Oleh :
Dedi Irwansyah*
“The secret of happiness is to see all the marvels of the world, and never to forget the drops of oil on the spoon.”
(Paulo Coelho)
Pada Juli 2005, saya membeli Sang Alkemis. Sebuah novel karya Paulo Coelho. Pada halaman 37-39, ada sebuah cerita menarik. Cerita yang lalu saya gubah dan ceritakan ulang untuk kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan, Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung, 30 Agustus 2026. Berikut ceritanya.
Seorang anak muda ingin mengetahui rahasia kebahagiaan (the secret of happiness). Ia datang kepada seorang saudagar yang kaya raya, namun tawaddu’ dan bijak. Kepada sang saudagar, ia bertanya tentang rahasia kebahagiaan.
Sang saudagar menarik napas sejenak. “Baik, akan kubertiahu. Namun sebelum itu, aku ingin engkau mengelilingi salah satu tamanku. Aku punya dua taman.” Kemudian, sang saudagar memberikan sendok yang telah diisi minyak kepada si anak. “Silakan nikmati taman, tetapi jangan sampai minyaknya tumpah,” kata sang saudagar.
Anak muda itu pun berangkat. Ia memasuki taman. Lalu ia takjub dengan warna-warni bunga. Dengan kicauan burung. Dengan kupu-kupu yang terbang dalam semerbak wangi taman. Dengan beberapa balai kecil, dalam taman, yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Ia menikmati taman dan isinya.
Setelah selesai berkeliling, ia kembali menemui sang saudagar. “Bagaimana tamanku?” tanya sang saudagar. “Indah sekali, bunganya indah-segar-penuh warna, makanannya juga lezat. Aku sangat menikmatinya,” jawab sang anak.
“Bagus. Alhamdulillah. Sekarang, bagaimana dengan minyak di sendokmu?” tanya sang saudagar.
Anak muda itu melihat sendoknya. Kosong. Isinya telah tumpah akibat ia terlalu hanyut menikmati taman. Sang saudagar tersenyum hangat. Ia mengajak sang anak ke taman yang lain. Sendok yang kosong itu, kembali diisi dengan minyak. “Sekarang, kelilingilah taman ini. Dan jangan sampai minyaknya tumpah.”
Anak itu berjalan mengitari taman kedua. Fokus perhatiannya tertuju pada minyak dalam sendok. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dan begitulah, setelah selesai ia kembali bertemu sang saudagar.
“Bagaimana minyaknya?” tanya sang saudagar.
“Alhamdulillah, masih utuh,” jawab si anak muda.
“Dan bagaimana tamanku yang kedua?”
Anak muda itu terdiam. Ia tidak pernah benar-benar melihat untaian bunga. Tidak benar-benar mendengar nyanyian burung. Tidak mencicipi ragam makan-minum. Bahkan nyaris tidak mampu mencium semerbak wangi taman.
Sang saudagar menyadari itu. Ia tersenyum lalu berkalam, “Jika kita terlalu sibuk menikmati taman, minyaknya akan tumpah. Dan jika kita terlalu fokus menjaga minyak, kita tidak pernah menikmati taman. Latih dirimu untuk tidak menumpahkan minyak, namun tetap bisa menikmati taman. Jaga minyaknya, nikmati tamannya. Itulah rahasia kebahagiaan. That is the secret of happiness.”
Syahdan, kami sampaikan kepada mahasiswa baru gubahan cerita itu. Karena cerita itu relevan dengan kehidupan mahasiswa. Karena ‘minyak dalam sendok’ adalah perumpamaan dari pengetahuan, keterampilan, karakter, dan pengalaman akademik yang disajikan oleh universitas. Karena taman adalah milieu yang menawarkan persahabatan, jejaring (network), organisasi, kehidupan sosial, hingga romansa. Karena ‘minyak dalam sendok’ adalah achievement (prestasi akademik) dan ‘taman’ adalah enjoyment (sukacita),
Jangan sampai empat tahun kuliah hanya berisikan banyak foto, banyak story, banyak event, banyak nongkrong, dan apa saja yang memenuhi ruang medsos untuk validasi. Dan ketika lulus, sendok itu kosong. Have fun, but don’t have too much fun. Bersenang-senanglah, tetapi jangan kebablasan.
Sebaliknya, jangan juga menjadi mahasiswa yang setiap harinya bergulat mengejar nilai, tugas, deadline, sertifikat, hingga lupa bersosialisasi. Lupa jika masa kuliah adalah salah satu fase terindah dalam hidup.
Jadi, kami sarankan saja kepada mahasiswa baru untuk: menjaga minyak dan menikmati taman. Menyeimbangkan antara achievement dan enjoyment. Karena keseimbangan adalah core values, nilai utama. Moderasi. Berada di titik tengah. Karena middle ground works best, kata para sarjana. Karena khoirul umuri awsathuha, kata orang-orang salih. Kebenaran cenderung berada di titik tengah. Sebaik-baiknya urusan adalah di tengah-tengah. Moderat.
Paulo Coelho bukan orang pertama yang mengampanyekan nilai moderasi. Namun terasa segar ketika ia menuliskan: “Resep bahagia adalah menikmati semua keindahan dan keajaiban hidup, dan dalam waktu yang sama menjaga minyak di dalam sendok itu.”
Boleh setuju atau tidak setuju. Kita boleh tidak berpikiran sama. Namun sebaiknya kita bersama-sama menyambut kehadiran mahasiswa baru. Dengan cara yang kita mampu. Tabiik.
* Guru Besar pada UIN Jurai Siwo Lampung