metrouniv.ac.id – 09/07/2022 – 09 Dzulhijah 1443 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Khutbah Idul Adha 1443 H (Lapangan Kampus 15 A Iring Mulyo Metro 09 Juli 2022)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Ma’asyiral hadirin, Jama’ah shalat Idul Adha rahimakumullah
Pada hari yang baik dan pagi yang cerah ini mari kita senantiasa mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah Swt atas berbagai nikmat yang diberikan kepada kita yang tidak terhingga dan tidak akan pernah ada habisnya. Diantara nikmat itu adalah nikmat Iman dan Islam serta kesehatan, sehingga dengan ketiga nikmat itu pada pagi hari ini kita semua dapat hadir dan berkumpul untuk menunaikan ibadah shalat idul adha 1443 H, atau bertepatan dengan tahun 2022 M.
Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada suri tauladan kita, Nabi Muhammad Saw. Nabi akhir jaman, penghulu para Nabi, yang kita semua berharap kelak mendapat syafaatnya di hari akhir, Yaumul Qiyamah.
Bapak,Ibu, Saudara jamaah yang dimuliakan oleh Allah Swt,
Pada hari raya idul adha, ada dua perintah penting yang disyariatkan oleh Allah Swt kepada kita kaum muslimin. Dua perintah yang sangat penting itu adalah ibadah haji bagi yang mampu dan perintah penyembelihan hewan qurban. Masing-masing dari dua perintah ini bila kita fikirkan dan renungkan memiliki hikmah dan makna yang sangat dalam.
Perintah pertama adalah Ibadah Haji. Ibadah haji adalah salah satu dari lima rukum Islam yang hukumnya wajib bagi mereka yang mampu. Perintah haji ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt dalam surat ali-Imran ayat 97:
ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
“… Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam”.(QS.Ali Imron (3): 97)
Dalam ayat lain di surat al-Hajj ayat 27, dinyatakan bahwa ibadah haji adalah merupakan seruan dan panggilan dari Allah Swt.
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS.al-Hajj (22): 27)
Atas dasar seruan Allah Swt untuk menunaikan ibadah haji sebagaimana ayat di atas, maka pada setiap bulan Dzulhijjah, jutaan umat Islam di seluruh dunia ziarah ke Makkatul Mukarromah datang berbondong-bondong dan berduyun-duyun memenuhi panggilan Allah Swt. Mereka semua serentak mengucapkan kalimat talbiah: Labbaikallahumma labbaik, Laa syarika laka labbaik, Innal hamda wani’mata laka walmulka la syarika laka. Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhny segala puji, nikmat dan kerajaan hanyalah kepunyaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.
Ma’asyirol hadirin rahimakumullah
Pada hari Jum’at kemarin kurang lebih hampir satu juta orang berkumpul di Arofah untuk melaksanakan wukuf. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia, ada yang berasal dari negara-negara di benua Afrika, Asia, Eropa, Australia, dan benua Amerika. Suku bangsa mereka tidak sama, warna kulit mereka berbeda, latar belakang sosial, pendidikan dan ekonominya pun berbeda, namun mereka datang dengan model pakaian yang sama yaitu pakaian ihram berupa kain putih yang tidak berjahit. Mereka merasa sama karena diikat oleh akidah yang sama, yaitu akidah Islam.
Wukuf sebagai salah satu rukun dalam ibadah haji adalah muktamar akbar seluruh umat Islam sedunia. Wukuf adalah simbol sekaligus wujud dari persatuan dan ukhuwah Islamiyah, dimana umat Islam adalah umat yang satu (ummatan wahidah) yang diikat oleh persamaan akidah dan iman. Persatuan umat Islam itu mampu meleburkan ego kelompok, etnis, ras atau golongan, meleburkan perbedaan asal usul negara, meleburkan perbedaan madzab dan meleburkan perbedaan dalam masalah furu’iyah Dengan memahami hikmah ibadah wukuf ini, kita umat Islam harus belajar untuk menerima perbedaan, tenggang rasa dan saling menghormati, demi izuul Islam wal-Muslimin (kejayaan Islam dan kaum muslimin) serta mewujudkan cita-cita Islam sebagai Rahmat bagi semesta alam.
Pada saat jama’ah haji wukuf dengan pakaian ihramnya maka tidak nampak lagi simbol-simbol dan atribut duniawi. Dengan jenis dan model pakain yang sama, tidak kelihatan lagi mana yang kaya dan mana yang papa. Tidak kelihatan lagi mana yang berpangkat atau pejabat dan mana yang melarat serta bawahan, tidak nampak lagi yang bangsawan dan yang orang kebanyakan. Tidak ada lagi jenderal dan tidak ada kopral. Semua sama saja, setara, tidak ada yang kelihatan lebih antara yang satu dengan yang lainnya.
Semua itu memberikan gambaran dan pelajaran bagi kita bahwa sesungguhnya semua manusia adalah sama di mata Allah Swt. Sama-sama dilahirkan dengan tidak membawa apa-apa dan nanti akan dimatikan juga tidak akan membawa apa-apa. Namun ada satu yang akan abadi menemani kematian manusia dan itu sangat menentukan keutamaan dan kedudukannya di hadapan Allah Swt, yaitu amal baik dan ketakwaan kepada Allah Swt. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”. (QS. Al-Hujurat (49): 13).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Jama’ah shalat idul adha yang dimuliakan oleh Allah Swt.
Perintah yang kedua adalah ibadah qurban. Qurban adalah ibadah yang dilakukan dengan menyembelih hewan berupa binatang ternak baik itu kambing atau domba, unta, sapi atau kerbau yang, dilaksanakan bagi mereka yang mampu pada hari Nahar dan hari-hari Tasriq. Daging sembelihan itu sebagian bisa dinikmati oleh sahibul qurban dan sebagian lainnya dibagikan kepada para fakir miskin.
Awal mula syariat ibadah qurban ini dimulai dari peristiwa yang terjadi di masa Nabi Ibrahim Alaihi Salam dan putranya Nabi Ismail Alaihi Salam. Diceritakan dalam Al-qur’an surat As-Saffat ayat 102, bahwa pada suatu hari Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya, dimana ia diperintah oleh Allah Swt untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail. Secara lengkap bunyi ayatnya sebagai berikut.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat (17): 102).
Ayah mana yang merelakan dan bersedia menyembelih anak kesayangannya. Anak mana yang bersedia menyerahkan nyawanya untuk dilenyapkan oleh orang tuanya. Namun demikian, atas dasar perintah tersebut, maka dua manusia pilihan Allah ini pun dengan penuh keikhlasan melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. Hingga akhirnya ketika Ibrahim akan melakukan prosesi penyembelihan putranya Ismail, Allah Swt melalui malaikat Jibril menggantinya dengan seekor domba. Sejak saat itulah sejarah ibadah qurban dimulai hingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran syariat Islam.
Apa yang bisa dipetik dari peristiwa ibadah qurban itu? Bahwa perintah dari Allah Swt bagi seorang mukmin mengatasi segala-galanya. Harta yang kita miliki dan kuasai, kebesaran dan kehormatan yang disematkan manusia kepada kita, anak-anak dan keluarga yang kita cintai, tidak ada artinya dibandingkan kecintaan kepada Allah Swt. Kecintaan dan pengabdian serta penghambaan kepada Allah Swt. adalah merupakan tujuan utama kehidupan manusia. Sebab itu, belajar dari Ibrahim dan Ismail, jika Allah Swt memberikan amar perintah, maka tidak ada pilihan lain kecuali menunaikan perintah itu dengan sungguh-sungguh yang diliputi rasa keimanan dan ketakwaan. Demi untuk menunaikan perintah itu, maka harta bahkan nyawa di kandung badan sekalipun bagi orang-orang yang beriman akan dengan sukarela dikorbankan untuk Allah Swt.
Dalam Al-qur’an dijelaskan bahwa makna hakiki ibadah qurban itu bukan mempersembahkan darah dan daging kepada Allah Swt. tetapi bukti penghambaan dan wujud ketakwaan kepada-Nya. Allah Swt berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj (22): 37).
Jama’ah Shalat Idul Adha yang saya muliakan,
Begitulah seharusnya sebagai seorang mukmin mensikapi perintah-perintah Allah Swt. Tidak ada kata lain kecuali ungkapan sami’na wa atho’na, dengarkan dan taati. Mentaati apa yang diperintah oleh Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarangnya dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah Swt dan menjauhkan diri dari sikap-sikap riya (pamer) dan kesombongan. Rasulullah Saw. Mengingatkan kepada kita tentang bahayanya syirik yang kecil yaitu sikap pamer dalam beribadah, sebagaimana sabdanya.
“Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah Saw. Bersabda. “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor (syirik kecil).” Para sahabat bertanya,”Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “syirik ashgor adalah riya’, pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan meraka. “pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan mereka.” (HR.Ahmad).
Melaksanakan perintah Allah dengan penuh keikhlasan serta memurnikan ibadah tanpa dikotori oleh motivasi duniawi dinyatakan oleh Allah Swt adalah perwujudan dari agama yang lurus. Dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5 Allah berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS.Al-Bayyinah (98): 5).
Demikianlah hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari dua ibadah utama di bulan Dzulhijjah dan menjadi bagian dari shalat idul adha yang dilaksanakan hari ini. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua untuk bisa menemukan makna ibadah yang kita lakukan dan makna kehidupan yang kita jalani. Semoga saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji diberikan kemudahan, kelancaran dan kesehatan dalam beribadah hingga mendapatkan predikat haji yang mabrur.
Semoga saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah qurban bisa meneladani ketaatan dan kepatuhan Nabi Ibrahin dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt. Terhindar dari sikap ujub dan riya serta mendapatkan balasan yang setimpal berupa pahala dari Allah Swt.
Pada akhir khutbah ini marilah kita berdoa kepada Allah Swt semoga kita semua tetap berada dalam bimbingan-Nya dan ditetapkan keimanan dan keislaman kita hingga akhir hayat menjemput badan.
