“Ikrar ini lahir dari puncak Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 di Batavi, tonggak sejarah penting pergerakan nasional Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan”
metrouniv.ac.id – 28/10/2026 – 17 Jumadil Awal 1448 H
Prof. Dr. Siti Nurjanah, M.Ag. (Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Pendahuluan
Tanggal 28 Oktober menjadi hari penting bagi bangsa Indonesia, yaitu Peringatan Hari Sumpah Pemuda. Upacara dilaksanakan, teks ikrar dibacakan, dan berbagai kegiatan digelar di berbagai tempat. Namun, di balik rutinitas peringatan tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama: apakah Sumpah Pemuda masih menjadi kompas kehidupan bagi pemuda masa kini, atau sekadar menjadi kenangan sejarah yang perlahan memudar dimakan zaman?
Pertanyaan tersebut di atas menjadi konsentrasi berfikir dan berbuat untuk melihat kondisi riil saat ini. Hal itu mengingatkan kita bahwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 bukanlah sekadar rangkaian kata-kata indah yang diucapkan di ruang pertemuan. Ia adalah titik balik perjuangan bangsa Indonesia untuk bersatu, berdaulat dalam berbangsa dan bernegara. Saat itu, para pemuda menyadari bahwa tanpa persatuan, impian untuk berdiri sebagai bangsa yang merdeka hanyalah angan-angan belaka. Mereka meletakkan perbedaan di belakang dan berdiri bersama atas nama satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Siapa Sebenarnya yang “Disumpahin”?
Seringkali kita memahami Sumpah Pemuda hanya sebagai peristiwa masa lalu Yang terjadi di kalangan para pemuda tahun 1928 saja yang bersumpah, dan selesai hanya sampai di sana. Padahal, pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang tidak utuh utuh. Namun justru Tahun 1928 itu menjadi momentum awal pengucapan sumpah secara terbuka akan janji yang harus dilakukan oleh semua pemuda Indonesia, dulu, kini, dan yang akan datang.
Sumpah Pemuda bukanlah ikrar yang diucapkan untuk satu generasi saja. Ia adalah ikrar yang dititipkan dari generasi ke generasi. Para pemuda tahun 1928 bersumpah bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk kita semua pemuda masa kini, dan generasi-generasi yang akan datang. “Disumpahin” artinya, kita adalah pihak yang “disumpahkan” oleh ikrar tersebut. Sumpah sebagai sebuah ikrar yang harus diwujudkan dalam laku nyata sehari-hari di bumi persada ini.
Kita menerima amanah untuk tetap bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia. Sumpah itu hidup selama bangsa ini ada, dan setiap generasi pemuda memiliki tanggung jawab untuk menghidupkannya kembali dalam tindakan nyata.
Makna Utuh dari Tiga Butir Sumpah
Untuk dapat menepati sumpah tersebut, kita perlu memahami makna mendalam dari setiap butir ikrarnya:
Pertama: Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Air Indonesia
Sebuah sumpah yang memberikan arti bahwa seluruh wilayah nusantara, dari Sabang sampai Merauke, adalah rumah kita bersama. Tidak ada daerah yang lebih utama atau lebih terpinggirkan. Ketika satu daerah mengalami kesulitan, seluruh bangsa merasakannya. Kesetiaan kepada tanah air berarti menjaga kelestariannya, memajukan kesejahteraan seluruh rakyatnya, dan berjuang mempertahankannya dari segala ancaman. Semua bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga rumah besar Indonesia tercinta
Kedua: Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia
Identitas suku, agama, ras, dan golongan adalah sebuah keniscayaan terjadi di setiap negara dan tidak terkecuali Negara Indonesia. Namun di negara kita ada identitas yang lebih tinggi dan menyatukan kita semua yaitu bangsa Indonesia. Keberagaman bukanlah alasan untuk berpecah, tetapi justru itu adalah sebuah kekuatan utama bangsa ini. Bersumpah berbangsa satu berarti menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok atau golongan.
Ketiga: Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah jembatan pemahaman antarberbagai suku dan budaya. Menjaganya berarti menggunakannya dengan baik dan benar, sekaligus menghormati bahasa daerah sebagai kekayaan budaya bangsa. Dengan bahasa yang sama sebagai alat komunikasi anatarberbagai suku dan budaya, kita saling memahami, bekerja sama, dan membangun peradaban bersama dengan tekad memajukan negara Indonesia.
Tantangan Pemuda Masa Kini
Kini 98 Tahun usia Hari Sumpah Pemuda, itu artinya hampir satu abad telah berlalu ikrar itu diucapkan. Kondisi dunia telah berubah secara luar biasa cepat. Kemajuan teknologi, arus informasi, dan dinamika global membawa tantangan baru bagi keutuhan bangsa. Sebagaimana kita saksikan hari ini bahwa telah terjadi senyatanya tentang:
- Polarisasi dan perpecahan di ruang digital: Informasi yang tidak terverifikasi sering kali memicu pertentangan antar-kelompok. Perbedaan pendapat kerap berubah menjadi permusuhan.
- Memudarnya rasa kebangsaan: Sebagian kalangan pemuda menganggap nasionalisme adalah konsep yang sudah tidak relevan. Padahal, rasa cinta tanah air adalah fondasi keberadaan sebuah negara.
- Meningkatnya individualisme: Semakin banyak pemuda yang hanya peduli pada dirinya sendiri, mengabaikan kepentingan bersama. Padahal, persatuan membutuhkan partisipasi semua pihak.
- Kehilangan kebanggaan identitas: Di tengah derasnya pengaruh budaya asing, sebagian pemuda merasa malu dengan identitas kebangsaan mereka sendiri. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga akan identitasnya.
Menepati Janji dalam Teks Sumpah Pemuda: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Bersumpah setia kepada bangsa dan negara tidak harus selalu dengan tindakan yang luar biasa besar, meski ini tetap diperjuangkan dengan segala kemampuan. Namun ada hal yang juga tidak kalah pentingnya dalam mewujudkan ketepatan terhadap sumpah itu melalui pelaksanaan terhadap hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan setiap hari:
- Bangga menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik, sekaligus melestarikan budaya daerah masing-masing. Kearifan lokan menjadi kebanggan yang harus dijaga dan dilestarikan jangan sampai punah.
- Menggunakan media sosial secara bijak. Tidak menyebarkan ujaran kebencian, tidak melakukan provokasi terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan. Ini adalah cara kita berupaya terus menjaga persatuan di era digital
- Berani mengkritik untuk kebaikan, bukan untuk menghancurkan. Kritik membangun bukan kritik untuk menjatuhkan adalah bukti cinta dan setia kita kepada Negara Indonesia. Cinta kita wujudkan pada rasa memiliki seutuhnya atas negeri yang kita tempati. setia kepada bangsa berarti kita ingin menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terus menjadi lebih baik, sehingga terwujud bangsa yang maju dan rakyat sejahtera.
- Belajar dan berkarya dengan sungguh-sungguh, dengan menggunakan kemampuan yang dimiliki dan fasilitas kemajuan yang ada secara nyata di dunia masa kini. Hal ini sangat penting, karena membangun bangsa membutuhkan pemuda yang cerdas, terampil, dan berakhlak mulia.
- Menjaga fasilitas umum dan lingkungan. Jangan justru merusaknya tanpa berpikir panjang untuk kegunaannya. Cara ini adalah bentuk yang sederhana namun sangat bermakna besar bahwa kita mencintai tanah air kita.
- Menghormati orang lain tanpa memandang latar belakangnya. Sebab setiap orang telah diberi kelenihan dan kekurangan. Kelebihannya dapat digunakan untuk terus meningkatkan kebaikan-kebaikan, dan kekurangannya terus dibenahi agar dapat merubah menjadi kebaikan dan tidak boleh dijadikan bahan untuk diperbincangkan hal-hal yang tidak berguna dan sia-sia. Ini adalah wujud kita bertumpah darah dan berbangsa satu.
Keenam hal tersebut di atas bila dihubungkan dengan tagline Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026 sangat sesuai, yakni berjiwa Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda Untuk Indonesia. Berjiwa partiotik itu artinya, bahwa Pemuda harus bangga terhadap bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan sebagai alat berkomunikasi dalam berbangsa dan bernegara. Selanjutnya, Bijak dalam bermedia sosial dengan tidak melakukan ujaran kebencian. Lalu melakuKritik membangun untuk kebaikan sangat diperlukan untuk sarana perbaikan dan kemajuan, sedangkan kritik yang menjatuhkan apalagi sampai menjelek-jelekkan tidak boleh dilakukan, karena hal itu akan membuat kekacauan. Gigih dilakukan dengan belajar dan berkarya dengan sungguh-sungguh dengan segala kemampuan yang dimiliki dengan tetap menggunakan ketentuan yang dibenarkan. Berempati berati, menjaga fasilitas umum apapun yang disiapkan pemerintah agar dijaga dengan baik. Kemudian, menghormati orang lain jangan membeda-bedakan serta jangan melihat latar belakang, karena semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan.
Penutup
Sumpah Pemuda bukanlah warisan masa lalu yang hanya cukup untuk dikenang setahun sekali saja. Namun Ia adalah janji yang terus bergema, dari generasi ke generasi dan harus dipenuhi dalam setiap relung kehidupan. Para pendahulu telah meletakkan fondasi persatuan dengan pengorbanan yang luar biasa. Oleh sebab itu, sudah menjadi giliran tugas kita para pemuda masa kini penerus masa depan bangsa untuk tidak mengkhianati ikrar tersebut. Terus berjuang untuk kejayaan negeri Indonesia sampai titik darah penghabisan dengan segala kemampuan yang dimiliki saat ini dan yang akan datang.
Menjadi “disumpahkan” dalam Sumpah Pemuda bukanlah beban yang berat. Ia adalah kehormatan dan amanah terbesar yang diterima oleh generasi muda. Membangun bangsa yang maju, beradab, dan bersatu adalah tugas utama pemuda hari ini untuk mempersiapkan masa depan gemilang. Semoga kita tidak hanya mengulang sumpah itu dengan lisan, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata di setiap langkah kehidupan kita. Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026 “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda Untuk Indonesia”.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Tetaplah bersatu, wahai Pemuda Indonesia demi untuk keutuhan dan kemajuan bangsa dan negara!