pilihan sendiri karena terbiasa diberi tahu apa yang harus dilakukan.
Anak perlu belajar bahwa keinginannya tidak selalu harus dipenuhi. Ia juga perlu memahami bahwa aturan dibuat karena ada alasan, bukan semata-mata karena orang tua lebih berkuasa.
Pada waktu anak diberi kesempatan memilih, ia belajar mengambil keputusan. Ketika perasaannya didengarkan, ia belajar mengenali emosi. Saat sebuah larangan dijelaskan, ia belajar memahami tanggung jawab. Semua itu merupakan bagian dari autonomy support. Anak boleh menyampaikan keberatan ketika diminta berhenti bermain. Kita perlu mendengarkan alasannya, tetapi kesepakatan waktu tetap harus dijalankan. Dengan begitu, anak belajar bahwa pendapatnya dihargai, meskipun tidak setiap keinginannya harus dipenuhi.
Sayangnya, kita kadang ingin menikmati hasil tanpa bersedia menjalani prosesnya. Ingin anak percaya diri, tetapi pendapatnya sering dipatahkan. Ingin anak mandiri, tetapi setiap tindakannya diatur. Ingin anak bertanggung jawab, tetapi kesempatan mengambil keputusan hampir tidak pernah diberikan. Lalu, ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang selalu menunggu arahan, kita heran sendiri.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah sedikit cara mengasuh anak. Tidak perlu perubahan besar. Mulailah dari hal-hal sederhana: memberi dua pilihan yang masuk akal, mendengarkan cerita tanpa buru-buru menghakimi, atau menjelaskan alasan ketika melarang sesuatu. Bahkan, perjalanan singkat dari sekolah menuju rumah bisa menjadi kesempatan untuk melatih kemandirian anak, seperti memberi kesempatannya menentukan pilihan mau langsung pulang atau bermain dulu.
Tujuan mendidik anak bukan membuatnya agar selalu menurut ketika kita berada di dekatnya tetapi justru agar anak mampu menentukan apa yang baik ketika kita tidak lagi berada di sampingnya. Kalau sejak kecil semua keputusan harus menunggu perintah orang tua, jangan heran jika kelak, setelah dewasa, ia masih bingung menentukan langkahnya sendiri. Bukan karena anak tidak mampu berpikir tapi karena kita terlalu jarang memberinya kesempatan. Bukanlah ruang luas yang dibutuhkan anak namun orangtua yang bersedia memberi ruanglah yang paling dinantikan anak.
*Kaprodi PIAUD pada UIN Jurai Siwo Lampung