اَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَّرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
“Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi agar dia bersenang-senang dan bermain-main. Sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.”
Q.S. Yusuf [12]
metrouniv.ac.id – 15/08/2026 – 2 Rabiul Awal 1448 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Ada sebuah babak pada kisah terindah (ahsanal qashash) itu. Yaitu, tentang cinta seorang ayah kepada anak lelakinya, dan tentang seorang anak yang membalas cinta sang ayah dengan bakti yang mendalam. Bahwa seorang ayah mencintai anaknya, itu lumrah, dan mudah ditemui. Tetapi, cerita dalam babak ini, memang berbeda. Ia menunjukkan bahwa cinta lebih dari sekedar perasaan. Ia adalah keyakinan yang tetap menyala di hadapan ruang dan waktu yang brutal. Tetap benderang bahkan ketika semua pertanda terlihat berkata sebaliknya.
Babak kisah itu bermula dari sebuah mimpi. Sang anak, yang kala itu masih remaja, bermimpi melihat sebelas bintang, bulan, dan matahari bersujud kepadanya. Ia ceritakan mimpi itu kepada sang ayah. Sebuah mimpi yang indah, tetapi juga menyiratkan petaka. Sang ayah tidak sekedar mendengar mimpi sang anak. Ia melihat ada potensi bahaya di baliknya. Ia lalu meminta sang anak untuk tidak menceritakan mimpi itu kepada orang lain. Karena orang lain bisa saja iri. Karena iri hati bisa bekerja dalam senyap tanpa ekspresi kebencian yang terang-terangan. Karena iri hati bisa menjangkiti siapa saja. Termasuk saudara-saudaranya.
Namu apa lacur, saudara-saudaranya itu telah menyimpan iri sebelumnya. Karena mereka merasa kasih sayang sang ayah tidak terbagi secara adil. Cinta dan perhatian sang ayah dinilai lebih condong kepada sang anak dengan mimpi istimewa itu. Bahkan karena itu, mereka menyematkan cap la fi dhalaalim mubiin kepada sang ayah. Bahwa sang ayah keliru atau sesat.
Maka mereka menyusun rencana besar. Bahwa untuk mendapatkan perhatian sang ayah, mereka akan menghilangkan si anak emas. Melalui sebuah bujukan, mereka berhasil membawa si anak keluar dari rumah. Kemudian, mereka melemparkan sang anak ke dalam sebuah sumur tua. Sang anak terjerembap dalam gelap, sepi, dan ketidakpastian yang intens. Namun, pada saat dan tempat yang tampak seperti sebuah akhir, pertolongan Tuhan datang. Sebuah kafilah mendekati sumur. Sang anak ditemukan lalu dibawa pergi.
Sementara sang anak berjalan menuju Mesir, sang ayah tinggal di Palestina bersama hati yang poranda. Sang ayah larut dalam tangis yang panjang. Ia menagis begitu lama hingga matanya tidak lagi mampu melihat. Ia kehilangan sang anak. Ia kehilangan penglihatannya. Dan di tengah itu semua, ia tidak kehilangan satu hal. Yaitu, keyakinan bahwa anaknya akan kembali.
Di Mesir, kisah sang anak memasuki babak baru. Oleh kafilah, ia dijual kepada seorang pembesar istana. Ketika hidup tampak akan berjalan tenang, ujian tidak berhenti menghampiri. Sang anak yang tengah beranjak dewasa itu, dikaruniai paras yang teramat rupawan. Istri majikannya terpikat. Ia menolak. Lalu ia difitnah, hingga ia berujung di penjara.
Penjara menjadi tempat pengasingan kedua, setelah sebelumnya adalah sumur tua. Dua tempat yang berbeda, namun sama-sama meneguhkan kesabaran dan keyakinan. Kesabarannya dalam menjaga kesucian diri, dan keyakinannya terhadap pertolongan Tuhan, membuatnya mampu menafsirkan mimpi. Sebuah kemampuan yang membawanya keluar dari penjara dan mendekatkannya kepada Raja Mesir.
Long story short, Raja Mesir menjadikannya sebagai Menteri yang mengelola lumbung makanan. Dunia yang dahulu asing kepadanya, kini bergantung pada kebijaksanaannya. Dan suatu hari di masa paceklik panjang, saudara-saudaranya datang dari Palestina ke Mesir untuk meminta makanan. Mereka tidak mengenalinya. Mereka sedang meminta kepada seorang menteri yang sejatinya adalah anak yang pernah mereka buang ke dalam sebuah sumur tua.
Di titik ini, cerita ini menjadi semakin indah. Sang menteri bisa saja membalas. Ia memiliki semua alasan, semua kesempatan, dan bahkan semua kekuasaan untuk melakukan pembalasan. Tetapi, ia memilih membuka identitasnya. Bukan untuk menghukum. Tetapi untuk mengembalikan keutuhan sebuah keluarga. Lalu, kepada saudara-saudaranya, sang menteri memberi jubahnya agar dibawa pulang untuk diusapkan ke wajah sang ayah. Mereka lalu bergegas bertolak dari Mesir menuju Palestina.
Syahdan, ketika rombongan bertolak dari Mesir, sang ayah yang saat itu berada jauh di Palestina, telah mencium aroma anaknya yang hilang. Jarak Palestina dan Mesir bukan jarak yang pendek. Manakala ia ceritakan aroma sang anak kepada keluarganya, ia dianggap gagal move on. Ia dianggap masih terpenjara dalam kesedihan dan kekeliruan yang sama. Dan begitulah, ada penglihatan yang tidak lahir dari mata. Ada ingatan yang tidak tunduk pada jarak. Ada keyakinan yang tak lekang dibilas waktu. Cinta seorang ayah kepada anaknya itu, seakan mempunyai inderanya sendiri.
Lalu, jubah sang anak pun tiba. Yang menegaskan ia masih hidup. Bukan hanya hidup, ia telah pula tumbuh menjadi seorang menteri di Mesir. Dan manakala jubah itu diusapkan ke wajah sang ayah, mata yang tadinya buta, kini bisa melihat kembali. Jubah anaknya yang saleh itu telah mendatangkan keberkahan bagi penglihatannya.
Cerita berakhir bahagia. Keluarga itu menjadi utuh kembali dan menghabiskan sisa umur di Mesir. Namun begitu, pesona keindahan dari cerita ini, tidak serta merta berakhir. Ia tetap menjadi cerita terindah yang dikisahkan Tuhan kepada Nabi paling agung.
Sekarang, kita bertanya mengapa babak di atas menjadi bagian dari cerita yang paling mengagumkan? Kita hanya bisa membayangkan seorang ayah yang kehilangan anak remajanya. Yang lalu menangis pilu hingga hilang penglihatan. Perasaan kehilangan telah membutakan mata, tetapi cinta membuatnya melihat lebih jauh. Kita hanya bisa membayangkan seorang ayah yang terpisah dua dekade lebih dari anaknya. Dan terpisah oleh jarak geografis yang jauh. Di hadapan logika jarak dan waktu, cinta sang ayah menolak untuk tunduk. Ia pertahankan keyakinan yang tampak ganjil bagi dunia sekitar. Dari ayah yang soleh seperti itu, lahir anak yang juga soleh. Yang sabar dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Yang mampu menafsirkan mimpi. Yang mampu menjalankan peran menteri. Yang mampu mengembalikan keutuhan keluarga. Yang jubahnya menjadi dalil tentang keberkahan. Dan kini menurutmu kawan, adakah cerita yang lebih mengagumkan dari ini? Tabiik.