KUPAT DAN LEPAT

81Mukhtar-Hadi

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Program Pascasarjana IAIN Metro) 

Mumpung
masih dalam suasana Idul Fitri atau bulan Syawal 1442 H, rasanya perlu menulis
soal kupat dan lepat. Kupat adalah sejenis makanan dari beras yang dipadatkan
di dalam sebuah wadah berbentuk segi empat yang terbuat dari janur (janur =
daun kelapa muda). Cara membuatnya : ambil janur lalu dianyam segi empat
kemudian diisi beras yang sudah dibasahi lalu dimasak dengan cara direbus atau
dikukus. Perlu waktu agak lama untuk memasaknya supaya matang dengan sempurna
dan bertekstur kenyal padat. Kupat dimakan sebagai pengganti nasi. Semetara
lepat atau lebih tepatnya sering disebut lepet (jawa) atau leupeut
(sunda)  adalah makanan yang berbahan
dasar beras ketan dan dimasak dalam santan, kemudian dibungkus dengan daun
janur dengan cara seperti diulir melingkar sehingga bentuknya lonjong
memanjang. Kita perlu bangga karena kupat dan lepat adalah bagian khazanah
genuine kuliner nusantara.

Pada saat
idul fitri seperti sekarang ini kupat boleh dikatakan makanan paling populer di
hampir semua meja makan muslim Indonesia. Kupat mengalahkan khong guan dan
kue-kue lain selama idul fitri. Kupat sebagai pengganti nasi dimakan dengan
cara dicampur kuah opor dan bisa juga 
dicampur dengan rebusan daun dan sambal pecel. Rasanya maknyuss..
Disamping disediakan sebagai hidangan idul fitri, kupat juga digunakan sebagai
penanda berakhirnya perayaan idul fitri yaitu setelah tujuh hari di bulan
syawal, Hari ketujuh bulan syawal itu sering disebut lebaran ketupat,
yaitu lebaran untuk merayakan berakhirnya puasa Sunnah enam hari di bulan
syawal. Pada Lebaran ketupat itu, ketupat dan didampingi sayur kuah saling
dipertukarkan dengan tetangga kanan kiri. Intinya saling memberi dengan barter
ketupat. Dengan lebaran ketupat, maka berakhir pula perayaan idul fitri dan
tiba masanya semua orang mulai beraktivitas kembali seperti sediakala. Yang ke
sawah kembali ke sawah, yang berkebun kembali berkebun, yang nelayan kembali
berlayar, dan yang pekerja kantoran kembali ke kantor, serta yang menganggur
kembali berfikir bagaimana caranya mendapat pekerjaan.

Cerita di
atas pengalaman penulis di masa kecil hingga remaja. Setelah itu tradisi ini
semakin lama semakin pudar kalah dengan hingar bingar sosial media, simulakra
dan budaya instan. Eits..jangan salah, masih ada yang mempertahankannya. Akan
tetapi jumlahnya tidak seberapa dan kurvanya semakin menurun. Penulis sendiri
yang diwarisi budaya ini, sudah lama tidak melakukannya, walaupun kupatnya
masih selalu ada di meja. Kupatnya masih ada di meja waktu idul fitri, tetapi
lebaran kupatnya sudah tidak ada.

Lalu kue
lepatnya? Lepat umumnya tidak dibuat di awal idul fitri tetapi dihidangkan
sebagai pendamping kupat pada hari ketujuh idul fitri pada saat lebaran
ketupat. Kupat dan lepat disandingkan pada hari ketujuh setelah puasa sunnah
enam hari di bulan syawal.

 

 

Sejarah Ketupat

 

Sejak kapan
ketupat menjadi  budaya kuliner
masyarakat Indonesia? Agak sukar mencari dan menelusuri referensi tentang
sejarah ketupat. Namun menurut  Riza
Miftah Muharam (ruangguru,com, 12/5/2021), ketupat disebut-sebut oleh seorang
Sejarawan Belanda yang bernama Hermanus Johanes de Graaf. Ia memang sejarawan
yang mengkhususkan diri menulis  tentang
sejarah Jawa dalam tulisannya. Malay Annual.   Menurut Hermanus, ketupat yang terbuat dari
beras dan dibungkus anyaman daun kelapa muda itu pertama kali muncul di tanah
jawa sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan kerajaan Demak.

Kala itu,
adalah Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat pertama kali dalam rangka
untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke tanah Jawa yang “ sulit di-Islamkan”
karena masyarakat jawa sudah mempunyai sistem kepercayaan sendiri yang dikenal
dengan Kejawen. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga
menggunakan pendekatan budaya. Ketupat merupakan salah satu yang dipilih karena
dianggap bisa dekat dengan kebudayaan masyarakat jawa saat itu. Berkat ketupat,
penyebaran agama Islam akhirnya bisa diterima luas, banyak yang pada akhirnya
memeluk agama Islam.

Sunan
Kalijaga sebagai salah satu dari Wali Sembilan (Walisongo) yang menyebarkan
agama Islam memang dikenal sebagai pendakwah yang menggunakan pendekatan budaya
dalam usahanya mengenalkan agama Islam. Penetrasi damai melalui akulturasi
budaya adalah pendekatan yang digunakan walisongo untuk menyebarkan agama
Islam  di Indonesia, khususnya di pulau
Jawa.  Pendekatan bil hikmah wal
mauidhatul hasanah wajadilhum billati hiya ahsan
, inilah cikal bakal
penyebaran Islam. Salah satu medianya adalah kekayaan kuliner  nusantara yang bernama ketupat.

 

Makna Ketupat

 

Banyak
penjelasan tentang makna tersirat dari ketupat di luar makna tersuratnya
sebagai makanan pengganti nasi. Secara umum makna-makna itu dikaitkan dengan
ajaran agama Islam mengenai puasa ramadhan, idul fitri dan kehidupan baru
setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Makna filosofis
ketupas itu beredar secara turun temurun melalui budaya lisan yang diwariskan
dari generasi ke generasi. Terkadang terkesan otak atik gathuk (dicari
dan dicocok-cocokan). Yang penting yang dicocokkan dan dihubung-hubungkan
mengenai kebaikan-kebaikan.

Ketupat
secara bahasa adalah singkatan dari mengaku lepat (mengaku salah). Adalah
kesadaran diri pada semua orang bahwa dirinya penuh dengan dosa, kesalahan dan
kekhilafan, Sebab itu sudah sepantasnya mengakuinya dan meminta maaf atas dosa
dan kesalahan itu. Ketupat yang selalu hadir di saat idul fitri itu secara
simbolik bermakna kesadaran pada semua orang yang beriman yang telah sekesai
melaksanakan ibadah puasa untuk menyadari kesalahan dan dimanifestasikan dalam
bentuk meminta ampunan kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada semua orang.

Pada saat
idul fitri hampir semua orang membuka diri dan hatinya untuk menyampaikan
permohonan maaf lahir dan batin atas semua kesalahan yang telah dilakukan.
Permintaan maaf itu dilakukan dari yang muda ke yang tua, dari yang tua ke yang
muda atau juga kepada yang sebaya. Tidak ada lagi sekat tua muda dan strata
sosial , semua lebur dalam saling memaafkan. Kosong-kosong katanya. Sikap
saling mengaku salah ini penting dalam membangun hubungan dan relasi sosial.
Betapa banyak suami istri yang bercerai karena masing-masing merasa benar dan
tidak ada yang mengaku salah. Ada yang pecah kongsi setelah bersekutu dan
berkoalisi karena semua merasa benar dan tidak ada yang merasa salah. Hubungan
antara masyarakat dan pemerintah terkadang mengalami ketegangan karena semua
merasa benar memperjuangkan masyarakat, namun tidak ada yang kesatria mengakui
kesalahannya. Ketupat dan idul fitri memberikan pesan kepada kita semua agar
dalam hidup ini harus berani mengakui kesalahan dan dengan rela hati meminta
maaf dan memberi maaf.

Sikap tidak
mau mengakui kesalahan dan membela diri atau membenarkan terhadap kesalahan
yang dilakukan hanya akan menimbulkan kehinaan bagi diri. Ibnu Taimiyyah
mengatakan hendaklah seseorang 
mengetahui bahwa tidaklah seseorang membalas untuk membela jiwanya
kecuali hal itu akan menimbulkan kehinaan pada dirinya. Rasulullah SAW bersabda
Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliannya
(HR.Muslim). Tagarnya #Berani salah dan memberi maaf.hebat#.

Bentuk
persegi empat dari ketupat digambarkan sebagai empat penjuru yang melambangkan
empat tindakan yaitu Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.

Pertama, Lebaran dari kata lebar (dibaca
dengan e pepet) berarti suatu tindakan yang berarti telah selesai. Maksudnya
adalah telah selesai menjalankan ibadah puasa dan ibadah-iabadah lainnya selama
satu bulan penuh di bulan ramadhan dan sudah saatnya diperbolehkan berbuka  untuk menikmati makanan dan hal-hal lainnya
yang selama puasa dilarang untuk dilakukan.

Kedua, Luberan berarti meluber, yang
menggambarkan sikap senantiasa suka bersedekah dengan ikhlas bagaikan air yang
melimpah dan meluber dari wadahnya. Madrasah Ramadhan yang mengajarkan untuk
banyak bersedekah dan berinfak hendaknya senantiasa terpatri dan menjadi
kebiasaan di bulan-bulan berikutnya di luar Ramadhan. Karena itu tradisi
membagikan sedekah dan makanan di hari raya idul fitri menjadi kebiasaan
masyarakat Islam Indonesia. Rezeki kita adalah rezeki yang meluber kepada yang
lain yang membutuhkan.

Ketiga, Leburan yang berarti lebur atau habis.
Maksudnya adalah agar saling memaafkan dosa-dosa yang telah dilakukan, sehingga
segala kesalahan yang telah dilakukan bisa dimaafkan sehingga bersih tidak
tersisa. Tidak ada lagi permusuhan dan dendam karena semua sudah dilebur dan
dikubur dalam-dalam.  Itulah mengapa
masyarakat kita memiliki tradisi silaturahmi ke tetangga dan kerabat dari rumah
ke rumah untuk bermaaf-maafan. Tujuanya melebur kesalahan dan dosa.

Keempat, Laburan yang berarti bersih putih. Ini
dari kata labur atau kapur. Makna simboliknya berharap setelah leburan
akan senantiasa terjaga kebersihan hati dan akhirnya menjadi suci seperti bayi
yang baru dilahirkan. Manusia dituntut agar senantiasa menjaga perilaku (taat
lahir) dan hatinya  (taat batin) dan
jangan sekali-kali mengotori hati yang telah suci bersih.

Ketupat
yang terbuat dari daun kelapa muda yang disebut dengan janur. Janur berasal
dari kata
Jaa-a Nur yang berarti telah datang cahaya. Maknanya adalah
bahwa orang-orang beriman setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama
satu bulan penuh maka dirinya akan bersih dan suci serta siap mengarungi
kehidupan baru dengan penuh kebaikan dan keikhlasan atas petunjuk Allah SWT.
Inilah cahaya baru bagi orang-orang yang beriman. Hidupnya diliputi cahaya dan petunjuk
Allah (nur) dengan harapan dapat mengarungi kehidupan yang lebih baik lagi di
masa-masa mendatang di sisa-sisa umurnya.
Wallahu a’lam bishawab. 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.