Oleh : Muhammad Fauzhan ‘Azima
(Ketua Prodi Ilmu Hadis UIN Jurai Siwo Lampung)
Idul Fitri kembali hadir menyapa orang beriman. Mengalirkan kegembiraan dan kebahagiaan hakiki ke hati para shaimun, orang-orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh, penuh iman dan ikhlas. Pada momen Idul Fitri tahun ini, di antara pesan khatib yang berkesan adalah: “Allah yang disembah, diibadahi, dan ditaati selama Ramadhan ialah Allah yang sama di luar Ramadhan. Al-Qur’an yang dikhatamkan berulang-ulang selama Ramadhan adalah Al-Qur’an yang sama di luar Ramadhan. Yatim piatu yang dikasihani dan dhu’afa’ yang disantuni selama Ramadhan, kehidupan mereka tidak hanya berlangsung selama Ramadhan. Demikian juga, masjid mushala tidak hanya buka selama Ramadhan, tetapi terbuka untuk siapa saja sepanjang tahun.”
Pesan-pesan tersebut mengetuk pintu hati yang terdalam sembari memberi pengingat agar setiap mukmin tidak hanya menaati Allah selama Ramadhan, lalu melupakan-Nya di luar Ramadhan. Terhadap Al-Qur’an, setiap mukmin jangan hanya mengakrabinya selama Ramadhan, lalu menyimpannya rapi selama sebelas bulan lainnya. Al-Qur’an jangan hanya dibaca, ditadarusi, di-tadabbur-i, dan dikhatamkan selama Ramadhan saja. Sementara di luar Ramadhan, disimpan rapi di lemari rumah sebagai jimat pengusir setan atau dipajang di toko sebagai pelaris dagangan. Padahal mushaf-mushaf suci tersebut tidak akan berdampak apa-apa kalau hanya disimpan dan dijadikan pajangan. Kemudian yatim piatu dan kaum dhu’afa’, senantiasa menunggu santunan dan upaya pemberdayaan berkelanjutan dari kaum muslimin. Jangan sampai mereka dicari-cari selama Ramadhan, lalu menjadi kaum terpinggirkan pada sebelas bulan lainnya. Pemakmuran masjid dan syiar-syiar agama semestinya juga tidak hanya berlangsung selama Ramadhan. Jangan sampai masjid penuh sesak selama Ramadhan, kemudian sepi bagai kuburan di luar Ramadhan.
Kiranya pesan-pesan khatib hari ini sebagaimana dikutip di atas senada dengan pesan ulama salaf berabad silam, “Jadilah Rabbani dan jangan menjadi Ramadhani.” Rabbani berarti hamba kesayangan Allah yang terdidik dan senantiasa taat pada Allah di setiap ruang dan waktu. Sementara Ramadhani merujuk pada makna hamba Ramadhan yang kesalehannya hanya terlihat selama Ramadhan. Kurikulum Ramadhan tidak bermaksud menjadikan seorang insan sebagai si saleh karbitan dan si saleh musiman. Output dari kurikulum Ramadhan adalah agar setiap insan terbiasa dengan ketaatan dan kesalehan. Sementara outcome-nya terlihat pada rutinitas dan kekhusyukan ritual ibadah, kedalaman spiritual, dan pancaran akhlak mulia sepanjang tahun. Demikianlah kiranya hakikat takwa sebagaimana termaktub pada ujung ayat puasa (Qs. Al-Baqarah: 183).
Pesan khatib hari ini dan pesan ulama salaf dari zaman lampau merupakan buah renungan dari ayat 92 surah An-Nahl. Ayat tersebut memberi pengingat agar insan beriman tidak seperti seorang perempuan tua yang memintal benang menjadi kain tenun, kemudian ketika tenunannya itu sudah jadi dan kuat, tenunan tersebut dicerai-beraikannya kembali. Setidaknya ayat ini menjadi permisalan untuk dua hal. Pertama, orang yang melanggar sumpah atau mengingkari janji setelah mengikrarkannya. Kedua, orang yang tidak istiqamah dengan ketaatan. Mengganti ketaatannya selama masa waktu tertentu dengan ketidaktaatan dan aneka pelanggaran pada masa-masa berikutnya. Ayat tersebut mengingatkan agar orang beriman tidak menempuh jalan kesia-siaan tersebut.
Pada suatu waktu, seorang sahabat juga pernah meminta pengajaran khusus dari Nabi saw. yang hanya akan diterimanya dari Nabi saw. Dengan kalimat ringkas namun padat makna, Nabi kemudian mengajarkan: “Qul amantu billahi tsummastaqim.” “Katakanlah, aku beriman pada Allah, kemudian istiqamah-lah.” (H.R. Muslim)
Dalam hadis yang lain, Nabi saw. berpesan: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapus keburukan itu. Kemudian bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik” (hadis hasan shahih riwayat At-Tirmidzi). Rangkaian pesan Nabi saw. tersebut, jika dicermati, jelas sekali dalam rangka melanggengkan ketaatan dan kesalehan. Mengokohkan istiqamah dalam setiap detik perjalanan hidup. Sampai kapan? sampai Allah memanggil pulang. “Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian” (Qs. Al-Hijr: 99).
Selamat memasuki Syawal, bulan peningkatan amal. Selamat menirakati istiqamah. Al-Istiqamah khairun min alfi karomah. Istiqamah lebih baik dari seribu keramat. ()