Buta Nan Bijaksana

8. Cover Buta Nan Bijaksana_24032025

metrouniv.ac.id – 24/03/2025 – 24 Ramadan1446 H

Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)

“…Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).”

(Al-Qur’an 22: 34)

Orang berkata, kesalahan dan pencapaian selalu menawarkan dua pilihan respon: rendah hati atau tinggi hati. Orang juga berkata, sebuah kesalahan yang mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati, lebih agung daripada sebuah pencapaian yang membuat kita membumbung tinggi hati. Inilah kisah, yang mungkin saja mengingatkan kita pada kata ‘Mukhbitin’ dalam Surat Al Hajj ayat 34. Inilah sebuah kisah klasik tentang seorang pria buta yang membuat kesalahan; menjadi rendah hati; dan membiaskan kebijaksanaan. Inilah kisah, di mana obor di dalamnya merupakan perlambang dari pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom). Inilah cerita, yang baik dikisahkan ulang untuk segala jenjang usia. Selamat membaca.

Alkisah, pada suatu malam yang gelap dan berangin, seorang pria buta pamit pulang kepada sahabatnya yang tidak buta. Sahabatnya memberinya sebuah obor. Pria buta itu tersenyum dan berkata, “Apa yang harus saya lakukan dengan ini? Tenang, saya memang buta, tapi saya bisa pulang tanpa obor ini.” Sahabatnya menjawab lembut, “Ambillah. Kamu mungkin bisa pulang tanpa obor, tapi obor ini akan membantu orang lain melihatmu.” Akhirnya, pria buta itu menerima obor pemberian sahabatnya itu.

Dalam perjalanan pulang, seorang pengembara menabrak si pria buta. Sontak, ia marah dan berteriak, “Apakah kamu buta? Apa kamu tidak lihat saya membawa obor?” Si penabrak tidak berkata sepatah kata pun dan terus lanjut berjalan.

Si pria buat melanjutkan perjalanan. Nahas, tidak lama berselang,  seorang pengembara lain menabraknya. Pria buta itu semakin berang dan berteriak lebih kencang, “Hei! Apakah kamu tidak punya mata? Tidak kah kamu lihat saya membawa obor? Saya bawa obor supaya orang lain bisa melihat saya! Dan tidak menabrak saya!”

Merasa tak bersalah, si pengembara itu menjawab, “Mungkin kamu yang buta. Karena obor yang kamu pegang itu sejatinya sudah padam!”

Pria buta itu tercekat lalu terdiam. Sejurus kemudian, ia menyadari bahwa obornya telah padam. Si pengembara itu ternyata benar. Sementara itu, si pengembara mulai bisa membaca situasi. Ia sadar bahwa ia baru saja menabrak orang buta. Ia merasa bersalah lalu berkata,  “ Maafkan saya saudaraku. Seharusnya saya tahu jika engkau tak dapat melihat. Ah, saya malu, sayalah orang buta yang sesungguhnya. Engkau buta mata saudaraku, sedang saya buta hati. Maafkan saya.”

Mendapat respon yang tulus dan mencerminkan kerendahan hati, si pria buta itu menjawab, “Tidak saudaraku, itu bukan salahmu. Sayalah yang harus meminta maaf karena telah bersikap kasar padamu.” Sang pengembara tak kalah takjub atas respon si pria buta. Ia mengeluarkan korek api lalu menyalakan obor yang tadinya telah padam. Keduanya berpisah penuh hikmah dan bahagia.

Si pria buta lanjut berjalan pulang. Sungguh sebuah malam yang rumit, karena lagi-lagi seorang pengembara lain menabrak pria buta itu. Namun,  kali ini, ia tidak lagi emosional, bahkan dengan nada sopan ia bertanya, “Apakah obor saya sudah padam?”

Pengembara yang menabraknya itu menjawab, “Saudaraku, saya baru saja hendak menanyakan hal yang sama.”

“Apakah kamu buta-mata?” tanya pria buta itu.

“Ya, saya buta-mata. Dan, jika boleh saya menebak,  kamu juga pasti buta-mata,” jawab pengembara itu. Ada hening sejenak sebelum kedua orang buta-mata tersebut tertawa bersama. Mereka saling membantu mencari obor mereka yang terjatuh.

Saat kedua pria buta itu sedang mencari obor, seorang pengembara lain menabrak mereka. Si pengembara, yang tidak buta,  tidak tahu jika dua orang yang ditabrakanya adalah orang yang buta matanya. Di dalam hatinya, si pengembara bergumam, “Di dalam perjalanan yang gelap seperti ini, saya seharusnya membawa obor agar bisa melihat jalan secara lebih jelas dan agar tidak menabrak pejalan lainnya.”

Kisah yang menarik yang penulis rekonstruksi dari sebuah pembacaan di masa silam untuk pembelajaran bahasa Inggris (silakan kunjungi: https://www.academia.edu/128292726/The_Fallen_Torch). Penulis belum mampu melacak sumber tertulis dari kisah tersebut. Jika ada kebaikan yang lahir dari rekonstruksi ini, semoga Allah swt mengalirkan juga kebaikan tersebut kepada si penulis awal cerita. Untuk sebuah pesan sarat makna: kita memerlukan obor pengetahuan dan kebijaksanaan agar bisa ‘dilihat dan melihat’ dan agar ‘tidak ditabrak dan menabrak’. Hadanallah wa iyyakum ajma’in.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.