Dari Rabat, Membuka Percakapan tentang Islam Lintas Budaya

Materi

“Ketika Satu Sudut Pandang Tak Cukup Memahami Kehidupan
Belajar Memahami Islam dan Persoalan Masyarakat Melalui Perjumpaan Berbagai Disiplin Ilmu”

metrouniv.ac.id – 13/10/2026 – 2 Jumadil Awal 1448 H
Putri Swastika, M.IF., Ph.D. (Ketua Prodi Ekonomi Syariah Program Magister UIN Jurai Siwo Lampung)

Apa yang dapat kita pelajari tentang Islam ketika melihatnya dari Maroko dan Indonesia? Dua negara yang berjauhan ini menawarkan pengalaman yang kaya tentang bagaimana agama hadir dalam pengetahuan, praktik keseharian, hukum, dan kehidupan publik. Pertanyaan itulah yang membuka perjalanan akademik dalam short course “Comparing Islam Across Cultures: Knowledge, Practice, and Public Life in a Changing World” di Rabat, Maroko, sebagai realisasi kerja sama NIMAR, Kementerian Agama Republik Indonesia, dan Leiden University.

Kegiatan ini merupakan realisasi kerja sama NIMAR, Kementerian Agama Republik Indonesia, dan Leiden University. Program ini membuka ruang untuk belajar bersama, bertukar perspektif, serta melihat bagaimana pengetahuan tentang Islam berhubungan dengan praktik keseharian dan kehidupan publik di berbagai konteks masyarakat.

Rangkaian pembukaan diawali dengan sambutan selamat datang oleh Direktur NIMAR, Prof. Leon Buskens. Dalam sambutannya, Prof. Leon Buskens memperkenalkan peran NIMAR sebagai ruang penghubung antara dunia akademik dan masyarakat. NIMAR merupakan bagian dari Fakultas Sosial Humaniora Leiden University, dengan kegiatan yang mempertemukan perspektif ilmu sosial dan humaniora. Lembaga ini juga memiliki hubungan kelembagaan dengan Kedutaan Besar Belanda di Rabat. Posisi tersebut membuat pendidikan dan penelitian berjumpa dengan pertukaran budaya serta hubungan antarnegara.

Maroko sendiri menawarkan lingkungan belajar yang kaya akan keragaman. Masyarakatnya tidak dapat dibaca melalui satu gambaran tunggal. Perbedaan pengalaman sosial, tradisi, bahasa, dan kehidupan keagamaan membuka banyak pertanyaan tentang bagaimana identitas dibentuk dan bagaimana perubahan berlangsung.

Peran NIMAR mencakup pendidikan, fasilitasi penelitian, pengembangan sumber pengetahuan, dan dampak publik. Dalam pengantar kegiatan, perhatian pada penelitian juga mengarah pada pentingnya membaca kembali hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan, termasuk warisan dominasi kolonial dalam situasi pascakolonial. Bagi peneliti, ini mengundang refleksi: siapa yang selama ini menjelaskan suatu masyarakat, kategori apa yang digunakan, dan sejauh mana suara masyarakat itu sendiri hadir dalam penjelasan tersebut?

Selanjutnya, Prof. Arsekal Salim membuka kegiatan sekaligus memberikan kuliah pembuka, mengawali perjalanan akademik untuk membaca Islam melalui perspektif lintas budaya. Dalam pembukaan dan kuliahnya, Prof. Arsekal Salim mengarahkan perhatian pada tujuan utama program: memperkuat kapasitas penelitian, menghasilkan kolaborasi yang konkret, serta memperoleh wawasan komparatif yang dapat memperkaya pengajaran, penelitian, dan kebijakan di Indonesia.

Harapan Kementerian Agama ini memberi ukuran keberhasilan yang jelas. Pengalaman belajar di Rabat perlu diterjemahkan menjadi pertanyaan penelitian yang lebih tajam, jejaring yang berlanjut, dan pengetahuan yang berguna setelah peserta kembali ke institusi masing-masing.

Salah satu pintu masuk pembahasan adalah karya Clifford Geertz, Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia. Buku ini memperlihatkan bagaimana tradisi agama yang sama berkembang dalam konteks kebudayaan yang berbeda. Geertz menggunakan Maroko dan Indonesia untuk membangun pembacaan komparatif tentang kehidupan beragama.

Dalam pembahasan kuliah, gambaran itu diringkas melalui saintly charisma di Maroko—kewibawaan spiritual yang melekat pada figur suci—dan syncretic calm di Indonesia, yakni corak ketenangan religius yang dikaitkan dengan perjumpaan berbagai tradisi budaya.

Dukungan terhadap keberlanjutan kerja sama juga disampaikan oleh Ibu Mutiara dari KBRI. Beliau menekankan nilai kegiatan semacam ini sebagai bentuk kolaborasi akademik dan menyampaikan kesiapan untuk membantu apabila NIMAR memiliki gagasan pengembangan kerja sama.

Tema yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan kita. Islam hadir dalam kegiatan belajar, tradisi keluarga, interaksi sosial, hingga percakapan tentang kehidupan bersama. Ketika konteks budaya dan masyarakat berubah, muncul pula pertanyaan tentang bagaimana ajaran dipahami, pengetahuan diwariskan, dan praktik keagamaan dijalankan.

Di sinilah pendekatan perbandingan menjadi menarik. Mengenal pengalaman masyarakat lain dapat membantu kita membaca kembali pengalaman sendiri: hal-hal yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki sejarah, konteks, dan makna yang layak ditelaah. Perbedaan pun menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman dan mengajukan pertanyaan yang lebih baik.

Dari Rabat, short course ini membuka peluang untuk membangun percakapan akademik yang melintasi batas negara dan budaya dan interdisipliner. Kerja sama kelembagaan menemukan wujudnya dalam perjumpaan, pembelajaran, dan pertukaran gagasan—sebuah langkah untuk memahami kehidupan manusia secara lebih luas di tengah dunia yang terus berubah.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.