Membaca Singa dan Tikus

1

metrouniv.ac.id – 4/11/2024 – 2 Jumadil Awal 1446 H

Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)

 “Laa tahtaqir man duunaka falikulli syai’in maziyyatun” (Pribahasa Arab)

Mencermati fabel The Lion and The Mouse, pembaca mungkin akan segera tahu bahwa singa memulainya dengan sikap skeptis. Singa tidak percaya jika suatu saat kelak, tikus bisa menjadi penyelamat hidupnya. Singa hanya sedang tidak lapar saja ketika tikus merayap di kakinya dan membangunkannya yang sedang tidur siang. Singa tampak hanya menggertak seolah-olah hendak melumat si tikus mungil. Singa hanya senang melihat tikus yang ketakutan lalu mengiba meminta untuk dilepaskan. Singa hanya terhibur ‘tipis-tipis’ ketika mendengar tikus berjanji akan membalas kebaikannya dengan kebaikan yang lebih baik.

Dan singa, si raja hutan itu, tampak tersenyum getir-nan-sinis mendengar janji manis si tikus. Singa seperti menemukan lelucon berbalut nuansa mission impossible di dalam janji itu. Karena terdengar lucu, sang raja hutan lantas membiarkan si tikus pergi. Bukan karena ia percaya janji si tikus, apalagi terdorong oleh harapan untuk menagih janji itu suatu saat nanti. Mungkin,  ide kocak tentang si alit menolong sang elit-lah yang menjadi alasan utama mengapa singa melepas tikus.

Syahdan, rupanya tikus tidak berjiwa khianat. Kebaikan singa terlanjur ia patrikan di dasar palung jiwanya. Itulah mengapa, si tikus segera berlari cepat membelah gelap malam, ketika ia mendengar raungan si raja hutan. Tikus seperti  mendengar raungan, yang tidak hanya menyayat hati, namun juga meminta pembukitan janji. Sejurus kemudian, didapatinya singa tak berdaya dalam jaring-perangkap para pemburu. Bagi singa, tali-penyusun-jaring itu terlalu alot untuk ditaklukkannya. Namun tidak demikian adanya bagi tikus. Tikus diberkati dengan gigi solid yang mampu merobek tali-buatan-manusia paling kuat sekalipun. Sebagai langkah awal, tikus meminta singa untuk berhenti meraung karena raungannya hanya akan mempercepat kedatangan para pemburu. Lalu, dengan segala keuletan, tikus perlahan memutus simpul-simpul perangkap hingga singa akhirnya dapat membebaskan diri.

Di dalam fabel, binatang seperti singa dan tikus bisa berpikir dan bicara layaknya manusia. Sebaliknya, pada kehidupan nyata (real life), kita tidak akan menyaksikan singa dan tikus menggunakan bahasa seperti manusia. Melalui fabel ini, singa digunakan sebagai penggambaran kekuatan (strength) atau persona yang diberkati dengan kekuasaan (power) untuk merajai sebuah komunitas. Pada fabel ini, tikus digunakan untuk menggambarkan pihak lemah, proletar, atau semacam mustadh’afin. Di dalam kehidupan nyata, terdapat kecenderungan ‘para singa’ untuk memandang rendah ‘para tikus’; dan ada kecenderungan ‘para tikus’ mengkhianati ‘para singa’. Dan fabel ini telah mengurai kompleksitas kecenderungan hubungan singa-tikus, dengan menyuguhkan ending cerita yang memuat pesan baik.

Memang, pada satu titik, singa mencerminkan might is right. ‘Might’ adalah kekuasaan dan ‘right’ adalah kebenaran. Kekuasaan adalah kebenaran, sehingga benar tidaknya sesuatu ditentukan oleh singa sebagai pemegang kuasa absolut. Jika singa melumat tikus yang telah mengganggu tidur siangnya, itu adalah benar. Sama benarnya manakala si singa membiarkan si tikus pergi. Di titik lain, singa terkesan berbaik hati kepada kelompok subordinat. Singa tergambar mampu meregulasi emosi dan memberi pengampunan kepada tikus yang telah mengganggu istirahatnya.

Melalui kesederhanaan alur, fabel ini menyuguhkan pembaca sebuah kebenaran praktis (practical truth): bahwa singa tidak selalu melumat dan tikus tidak selalu khianat. Dan sekiranya kepada sang singa diberi kesempatan untuk menyampaikan ibroh atas pengalamannya bersama tikus, boleh jadi ia akan berkata, “Jangan terlalu sinis, skeptis, apalagi sampai memandang rendah pihak lain. Karena setiap makluk diberkati dengan sesuatu yang tidak kita miliki. Sehingga di ujung hari, kepada pihak lain kita akan sudi berkata: kemarilah, I have what you don’t, and certainly you have what I don’t. Aku punya yang tidak engkau punyai, dan engkau pasti memiliki apa yang tak aku miliki.” Tabiik.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.