metrouniv.ac.id – 30/05/2024 – 22 Dzulqa’ah 1445 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut kurang lebih empat ratusan jamaah haji itu mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Jeddah. Tepat pukul 06.01 waktu Mekah. Menempuh perjalanan sekitar sembilan jam dari Jakarta. Kalau di Indonesia sekitar pukul 10.01. ada selisih empat jam antara Arab Saudi dengan Indonesia. Lebih cepat waktu Indonesia.
Jamaah haji segera bergegas untuk bangun dan turun pesawat dengan antri. Sebagian yang lain harus merapikan pakaian ihramnya. Maklum pakaian putih yang tidak berjahit itu sudah dipakai sejak di Asrama haji Embarkasi Lampung. Berarti sudah melekat hampir delapan belas jam. Sebagian lagi awut awutan karena sejak awal memakainya memang kurang pas. Sudah berkali-kali belajar memakai pakaian ihram, namun terkadang jamaah masih ada yang masih bingung cara memakainya yang nyaman di badan.
Kesibukan lainnya adalah memperbaharui niat umroh. Niat umrah yang sudah mantap kan dan dilafalkan di atas pesawat tepat berada di wilayah Yalam lam, begitu turun pesawat dimantapkan lagi. Ada yang sudah merasa cukup dengan niat di atas pesawat, sehingga merasa tidak perlu mengulang lagi niat umrah.
Yang lain sibuk mencari buku pegangan doa-doa yang sudah dibawakan oleh panitia haji. Apa kira-kira doa yang harus dibaca ketika naik kendaraan, apa doa yang harus dibaca saat memasuki kota Mekah, dan doa-doa lainnya. Para pembimbing haji dari kelompok bimbingan ibadah haji sibuk menuntun jamaahnya untuk membaca doa-doa tersebut. Doa-doa itu sayup- sayup hilang ditelan udara Mekah yang panas. Selamat datang di Kota Mekah.
Setelah pemeriksaan imigrasi, jamaah diarahkan untuk menuju bus yang sudah disediakan panitia haji. Paspor jamaah diminta oleh petugas untuk dikumpulkan. Katanya nanti kalau mau pulang haji, paspor akan diberikan kembali. Ikut sajalah daripada disuruh pulang lagi. Lantas jamaah haji naik bis satu persatu. Satu bis penuh maka bis selanjutnya sudah menunggu. Di dalam bis, kue kotak dengan minuman sudah disediakan di masing-masing kursi. Alhamdulillah, rezeki pertama sebagai tamu Allah.
Waktu tempuh antara Jeddah ke Mekah kurang lebih satu jam setengah. Di tengah teriknya sinar matahari yang menyapu kota Mekah bis-bis itu berderit menyusuri jalan beraspal. Suhu di luar mencapai 43 derajat Celcius. Suhu di dalam bis 16 derajat Celcius. Suhu yang nyaman untuk tidur di tengah suara-suara bacaan talbiah jamaah. Sementara aku menyapukan pandangan mata melihat dari dekat penampakan alam kota suci ini.
Hampir sepanjang jalan bukit-bukit batu berdiri kokoh dan mengakar kuat mencengkeram bumi. Padang tanah yang tandus dan berdebu diselingi satu dua tanaman perdu yang seperti enggan untuk tumbuh meninggi. Sisa-sisa tanaman rumput kering di sela-sela bukit batu.
Di beberapa lokasi berdiri bangunan-bangunan gedung seperti hotel kecil dan rumah yang arsitekturnya monoton: kotak dan ‘telinga’ yang menghiasi dindingnya sebagai wadah kompresor pendingin ruangan.
Bangunan-bangunan itu berdiri di sela-sela bukit batu. Dimana ada sedikit dataran rendah dan berlembah maka disitulah didirikan bangunan. Bangunan-bangunan itu seperti terhimpit di antara batu-batu karang yang siap melindunginya kapan saja. Begitulah pemandangan mataku sepanjang Jedah dan Mekah.
Namun mendekati kota Mekah gambaran sebagai kota modern mulai nampak. Gedung bertingkat berupa hotel dan penginapan, jalan beraspal yang teratur dan jaringan kabel yang nyaris tidak ada yang bergelantungan seperti di Indonesia. Konon semua jaringan fasilitas publik seperti listrik, air, internet, dan lainnya di Mekah ditanam di dalam tanah sehingga terlihat rapi.
Sebuah daerah yang berbatu dengam deru pasir berdebu itu kini tampak dengan wajah lain. Bukit-bukit batu itu masih berdiri kokoh dimana-mana bahkan di sekitar Masjidil haram, namun tidak tampak lagi kemuraman dan kesangaran sebagai dijelaskan oleh para ahli sejarah tentang Jazirah Arab masa lalu. Yang nampak adalah kita yang bersinar dengan bangunan kokoh berdiri dimana-mana. Makan minum yang berlimpah dan kemakmuran nampak dimana mana. Kalau kita ke masjidil haram banyak yang menawarkan minum dan roti gratis. Halal kata mereka, maka halal pula bagi kita.
Doa Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam telah nyata-nyata dikabulkan oleh Allah SWT. Begini doa Nabi Ibrahim sebagai termaktub dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 35: “Dan Ingatlah ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah) sebagai negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku
dari menyembah berhala” Mekah yang tandus itu kini benar-benar diberkati oleh Allah SWT. Setiap tahun jutaan orang di seluruh dunia hatinya tertambat di negeri ini. Begitu datang, ingin kembali dan ingin lagi. (MH, 29/05/2024).