metrouniv.ac.id – 4/08/2026 – 20 Safar 1448 H
Prof. Dr. Siti Nurjanah, M.Ag. (Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Di sebuah desa yang tenang di pinggiran sebuah kota, hiduplah dua orang sahabat yang tumbuh bersama sejak kecil: Awi dan Bilqis namanya. Mereka bersekolah di tempat yang sama, bermain di lapangan yang sama, dan berjanji akan saling mendukung hingga meraih kesuksesan. Awi anak yang cerdas, rajin, dan rendah hati, namun berasal dari keluarga sederhana. Bilqis juga cerdas, namun ia terbiasa hidup berkecukupan, dan perlahan tumbuh dengan ambisi yang tak lagi mengenal batas.
Ketika usia mereka memasuki masa dewasa, sebuah kesempatan besar datang ke kota mereka: perekrutan seorang staf ahli di lembaga pendidikan terkemuka yang diimpikan banyak orang. Gajinya layak, jabatannya terhormat, dan bisa menjadi jalan bagi siapa saja untuk mengubah nasib keluarga. Syaratnya hanya satu: siapa yang mampu menyusun makalah terbaik dan lulus ujian wawancara dengan nilai tertinggi.
Selama tiga bulan, Awi bekerja siang dan malam. Ia bangun sebelum adzan Subuh, belajar di bawah cahaya lampu yang kadang redup, menyusun gagasan berdasarkan pengalaman dan ilmu yang ia pelajari dengan tulus. Kadang ia berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mencari referensi buku yang tak dimilikinya, ia harus puas makan seadanya agar bisa membeli kertas dan tinta. Sementara itu, Bilqis melihat usaha sahabatnya itu dengan rasa iri yang perlahan berubah menjadi niat buruk. Ia tahu, jika hasil kerja Awi keluar apa adanya, ia pasti akan kalah.
Malam sebelum penyerahan tugas, Bilqis menyelinap diam-diam ke tempat belajar Awi. Dengan tangan gemetar namun didorong nafsu ambisi, ia menyalin seluruh tulisan, gagasan, dan susunan makalah sahabatnya itu ke dalam berkas miliknya sendiri. Lalu ia menyembunyikan naskah asli Amar di tempat yang tak akan ditemukan siapa pun, membuang sebagian lembarannya ke sungai yang mengalir di belakang rumah.
Keesokan harinya, saat Awi membuka tempat penyimpanan berkasnya, ia terpaku. Kertas-kertas itu hilang. Ia mencari ke seluruh penjuru rumah, ke tempat biasa mereka duduk bersama, namun tak ada jejak. Dengan hati hancur, ia datang ke tempat pendaftaran hanya dengan secarik kertas catatan kecil yang tersisa di saku bajunya. Bilqis berdiri di sampingnya dengan wajah penuh penyesalan pura-pura, berkata pelan: “Maafkan aku, Awi. Seandainya aku bisa membantumu lebih banyak, akan kubantu, namun tak ada yang bisa kubantukan untukmu.”
Saat hasil penilaian diumumkan, nama Bilqis terpampang di urutan pertama. Para penguji memuji gagasan yang ia sampaikan, menyebutnya luar biasa dan mendalam. Bilqis tersenyum lebar, menerima ucapan selamat dari kerumunan orang, sementara Awi hanya berdiri diam di sudut ruangan, menahan air mata agar tak jatuh. Tak ada satu pun yang percaya padanya. Bahkan sebagian orang berbisik: “Mungkin saja Awi yang ingin meniru hasil kerja Bilqis.”
Berbulan-bulan berlalu. Bilqis menikmati kemewahan jabatan yang ia renggut dengan cara tak benar. Ia mengenakan pakaian bagus, berbicara dengan nada tinggi, dan berusaha sekuat tenaga menutupi jejak perbuatannya. Jika ada yang bertanya tentang proses penulisan makalah itu, ia mengalihkan pembicaraan, atau mengarang cerita baru yang meyakinkan. Ia berpikir: “Siapa yang akan tahu? Tidak ada saksi, tidak ada bukti. Kebenaran sudah terkubur dalam.”
Namun ia lupa satu hal: ada Dzat yang melihat setiap gerak-geriknya, bahkan saat tak ada mata manusia yang menyaksikan. Bilqis benar-benar sudah dibutakan oleh nafsu keserakahan dirinya, yang sama sekali tidak mempertimbangkan persahabatan yang terjalin sejak kecil. Semuanya ia lupakan hanya karena ambisi dan ingin menang sendiri.
Di sisi lain, Awi tak pernah meladeni rasa sakitnya dengan cara membalas dendam. Ia tak mengadu, tak menyebarkan fitnah, dan tak membenci Bilqis. Setiap kali ia merasa berat, ia hanya sujud memohon kepada-Nya: “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang terjadi. Jika Engkau menghendaki, tegakkanlah kebenaran-Mu. Jika tidak, berikanlah aku kesabaran yang tak terbatas.” Ia kembali bekerja dengan jujur, mengajar anak-anak kecil secara sukarela, dan menulis kembali gagasan-gagasannya perlahan namun pasti.
Kisah Awi dan Bilqis menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan kita sebagai manusia lemah yang tak memiliki kekuatan apa-apa kecuali atas Maha Kasih dan Sayang Allah Tuhan Yang Maha Pemurah. Persahabatan tidak bisa diputus begitu saja, karena telah melalui perjalanan panjang yang penuh suka dan duka. Persahabatan yang baik adalah yang dapat memahami antara satu dengan lainnya. Ketika kita sedang dalam keadaan senang ingatlah sahabat yang mendampingimu di kala susah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Hujurat’ 10, artinya bahwa “Setiap orang mukmin itu bersaudara, maka jagalah kebaikan di antara kalian, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”. Bahkan Allah melarang membuka aib sesama saudara, dan firman-Nya juga dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Satu tahun kemudian, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Lembaga itu mengadakan seminar besar, dan meminta Bilqis untuk memaparkan kembali gagasan yang membuatnya diterima, lengkap dengan argumentasi dan landasan pemikiran yang mendalam. Saat ia berdiri di hadapan ratusan orang, mulutnya terasa kaku dan terbata-bata yang keluar dari lisannya. Ketika seorang penguji bertanya tentang bagian yang paling mendasar dari tulisan itu, Bilqis bingung menjawabnya. Ia tak tahu asal-usul gagasan itu, tak mengerti makna tersirat di balik kalimat-kalimat yang ia bacakan. Jawabannya berantakan, berbelit-belit, dan jauh dari makna yang sebenarnya.
Saat itu, seorang tamu undangan yakni seorang ulama sekaligus ahli yang pernah membimbing Awi dulu bertanya dengan tenang: “Gagasan ini pernah saya dengar dari seorang pemuda bernama Awi, bertahun-tahun lalu. Apakah Anda mengenalnya?” Pertanyaan yang tulus datang dari seorang tokoh yang sangat mengetahui perjalanan kehidupan Awi yang dikenal cerdas dan tidak sombong dengan kemampuan yang dimiliknya.
Wajah Bilqis memucat. Keringat dingin membasahi punggungnya. Di saat yang sama, tanpa disangka-sangka, seorang anak kecil yang bermain di tepi sungai beberapa waktu lalu membawa selembar kertas yang tersangkut di akar pohon. Kertas itu sebagian sudah rusak, namun masih terbaca tulisan tangan khas Awi, lengkap dengan tanggal dan catatan kecil yang hanya diketahui oleh pemiliknya.
Perlahan namun pasti, semua kepingan cerita tersusun kembali. Bukti demi bukti muncul bukan karena campur tangan manusia, melainkan karena kehendak Dia yang Maha Mengatur. Bilqis akhirnya tak sanggup lagi menahan beban kebohongan yang ia pikul sendirian. Ia menangis di hadapan semua orang, mengakui segala perbuatannya, meminta maaf kepada Awi, dan bersedia menerima segala konsekuensi yang ada. Ayat yang telah dijelaskan di atas ternyata sangat dihayati dan dilaksanakan dengan baik oleh Awi dalam kehidupannya, ia sadar bahwa sifat dendam itu tidak baik dan bahkan bisa menggerogoti imannya secara perlahan. Itulah makan Awi tidak menyimpan dendam kepada Bilqis dan bahkan sudah memaafkannya dengan ikhlas.
Keesokan harinya, jabatan itu dikembalikan kepada Awi. Namun hal yang paling berharga bukanlah posisi atau kemewahan yang didapatnya, melainkan ketenangan hati yang utuh. Ia tersenyum kepada Bilqis yang menunduk penuh penyesalan: “Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Yang paling penting sekarang adalah kamu berjanji pada dirimu sendiri untuk kembali jujur.” Sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya dan membutuhkan keseriusan untuk melaksanakannya.
Malam itu, saat Awi sujud syukur di sajadahnya, ia sadar sepenuhnya: Manusia boleh saja menutupi jejak, menyembunyikan fakta, dan memutarbalikkan kenyataan sesuka hati. Namun tak ada satu pun yang tersembunyi bagi Allah. Kebohongan mungkin bisa bertahan sehari, sebulan, bahkan setahun, namun keadilan-Nya pasti akan datang pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tak pernah kita duga, namun selalu sempurna dan adil.
Dan bagi siapa yang bersabar dan menjaga kejujuran, pertolongan-Nya tak pernah terlambat. Karena Dialah yang Maha Mengetahui segala isi hati, dan Dialah satu-satunya Hakim yang tak pernah salah menjatuhkan putusan. Manusia bisa saja menyembunyikan sebuah kebenaran, namun di hadapan Sang Maha Pencipta tidak ada yang bisa luput sedikit pun. Allah Maha Mengetahui dan Maha Adil.