Oleh :
Siti Mustaghfiroh*
Ruang kelas adalah ruang akademik sekaligus ruang perjumpaan manusia. Di dalamnya, dosen dan mahasiswa berinteraksi, berdiskusi, bertukar gagasan, dan membangun pengalaman belajar bersama. Suasana kelas yang hangat, akrab, dan menyenangkan tentu menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Humor dan candaan pun dapat menjadi salah satu cara untuk mencairkan suasana. Namun, keakraban tetap perlu dibangun dengan mempertahankan etika komunikasi dan penghormatan terhadap martabat setiap mahasiswa.
Dalam dinamika pembelajaran, terkadang muncul sapaan atau candaan seperti “Hai cantik”, “Hai seksi”, “Yang cantik maju ke depan”, “Bapak ganteng tidak?”, “Kamu suka tidak?”, atau “Itu yang gemuk, jangan ribut saja”. Bagi orang yang mengucapkannya, ungkapan tersebut mungkin dimaksudkan sebagai candaan spontan untuk menciptakan suasana yang lebih santai. Akan tetapi, bagi mahasiswa yang mendengarnya, pengalaman tersebut dapat berbeda. Sapaan atau komentar mengenai penampilan, bentuk tubuh, berat badan, daya tarik fisik, maupun hal-hal yang bernuansa seksual dapat menimbulkan rasa malu, tidak nyaman, atau merasa menjadi objek perhatian di hadapan orang lain.
Di sinilah pentingnya membedakan antara niat dan dampak. Niat bercanda belum tentu menghasilkan pengalaman yang menyenangkan bagi orang lain. Dalam konteks akademik, terlebih dalam relasi dosen dan mahasiswa yang memiliki perbedaan posisi dan kewenangan, mahasiswa juga belum tentu merasa leluasa untuk menyampaikan bahwa sebuah candaan membuatnya tidak nyaman. Tertawa, diam, atau mengikuti suasana kelas tidak selalu berarti bahwa mahasiswa benar-benar merasa nyaman.
Karena itu, membangun komunikasi akademik yang baik bukan berarti menghilangkan humor dari ruang kelas. Yang perlu kita bangun adalah humor yang cerdas, inklusif, dan tidak menjadikan seseorang sebagai objek candaan. Dosen tetap dapat menciptakan suasana pembelajaran yang hidup melalui humor mengenai materi perkuliahan, pengalaman akademik, fenomena sosial, atau situasi yang tidak merendahkan individu tertentu.
Hal yang sama berlaku dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Sapaan yang berkaitan dengan fisik, penampilan, usia, berat badan, kondisi pribadi, gender, atau daya tarik seseorang sebaiknya dipertimbangkan kembali sebelum disampaikan di ruang kelas. Apa yang tampak sederhana bagi satu orang dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi orang lain.
Sebagai pendidik, dosen tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menghadirkan keteladanan dalam cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain. Mahasiswa mungkin tidak selalu mengingat seluruh materi yang disampaikan, tetapi mereka dapat mengingat bagaimana mereka diperlakukan selama berada di ruang kelas.
Membangun kampus yang aman, inklusif, toleran, dan berkeadilan gender dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk dari pilihan kata yang kita gunakan. Mari menjaga agar ruang kelas tetap menjadi ruang yang hangat tanpa kehilangan batas profesional, tetap akrab tanpa merendahkan, dan tetap humoris tanpa melukai.
Karena mendidik bukan hanya tentang apa yang kita sampaikan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang kita didik.
Sebagai bagian dari upaya membangun budaya akademik yang aman, inklusif, toleran, dan berkeadilan gender, refleksi ini dapat dilanjutkan melalui komitmen bersama para dosen dalam menjaga komunikasi dan interaksi akademik yang menghormati martabat mahasiswa.
Di Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung, hubungan antara dosen dan mahasiswa tidak hanya dibangun melalui kegiatan akademik. Di dalamnya juga terdapat nilai kesantunan, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati. Karena itu, komunikasi yang etis dan bermartabat menjadi bagian penting dari budaya akademik yang terus dijaga. Komitmen para dosen terhadap nilai-nilai tersebut ditegaskan melalui Pakta Integritas yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://forms.gle/trVAAsqGZSiuuhBy7
* Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jurai Siwo Lampung