socio
echo
techno
preneurship

MeTROUNIV Article

MERAYAKAN PERBEDAAN

Facebook
Twitter
WhatsApp

metrouniv.ac.id – 03/01/2023 – 11 Jumadil Akhir 1444 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Biasanya orang berkumpul dan bersenang-senang untuk merayakan kesamaan. Karena satu almamater, dilakukan reuni lalu merayakan pertemuan. Karena berasal dari organisasi yang sama, melakukan persamuhan dan merayakannya dengan makan-makan. Karena berasal dari daerah yang sama, lalu kumpul-kumpul dan bersenang-senang. Namun bagaimana jika yang terjadi sebaliknya, bersenang-senang dan bergembira, justru karena perbedaan? Inilah yang dirasakan keluarga besar Kementeraian Agama pada acara Peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama yang ke-77.

Istimewa, karena Hari Amal Bakti Kementerian Agama yang ke 77 yang jatuh pada tanggal 3 Januari 2023,  dirayakan melalui upacara dengan menggunakan pakaian adat nusantara. Semua peserta upacara menggunakan pakaian adat. Tentu karena Indonesia memiliki banyak budaya dan pakaian adat, hampir semua pakaian adat nusantara ada. Peserta upacara ada yang memakai pakaian adat suku Dayak Kalimantan, ada yang memakai pakaian adat Sumatra Barat, pakaian adat Lampung, Jawa, Sunda, Madura, Betawi, Bali, Sumbawa, Melayu Riau, Palembang, dan banyak lagi yang lainnya. Sebutan yang terakhir ini, meminjam istilah bang Haji Rhoma Irama.

Terasa sekali suasananya sebagaimana semboyan kita, Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Generasi sekarang ini harus paham, mengapa dahulu para pendiri bangsa (founding Fathers) menggali nilai-nilai luhur dari bangsa Indonesia yang ada di wilayah Nusantara yang berbeda-beda tersebut lalu diikat oleh satu ikatan kokoh yang bernama Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan itulah yang mempersatukan kita dan menjadikan kita sebagai suatu Bangsa yaitu Bangsa Indonesia.

Kesadaran sebagai bangsa dengan sejarah yang sama menjadikan bangsa ini menjadi kokoh dan tahan banting terhadap segala hempasan angin kencang yang akan meruntuhkan sendi-sendinya. Benedict Anderson (2002), menyebut bangsa, kebangsaan dan rasa kebangsaan  (nationality) sebagai sebuah komunitas yang terbayang (imagined communities). Anderson        menyebut bangsa adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan.

Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekali pun tidak bakal tahu takkan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka. Namun toh di benak setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka.

Bayangan dalam pikiran tentang persamaan, yang kemudian melahirkan solidaritas dan kesetiakawanan dan pada akhirnya saling merasa memiliki. Itulah rasa kebangsaan yang melahirkan nasionalisme dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa. Perbedaan adalah milik bersama. Budaya yang kumiliki adalah milikmu, demikian pula budaya yang kaumiliki adalah milikku juga. Semuanya adalah milik kita bersama sebagai sebuah bangsa.

Begitulah perayaan HAB Kementerian Agama kemarin. Dengan pakaian adat nusantara merayakan perbedaan. Saya orang Jawa mengenakan pakaian adat Lampung dan meresapi rasa Lampungisme. Ada yang menggunakan pakaian adat orang Dayak, seperti halnya orang Dayak padahal ia bukan berasal dari etnis Dayak. Menggunakan pakaian Madura, padahal ia bukan orang Madura. Begitulah rasa kebangsaan, semua terasa milik bersama, tanpa sekat dan meleburkan segala perbedaan. Semua mengidentifikasikan dirinya sebagai sebuah bangsa yaitu Bangsa Indonesia.

Sangat mengherankan jika ada yang  berusaha untuk mengurai dan mencerai beraikan ikatan tenun kebangsaan ini. Kain yang sudah sangat kuat nan indah yang dipintal dari benang-benang yang berbeda sehingga menjadi kokoh akan dikoyak-koyak. Entah atas nama etnisitas dan ras, atas nama agama atau atas nama liberalisme kapitalis atau komunisme.  Jangan Mau! Karena pintalan benang yang menjadi kain yang kokoh itu telah menyatukan kita selama ini. Kain itulah bangsa kita, Bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mari rayakan perbedaan, sebagaimana al-Qur’an juga mengajak untuk merayakannya. Manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah supaya saling kenal mengenal dan kemulian kalian bukan dari asal sukunya itu tetapi karena kebaikan dan ketakwaanya. (QS.Al-Hujurat; 13). Begitulah Allah mengingatkan dalam Firman-Nya. Pesan yang kita petik dari Hari Amal Bakti Kementerian Agama: Rayakan Perbedaan, jaga persatuan dan hindari perpecahan. Kerukunan Umat Untuk Indonesia Hebat. Dirgahayu Kementerian Agama yang ke-77. (mh.03.01.23)

Artikel Terkait

DISPENSASI MENIKAH

metrouniv.ac.id – 03/01/2023 – 11 Jumadil Akhir 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)   Harian Tribun

Politik Gagasan & Gerakan?

Politik Gagasan & Gerakan? metrouniv.ac.id – 27/01/2023 _ 5 Rajab 1444 H Dharma Setyawan, M.A. (Wakil Dekan 3 FEBI IAIN

Penggunaan Bahasa dan Karakter Diri

metrouniv.ac.id – 17/01/2023 – 25 Jumadil Akhir 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Thomas Lickona, seorang

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.