Oleh:
Dr. Wahyu Abdul Jafar, M.H.I*
Setiap kali bulan Rabiulawal datang, suasana di berbagai tempat kembali semarak. Masjid dan mushala dipenuhi lantunan Sholawat. Majelis majelis digelar. Ceramah tentang kelahiran Nabi Muhammad saw. terdengar dari berbagai penjuru. Spanduk Maulid menghiasi halaman masjid, sekolah, kampus, hingga kantor pemerintahan. Semua itu tentu patut disyukuri.
Maulid Nabi bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi momentum untuk mengingat kembali sosok manusia yang telah mengajarkan bagaimana agama tidak berhenti pada ucapan, tetapi harus menjelma menjadi akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ada pertanyaan yang rasanya perlu kita ajukan setiap kali Maulid datang: setelah kita berkali kali bersholawat kepada Rasulullah, sejauh mana akhlak beliau hadir dalam perilaku kita?
Pertanyaan ini penting karena kita sedang hidup di tengah situasi yang agak paradoks. Di satu sisi, kecintaan kepada Rasulullah begitu mudah kita ungkapkan. Sholawat berkumandang di mana mana. Nama Nabi disebut dalam berbagai kesempatan. Tetapi di sisi lain, kita masih menyaksikan perilaku yang jauh dari nilai-nilai yang beliau ajarkan: kebohongan, fitnah, penghinaan, perundungan, ujaran kebencian, korupsi, kekerasan, dan berbagai bentuk ketidakjujuran yang semakin dianggap biasa. Jangan-jangan kita terlalu sibuk merayakan Maulid, tetapi lupa meneladani akhlak Nabi.
Ketika Agama Ramai, Akhlak Sepi
Krisis akhlak bukan selalu terlihat dalam bentuk kejahatan besar. Ia sering kali muncul dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita anggap sepele. Berbohong kepada orang lain. Mengingkari janji. Memotong pembicaraan. Menghina orang yang berbeda pendapat. Menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Memaki orang di media sosial. Mengambil sesuatu yang bukan haknya. Menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Bahkan, terkadang kita mudah sekali menilai kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit mengakui kesalahan sendiri.
Ironisnya, sebagian perilaku tersebut dilakukan oleh orang-orang yang secara lahiriah tampak sangat religius. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung. Jangan sampai keberagamaan kita hanya tampak dalam ritual, tetapi tidak terasa dalam perilaku. Jangan sampai masjid semakin ramai, tetapi kejujuran semakin langka. Jangan sampai Sholawat semakin banyak, tetapi lisan kita masih gemar menyakiti orang lain. Islam tentu tidak memisahkan ibadah dari akhlak. Keduanya semestinya berjalan bersama. Shalat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, dan Sholawat bukan sekadar aktivitas ritual yang selesai ketika dilakukan. Semua itu seharusnya membentuk manusia yang lebih baik dalam hubungan dengan sesama. Karena itu, ukuran keberhasilan keberagamaan seseorang tidak cukup dilihat dari seberapa sering ia berbicara tentang agama. Ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting: apakah kehadirannya membuat orang lain merasa aman, dihargai, dan diperlakukan dengan baik?
Nabi Muhammad dan Akhlak yang Hidup
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat kuat tentang pribadi Rasulullah. Allah menyebut beliau sebagai sosok yang memiliki akhlak yang agung. Rasulullah bukan hanya menyampaikan ajaran tentang kebaikan, tetapi menjadi contoh nyata dari kebaikan itu sendiri. Beliau jujur ketika kejujuran tidak selalu menguntungkan. Beliau amanah ketika kesempatan untuk menyalahgunakan kepercayaan terbuka lebar. Beliau mampu memaafkan ketika memiliki alasan untuk membalas. Beliau lembut kepada orang lain tanpa kehilangan ketegasan. Beliau menghormati manusia, termasuk mereka yang berbeda keyakinan dan pandangan. Karena itu, mencintai Rasulullah tidak cukup dengan mengatakan bahwa kita mencintainya. Cinta membutuhkan bukti.
Seorang anak yang mengaku mencintai Nabi seharusnya belajar menghormati orang tuanya dan gurunya. Seorang mahasiswa yang mencintai Nabi seharusnya menjunjung kejujuran dalam tugas dan ujian. Seorang dosen yang mencintai Nabi seharusnya memperlakukan mahasiswa dengan adil. Seorang pejabat yang mencintai Nabi seharusnya menjaga amanah kekuasaan. Seorang pedagang yang mencintai Nabi seharusnya tidak mengurangi timbangan. Seorang pengguna media sosial yang mencintai Nabi seharusnya menjaga lisannya dari fitnah dan penghinaan. Dengan demikian, Sholawat tidak berhenti di bibir. Ia bergerak menjadi karakter.
Media Sosial dan Ujian Akhlak Zaman Kini
Salah satu ruang terbesar untuk menguji akhlak kita hari ini adalah media sosial. Dulu, seseorang mungkin hanya dapat menyakiti orang lain dengan perkataan yang didengar oleh beberapa orang. Sekarang, satu unggahan dapat dilihat ribuan bahkan jutaan orang. Sebuah tuduhan dapat menyebar dalam hitungan menit. Potongan video dapat dipelintir. Informasi yang belum tentu benar dapat menjadi “kebenaran” hanya karena dibagikan berulang-ulang. Di sinilah ajaran Rasulullah tentang menjaga lisan menemukan relevansinya yang sangat kuat.
Lisan kita hari ini tidak hanya berada di mulut. Ia juga berada di jari-jari kita. Apa yang kita ketik adalah perkataan. Apa yang kita unggah adalah kesaksian. Apa yang kita bagikan adalah bentuk tanggung jawab. Karena itu, akhlak Nabi seharusnya juga hadir dalam cara kita menggunakan teknologi. Sebelum menekan tombol share, misalnya, kita perlu bertanya: apakah informasi ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah akan merugikan atau mempermalukan orang lain? Pertanyaan sederhana semacam ini sebenarnya merupakan bentuk kecil dari akhlak. Jangan sampai kita begitu rajin mengirim Sholawat, tetapi pada saat yang sama ikut menyebarkan fitnah. Jangan sampai kita mengagungkan Nabi di satu sisi, tetapi merendahkan manusia di sisi lain.
Maulid Harus Mengubah Kita
Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum evaluasi diri. Setelah menghadiri pengajian, mengikuti pembacaan Sholawat, atau mendengarkan kisah kehidupan Rasulullah, seharusnya ada sesuatu yang berubah dalam diri kita. Mungkin kita menjadi lebih sabar kepada pasangan. Lebih lembut kepada anak. Lebih menghargai orang tua. Lebih jujur dalam bekerja. Lebih amanah dalam memegang jabatan. Lebih santun ketika berbeda pendapat. Atau sekadar lebih berhati-hati ketika berbicara tentang orang lain.
Perubahan-perubahan kecil itulah yang justru penting. Sebab Rasulullah tidak datang hanya untuk membuat kita pandai mengagumi beliau. Beliau datang membawa keteladanan yang harus dihidupkan dalam kehidupan. Maka, barangkali tahun ini kita perlu merayakan Maulid dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak hanya memperbanyak acara, tetapi memperbanyak refleksi. Tidak hanya memperindah panggung, tetapi memperbaiki perilaku. Tidak hanya memperbanyak Sholawat, tetapi juga memperbanyak kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian. Sebab persoalan umat hari ini mungkin bukan karena kita tidak mengenal Nabi. Kita mengenal beliau. Kita hafal namanya. Kita sering menyebutnya. Kita bahkan menangis ketika mendengar kisah perjuangannya. Persoalannya adalah apakah kita bersedia mengikuti akhlaknya.
Cinta yang Terlihat dalam Kehidupan
Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah tidak seharusnya berhenti pada perasaan. Ia harus menemukan bentuknya dalam kehidupan. Cinta itu terlihat ketika kita memilih jujur meskipun berbohong lebih mudah. Terlihat ketika kita memaafkan meskipun hati masih terluka. Terlihat ketika kita menolong orang lain tanpa bertanya apa keuntungan yang akan kita dapatkan. Terlihat ketika kita menghormati orang yang berbeda. Terlihat ketika kita menolak mengambil hak orang lain meskipun tidak ada yang melihat. Itulah barangkali cara paling sederhana untuk membuktikan cinta kepada Rasulullah.
Maulid Nabi bukan sekadar perayaan tentang masa lalu. Ia adalah panggilan untuk memperbaiki masa kini. Di tengah krisis akhlak yang semakin nyata, kita membutuhkan lebih banyak manusia yang bukan hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi bersedia mempraktikkannya. Kita membutuhkan keberagamaan yang tidak hanya terdengar dari pengeras suara masjid, tetapi juga terasa dalam kejujuran di kantor, kesantunan di sekolah, keadilan di ruang publik, dan keramahan di tengah masyarakat.
Karena itu, ketika kita kembali mengucapkan Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, semoga Sholawat itu tidak berhenti sebagai rangkaian kata. Semoga ia turun ke hati, lalu bergerak ke tangan, menjadi tindakan. Turun ke lisan, menjadi perkataan yang baik. Masuk ke ruang keluarga, menjadi kasih sayang. Masuk ke tempat kerja, menjadi amanah. Masuk ke ruang publik, menjadi keadilan. Dan masuk ke dunia digital, menjadi etika. Sebab pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah yang paling indah bukan hanya yang terdengar dalam Sholawat, tetapi yang terlihat dalam akhlak.
*Dosen Fakultas Syari’ah UIN Jurai Siwo Lampung