“Dari Sabang sampai Merauke. Berjejer pulau-pulau.
Sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia….”
(R. Soerajo)
metrouniv.ac.id – 31/07/2026 – 17 Safar 1448 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Pada sebuah kelas Sastra, kami mendengar ini. “Mungkin kita pernah membaca soal semacam ini: Selat apakah yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra? Akankah ada perbedaan jika soal itu ditulis menjadi: Selat apakah yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra?”
Ini bukan tentang benar-salah. Ini tentang kesan dan nuansa yang lahir dari sebuah ekspresi. Tentang kesan terhadap kata ‘memisahkan’. Tentang makna di balik kata ‘menghubungkan’.
Memang, pertanyaan pertama dan kedua, berujung kata yang sama: Selat Sunda. Namun, kata ‘memisahkan’ melahirkan nuansa yang berbeda dari kata ‘menghubungkan’. Yang pertama, memunculkan imaji tentang sekat, jarak, dan perpisahan. Yang kedua mengarahkan batin pada perjumpaan, ketersambungan, dan persatuan. Fakta geografisnya tidaklah berubah. Pun kunci jawaban terhadap kedua pertanyaan itu. Namun, mengubah kata ‘memisahkan’ menjadi ‘menghubungkan’ adalah potensial. Ia berpotensi menggeser cara pandang. Ia berpeluang membentuk cara pikir kita terhadap selat-selat yang ada di Indonesia.
Pada titik peluang semacam itu, bahasa bukan semata alat untuk menyampaikan informasi. Karena pemilihan kata, diksi, membentuk cara manusia memandang data dan realitas. Pulau Jawa dan Pulau Sumatra adalah realitas di Indonesia. Kita tidak dapat mengubahnya. Namun diksi ‘memisahkan’ dan ‘menghubungkan’ bisa membentuk, paling tidak mewarnai, cara pikir kita terhadap kedua pulau itu. Therefore, tidak jarang, yang mengubah cara pikir kita, bukanlah data semata. Melainkan, cara data itu dihadirkan melalui medium bahasa.
Kiranya benar, manakala ada yang berkata bahwa cara pikir menentukan sikap manusia terhadap realitas. Dan sikap, boleh jadi, temasuk faktor dominan yang memengaruhi tindakan. Manusia tidak bertindak semata-mata karena sebuah kenyataan. Manusia bertindak berdasarkan cara mereka memaknai sebuah kenyataan. Sehingga cara pikir, sikap, dan tindakan tampak menjadi trimatra yang berkelit-kelindan. Tiga ranah yang saling memengaruhi satu sama lain. Pada tiga ranah itu, bahasa membawa perannya tersendiri. Di mana satu perubahan diksi, bisa melahirkan distingsi pada tataran aksi.
Dalam kapsul kecil (nutshell), dapat dikatakan bahwa diksi bisa memengaruhi tindak lanjut. Sebut saja ini sebuah hipotesis sederhana. Mari membayangkan, seorang manajer memiliki agenda untuk menciptakan kantor paling hijau di kotanya. Entah karena apa, agenda itu belum jua terwujud. Lalu, kepada para karyawan ia berkata: “Kantor yang hijau masih menjadi PR kita bersama.”
Mafhum, bahwa PR adalah pekerjaan rumah. Sesuatu yang dikerjakan di rumah. Tempat di mana karyawan melepas lelah dan berbagi ceria dengan keluarga. Menyebut sebuah agenda strategis sebagai PR, mungkin menghadirkan kesan downgrading. Karena jika benar bahasa membentuk cara berpikir, dan jika benar pula diksi memengaruhi aksi, apakah tidak seyogianya kita mulai mengurangi kebiasaan berkat, “Ini adalah PR kita bersama”? Mengapa tidak memilih ungkapan yang lebih mencerminkan orientasi ke depan seperti, “Ini adalah agenda strategis kita berikutnya.”
Manakala pekerjaan yang sama disebut sebagai ‘agenda strategis berikutnya’, terjadi perubahan nuansa dan orientasi. Yang terbayang bukan lagi beban tambahan, melainkan prioritas bersama yang layak diperjuangkan.
Syahdan, pergantian istilah memang tidak otomatis mengubah kinerja, tetapi ia dapat mengubah cara orang memaknai pekerjaannya. Dan makna sering kali menjadi bahan bakar pertama bagi tindakan.
Akhirnya, tulisan ini tidak sedang menghakimi frasa “Ini adalah PR kita bersama” sebagai sesuatu yang keliru, apalagi negatif. Ungkapan itu tetap sah digunakan, sebagaimana bahasa selalu menyediakan banyak cara untuk menyampaikan maksud yang sama. Yang hendak diajukan di sini hanyalah sebuah undangan kecil. Bahwa jika bahasa memang turut membentuk cara berpikir, dan jjika diksi dapat memengaruhi orientasi tindakan, bukankah layak jika sesekali kita mempertimbangkan pilihan kaya yang lebih menggerakkan?
‘Alaa kulliy haal, jika Saudara tetap nyaman menggunakan “Ini adalah PR kita bersama” alih-alih “Ini adalah agenda strategis kita berikutnya”, maka silahkan saja. Tidak perlulah perbedaan ekspresi menjadi alasan yang ‘memisahkan’ kita. Ijinkanlah perbedaan argumentasi, ‘menghubungkan’ tradisi akademik yang sehat. Sebuah tradisi yang bertumbuh karena kesediaan saling mendengar, saling menguji, dan saling memperkaya. Bukan karena keseragaman pendapat tanpa argumentasi yang solid. Tabiik. Wallahu a’lam.