BELAJAR DARI SANG MAHA GURU NABI KHIDIR DAN NABI MUSA

17. Nabi Musa Nabi Khidir Cover 100920205

metrouniv.ac.id – 10/09/2025 – 17 Robiul Awal 1447 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Fazlurrahman, seorang pemikir besar di akhir abad ke-20 berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah kitab hukum melainkan kitab moral. Sebagai kitab moral, ia menjadi sumber nilai dari mana prinsip-prinsip hidup ditemukan. Salah satu prinsip hidup adalah di saat al-Qur’an berbicara tentang pengalaman sejarah umat terdahulu dalam bentuk kisah-kisah yang pernah mengukir sejarah dunia. Al-Qur’an dengan sengaja menggambarkan kehi- dupan umat terdahulu agar bisa diambilkan suri teladan bagi umat yang datang belakangan. Al-Qur’an tidak sekedar bicara soal halal-haram, benar-salah, tetapi ia juga berbicara tentang moralitas hidup dan perjuangan untuk mencapainya. Pendek kata, al-Qur’an mengintrodusir secara gamblang tentang kehidupan dunia maupun akhirat. Semua itu menjadi i’tibar, menjadi pelajaran dan panduan moral bagi umat manusia.

Dari sekian banyak kisah yang terkandung dalam al-Qur’an, ada satu kisah yang amat menarik jika ditarik garis lurus bagaimana seseorang harus memaknai kehidupan dan memerjuangkannya dengan sabar adalah kisah Nabi Musa AS beserta guru spiritualnya, Nabi Khidir AS. Guru spiritual Nabi Musa, oleh ahli tafsir diidentifikasikan sebagai Nabi Khaidir ini, menjadi menarik untuk dibicarakan antara lain karena beberapa alasan.

Pertama, dalam kisah tersebut diperlihatkan seorang nabi yang amat ditakuti kekuatan intelektual dan spiritualnya tetapi begitu emosional dan kerdil di depan sang guru spiritual tersebut. Kedua, dalam memahami masalah tampak benar nabi yang gagah dan perkasa itu tidak sanggup menangkap hal-hal di balik yang nyata, sedangkan sang guru tampak tahu di balik hal-hal nyata itu. Ketiga, dalam mendapatkan ilmu, ternyata dibutuhkan kesabaran dan keteguhan dalam menerima setiap cobaan.

Guru Spiritual

Ketika Musa berbulat tekad untuk berguru kepada Khidir, sebenarnya sang guru sudah tegas menolak karena sudah tahu kalau calon muridnya ini tidak bisa mengikuti bangunan logika yang akan dikembangkannya. Namun, Musa bersikeras untuk berguru kepadanya. “Insya Allah kamu akan menemukan saya dalam kesabaran,” begitu janji Musa kepada Khidir. Akan tetapi, begitu melihat apa yang dilakukan Khidir, Musa malah langsung bersikap protes kepada gurunya itu, padahal sebelumnya dia telah berjanji untuk sami’na wa atha’na.

Protes pertama dilakukan Musa adalah ketika sang guru membocorkan perahu nelayan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. “Mengapa kamu melobangi perahu itu, padahal ia menjadi alat perjuangan para nelayan untuk mencari nafkah sehari-hari? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar,” protes Musa kepada Khidir. Musa melihat tidak ada alasan mendasar yang membolehkan dibocorkannya perahu itu. Musa bahkan melihat tindakan gurunya sebagai sebuah perbuatan kezaliman yang sulit termaafkan.

Protes kedua dilakukan Musa kepada Khidir adalah ketika gurunya tiba-tiba membunuh seorang anak kecil tanpa tahu apa salah dan dosanya. “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.” Dalam kasus ini, Musa melihat bahwa tidak ada alasan untuk membunuh anak itu, apalagi anak-anak adalah bersih dari noda dan dosa. Mereka belum terbebani dengan kewajiban-kewajiban syari’at yang ditetapkan oleh Allah swt sampai ia menginjak umur dewasa.

Protes ketiga dilakukan Nabi Musa ketika gurunya menegakkan dinding bangunan yang hendak roboh dalam suatu kampung yang penduduknya menolaknya. Nabi Musa berkata, “Jika kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” Dalam hal ini Musa berpandangan bahwa memperbaiki sebuah bangunan milik orang lain harus mendapat perintah dari si empunya bangunan. Dan atas dasar itu, gurunya berhak mendapatkan upah dari si empunya bangunan tersebut, sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya.

Memang sejak semula, Nabi Khaidir telah mengingatkan Nabi Musa bahwa ia tidak akan tahan mengikutinya. Nabi Khidir berkata, “Bagaimana kamu dapat sabar (tahan) atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang itu.” Namun Nabi Musa mencoba meyakinkannya dengan mengatakan, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” Akan tetapi, dalam kenyataannya, setiap tindakan Nabi Khidir selalu ditentang dan diprotesnya, hingga akhirnya meraka pun terpaksa harus berpisah.

Sebelum mereka berpisah, Nabi Khidir menjelaskan tentang tujuan dari tindakannya yang tidak bisa dipahami oleh Nabi Musa itu. Tentang perahu yang saya bocorkan itu, sesungguhnya ia kepunyaan orang miskin yang bekerja di laut dan saya merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan lewat dan raja tersebut memiliki kebiasaan buruk, selalu merampas setiap melihat perahu yang baik untuk kebutuhan pri- badinya sambil membiarkan rakyatnya sengsara.

Adapaun tentang anak itu, sebenarnya bocah ini memiliki kedua orang tua yang saleh, tetapi kami khawatir kalau anak itu kelak mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, sehingga kami meminta kepada Tuhan agar sudi kiranya meng- gantikan anak itu dengan anak yang lebih baik untuk kedua orang tua yang saleh tadi.

Sedangkan tentang bangunan rumah itu, sebenarnya kepunyaan dua orang anak yatim dan di bawahnya ada harta benda peninggalan ayah mereka yang disimpan untuk keduanya, sedangkan ayah kedua anak ini adalah pribadi yang saleh, maka Tuhan menghendaki supaya kelak jika mereka sampai kepada usia dewasa, barulah simpanannya itu dikeluarkan untuk kebu- tuhan hidup kedua anak tersebut. Maka sengaja saya tegakkan dinding rumah itu agar harta simpanan kedua anak ini dapat terlindungi dari tangan-tangan jahat yang ingin merampas atau mendapatkannya secara tidak benar.

Setelah memberikan penjelasan ini, Khidir kemudian berkata, “Sesungguhnya, tindakan tersebut aku lakukan bukanlah atas kemauanku sendiri melainkan atas petunjuk Allah.” Musa terangguk-angguk paham tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, karena telanjur sudah tidak diperbolehkan untuk berguru lagi kepada Khidir. Musa pun mulai menyadari kecil dirinya di depan Khidir yang jumawa dan futuristik. Khidir telah memerlihatkan kepada Musa bagaimana seharusnya menghargai apa yang diberikan Allah tanpa sikap jumawa. Seakan Khidir ingin mengatakan kepada Musa, “di atas langit itu masih ada langit.”

Nabi Sosial

Jika Khidir memerankan diri sebagai Guru Spiritual, Musa sejatinya memerankan diri sebagai Nabi Sosial. Khidir tampil sebagai tokoh yang “tahu sebelum tahu,” Musa hadir sebagai tokoh “pemberontak kezaliman.” Pengetahuan Khidir tentang hal-hal yang bersifat metafisis luar biasa, sementara Musa tidak memiliki kemampuan itu, ia malah berdiri di tubir kenyataan sebagai penegak kebenaran dan pencegah kezaliman. Siapa pun yang bersikap zalim di depannya, walaupun itu guru spiritualnya sekalipun, tetap ditentangnya. Dia tidak peduli dengan janji dan sumpah yang pernah diucapkan, asal kebenaran harus dite- gakkan dan kepalsuan harus dicegah. Itulah pribadi yang pantas berdiri tegak di hadapan umat sebagai Nabi Sosial.

Dalam kenyataan hidup, kita tidak banyak menemukan pribadi seperti Musa yang tampil gagah mewakili nasib orang-orang kecil, lebih sulit lagi menemukan pribadi seperti Khidir yang memiliki bawaan tahu sebelum diberitahu. Kemampuan menangkap hal-hal di luar nalar sehat itulah membuat orang seperti Khidir tampil bagaikan mencari jarum di tengah tumpukan jerami. Musa adalah figur sosial yang hadir merawat nasib orang-orang yang ditelantarkan oleh para penguasa. Figur Musa kian sulit kita dapati dalam kenyataan. Banyak tokoh dalam lintasan peristiwa, lebih sibuk mewakili dirinya daripada rakyatnya.

Kisah tersebut memberi banyak hikmah kepada kita, terutama sebagai bahan kajian dan renungan. Sebagian dari hikmahnya adalah: Pertama, rahasia Allah itu begitu luas, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dan melampauinya, kecuali orang-orang yang diberikan pengetahuan untuk itu. Oleh karena itulah maka tidak pantas bagi kita menyatakan bahwa kita mengetahui segala-galanya. Sebab, orang yang mengaku tahu banyak pun ternyata tahu sedikit sekali.

Kedua, orang yang berilmu pengetahuan lebih dimuliakan Allah SWT dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Orang yang berilmu pengetahuan dapat bertindak dengan benar untuk kemanusiaan sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Sedangkan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tidak dapat bertindak dengan benar dan tidak bisa berbuat banyak untuk kemanusiaan Hal ini mengingatkan kita akan protes malaikat kepada Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Allah berkata, “Saya lebih mengetahui apa yang kamu (malaikat) tidak ketahui.” Ternyata kehebatan Nabi Adam dibandingkan dengan malaikat adalah terletak pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Ketiga, tidak boleh menganggap orang lain salah atas perbuatan yang dilakukannya, sebab selain kita tidak tahu kenapa dia harus berbuat sedemikian itu, jangan-jangan dia memiliki alasan yang kuat dan dibenarkan untuk melakukan sesuatu itu. Dalam kaitan ini, sangat tepat jika kita menyatakan, “Pendapat dan tindakan kita adalah benar, namun tidak menutup kemungkinan mengandung kesalahan. Sedangkan pendapat dan tindakan orang lain adalah salah, namun tidak menutup kemungkinan mengandung kebenaran. ”Imam Syafi’i, seorang ulama mazhab besar pernah menyatakan, “Jika pendapatku benar maka ikutilah. Namun, jika pendapatku salah dan ada pendapat lain yang lebih benar, maka itulah pendapatku.”

Di sini, sebenarnya Musa belajar banyak tentang bagaimana menjadi orang hebat tetapi tetap “rendah hati” seperti diperlihatkan Khidir kepadanya. Ketika pertama kali bertemu Khidir, Musa sebenarnya agak meremehkannya karena melihat penampilan Khidir yang cenderung gembel, membuat Musa ragu. Akan tetapi, Musa akhirnya mengakui keunggulan Khidir setelah tahu kehebatan orang ini.

Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.