Cerita dari Muktamar

bg dashboard HD

“Dua is the weapon of the believer, the pillar of religion, and the light of the heavens and the earth.”
(Prophetic Tradition)

metrouniv.ac.id – 6/09/2026 – 24 Rabiul Awal 1448 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)

Pada sebuah petang yang bersahaja, di Jombang. Kami duduk di sebuah warung gulai sederhana. Jauh dari venue muktamar. Asap rokok pengunjung, berbaur dengan uap gulai yang khas. Mulanya, kami mengobrol-ngobrol ringan tentang bianglala kehidupan. Namun, setelah semua pengunjung lain pergi, seorang kolega ingin menceritakan sebuah true story. Cerita tentang pintu terkunci, kunci milik tetangga, dan sepotong doa yang diajarkan oleh Kiyai-nya.

Alkisah, kolega kami itu, tinggal sendirian di rumah kontrakan. Ia memiliki tiga anak kunci untuk membuka pintu kontrakannya itu. Dua kunci pertama, selalu ia bawa. Satu kunci lainnya, ia simpan dalam sebuah kotak di dalam kontrakan. Sebuah manajemen kunci yang terasa aman. Hingga, suatu hari ia pulang kampung dan dua kunci pertama itu tertinggal di sana. Sebuah kelalaian kecil namun menyebalkan, dan bisa terjadi pada siapa saja.

Kampungnya itu berjarak sekitar empat jam berkendara. Dan di hari yang kurang bersahabat itu, kolega kami baru menyadari kuncinya tertinggal sesaat sebelum tiba di kontrakan. Sementara hari telah beranjak petang. Ia bisa saja kembali pulang. Tetapi, kembali berarti mengulang sebuah perjalanan panjang sedangkan raga telah didera lelah. Ia lalu menelpon induk semang. Ia ceritakan apa yang terjadi.

Setibanya di kontrakan, induk semang telah pula menunggu dengan setumpuk kunci dari kamar lain di kompleks kontrakan. Semua kunci telah dicobakan untuk membuka pintu kontrakan kolega kami itu. Tapi, tak satu pun yang cocok. Induk semang, bahkan, mempersilakan kolega kami untuk mencobanya sendiri. Mungkin saja, tangan yang berbeda akan memberikan kecermatan dan hasil yang berbeda pula. Kolega kami pun, mencoba kunci itu satu per satu. Dimasukkan, diputar, lalu ditarik kembali, Namun apa boleh buat, pintu tetap tertutup.

Lalu, dengan restu induk semang, ia memutuskan untuk membobol paksa pintu itu. Ia menelpon seorang teman dan meminta untuk dibawakan linggis. Temannya itu menyanggupi. Untuk sementara, tak ada yang dapat dilakukan selain menunggu. Hatinya sedikit kacau. Membayangkan membobol pintu kontrakan, bukanlah sebuah imajinasi yang menyenangkan untuk mengakhiri sebuah perjalanan pulang.

Namun, justru dalam kekacauan itu, ia teringat pesan Kiyai-nya: “Kapan saja kalian menghadapi kesulitan, mintalah pertolongan Allah dengan membaca doa Nabi Yusuf a.s.. Doa itu berbunyi Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.” Sebuah doa tentang pengakuan  keesaan Allah, kesucian-Nya, dan tentang pengakuan kesalahan diri. Dan, di depan pintu yang masih tertutup itu, doa dari Sang Nabi, menyertai ikhtiar yang belum jua selesai.

Selang berapa lama, seorang tetangga muncul dan menanyakan mengapa kolega kami itu belum masuk kontrakan. Kolega kami itu pun menarasikan kisahnya. Setelah mendengar persoalannya, tetangga itu menawarkan kunci kontrakannya untuk dicoba. Kolega kami tahu betapa kecil kemungkinan keberhasilannya. Setumpuk kunci dari induk semang saja telah gagal. Tetapi, karena menghormati niat baik, tawaran itu pun diterima. Ia lalu berjalan ke pintu, seraya menggumamkan doa Nabi Yunus a.s. dalam hati. Lalu, dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, ia memasukkan kunci pinjaman itu, dan memutarnya perlahan.

Pintu terbuka. Aneh. Ajaib. Mencurigakan.

Kolega kami sukar mempercainya. Ia mencoba mengunci kembali, tetapi kunci itu tidak bisa. Ia lalu masuk, mengambil kunci cadangan, dan keluar lagi. Dengan kunci asli, pintu terkunci sempurna. Kini, ia ingin memastikan apa yang baru saja dialaminya. Kunci tetangga dimasukkan sekali lagi. Tidak bisa membuka. Dicoba kembali, tetap gagal. Pintu yang tadinya mengalah, kini kembali menahan.

Ia lalu mengembalikan kunci pinjaman itu dengan keheranan yang meraja. Baginya, Allah telah mengizinkan kunci tersebut membuka pintu sekali saja, tepat ketika diperlukan. Ia tahu, pengalamannya ini sukar dicerna nalar. Namun, sejak kejadian itu, ia selalu merapalkan doa Nabi Yunus a.s. setiap kali diterpa kesulitan. Kejadian kunci itu sebentar saja berlangsungnya, tetapi telah mengubah cara pandangnya terhadap kesulitan, sepanjang hidupnya.

Syadan, kami mendengarkan kisah itu sebagai pengalaman spiritual seorang sahabat, kolega, dan guru. Dan di warung sederhana itu, percakapan kami mengalir jauh dari gegap gempita muktamar. Ini tentang kunci, tentang pintu yang terbuka sekali, tentang uluran tangan orang lain, dan tentang aplikasi doa yang pada masanya, kami merasa patut melantunkannya. Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn. Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.