Ilmu adalah Cahaya, atau Api yang Membakar?

5383d58f-886e-494c-8c86-a5a7bcb5307f

True knowledge is a light from Allah, and sin keeps that light away.

(Paraphrased from Islamic Tradition)

Oleh:

Dedi Irwansyah

Pernah, dalam satu linimasa kehidupannya, ia berpikiran sederhana. Bahwa ilmu adalah semua tentang apa yang dapat dikalkulasi. Tentang berapa banyak buku yang telah dilahap. Berapa artikel ilmiah yang telah published. Berapa esai populer yang telah diterbitkan. Berapa award yang dipajang di atas mejakerja atau lemari kaca di rumah. Berapa sertifikat yang digantung pada bidang dinding. Mungkin, karena sejak kecil ia terbiasa melihat ilmu dalam bentuk angka. Semacam nilai rapor, ranking di sekolah, indeks prestasi, jumlah sitasi dan lain sebagainya. Sehingga, ilmu adalah semua yang tampak jelas. Semua yang observable dan measurable, terlihat dan terukur.

Tetapi, seiring bertambahnya usia dan interval perjalanan, ia kerap terusik oleh pertanyaannya sendiri. Apakah ilmu memang sederhana seperti itu? Yang bersembunyi di balik gelar, kuantifikasi, dan gradasi?

Pertanyaan itu muncul semakin membuncah manakala dia bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, tetapi tidak selalu memiliki gelar akademik serenteng. Ada yang bijaksana, walau tanpa penguasaan teoretis dan referensial yang solid. Ada yang santun meski tak punya publikasi.

Dia, diam-diam, menonton layar kaca dan melakukan penelusuran. Pada layar, ia melihat orang-orang yang sangat pintar, namun tidak selalu bijak. Ada yang menguasai teori dan referensi, namun mudah tersulutemosi. Ada yang pemilihan diksinya mengagumkan, tetapi sulit menyimak (listening) orang lain. Ada yang memiliki pencapaian akademik mentereng, namun terkesan arogan dan intimidatif.

Dia mulai berpikir. Jangan-jangan, ilmu itu tidak semua tentang apa yang diketahui. Namun juga, mungkin, tentang apa yang dilakukan ilmu terhadap dirinya. Adakah ilmu telah menjadikannya cahaya(nuur) yang menerangi? Atau justru menjadikannya api (naar) yang membakar?

Pada layar yang sama, ia juga pernah melihat seorang ulama bijak berkalam. Bahwa perintah pertama kepada sang Nabi, bukanlah tentang bekerja atau berargumentasi, melainkan tentang membaca. Membaca apa saja asalkan bismi rabbik. Membaca dengan nama Tuhan. Karena, barangkali, di situlah letak pembeda antara ilmu yang menerangi dan ilmu yang membakar itu. Pengetahuan yang disusun dan dideseminasikan tanpa nama Tuhan, mungkin menghasilkan kemajuan, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan pada Tuhan.

Lalu ada masa di mana dia lupa melibatkan Tuhan dalam proses pembelajarannya. Sehingga, membaca tidak membuatnya otomatis menjadi lebih baik. Belajar tidak lantas membuatnya menjadi lebih bijaksana. Pengetahuan yang diraupnya, tidak selalu menghadirkan kedewasaan. Tulisan dan publikasinya tidak selalu mendatangkan kemaslahatan. Itu semua terjadi pada dirinya.

Sampai satu saat, dia mulai percaya. Bahwa ilmu sejati bukanlah yang tertinggal di kepala. Bukan semata yang melekat pada lapisan kognitif. Pun bukan yang terpatri pada lembar ijazah dan transkrip nilai. Melainkan, ilmu yang meresap ke palung hati. Yang mengalir ke tangan menjadi tindakan. Yang menjelma menjadi pelayanan dan perkhidmatan. Yang menjadi sesuatu yang dirasakan kemanfaatannya bagi orang lain. Mengudara dalam partikel-partikel yang mendengungkan serving is a divine art. Bahwa melayani adalah sebuah seni Ilahiah. Bahwa melayani sesama adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Dan kini, sebagai seorang pendidik, dia tidak inginberhenti pada memahami teori pembelajaran.  Ia terusberbenah dan berjuang untuk mampu membuat mahasiswanya merasa dihargai. Ia sadar bahwa keberadaan mahasiswalah yang membuatnya tidak menjadi pengangguran terdidik (educated unemployment). Sebagai peneliti, dia tidak ingin berhenti pada kuantifikasi sitasi. Lebih dari itu, dia berharap tulisan-tulisannya menjadi amal jariyah. Dia sadar bahwa perjalanan ilmu bukan perjalanan menuju ranking dan kemasyhuran. Melainkan perjalanan menuju kerendahan hati dan pengabdian.

Karena dahulu ia pernah mengira. Bahwa semakin banyak belajar, semakin yakin ia dengan dirinya. Namun ternyata, semakin ia banyak membaca, semakin banyak wilayah yang belum dipahaminya. Semakin banyak orang yang ditemuinya, semakin banyak pengalaman dan perspektif yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Dia mengakui keterbatasan dirinya. Dia tidak akan pernah, dan oleh karena itu tidak harus, mampu menguasai segala sesuatu. Dia tidak lagi merasa harus selalu benar dalam segala bidang. Karena ia telah berenang di samudera ilmu yang tiada bertepi. Untuk itu, ia pertama-tama hanya perlu merendahkan hati. Karena samudera itu selalu memilih dataran yang lebih rendah. Semakin rendah, semakin menyamudera.

Perlahan, dia kini mulai paham mengapa ulama besar yang disaksikannya di layar itu, terkesan begitu rendah hati. Terdengar santun tuturnya. Terlihat bersahaja penampilannya. Sehingga ia menduga, sang ulama pastilah telah menyadari samudera ilmu yang tidak bertepi itu. Dan lalu, ia telah menjadikan hatinya sebagai dataran rendah untuk menampung cahaya pengetahuan.

Dia ingin meniru ulama yang dilihatnya pada layar itu. Yang rendah hatinya. Santun kalamnya. Bersahaja tampilannya. Yang tidak berhenti membaca dan menulis dengan nama Tuhan.

Dalam temaram cahaya, ia bermunajat agar pengetahuan dan peran yang kini dimilikinya, menjadi perjalanan menuju Cahaya. Aamiin.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.