NGOPI GAIIS…

Screenshot_2026-07-18-09-55-55-14_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

(KETERIKATAN SECANGKIR KOPI)

Oleh :

Haris Setiaji

Beberapa waktu lalu saya memiliki waktu transit sekitar lima jam di salah satu bandara di Jakarta. Waktu yang cukup panjang untuk sekadar duduk, mengamati orang lalu-lalang, dan memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.

Saat menunggu jadwal boarding, perhatian saya tertuju pada sebuah kedai kopi dengan logo berwarna hijau yang sangat mudah dikenali. Antriannya cukup panjang. Sebagian pelanggan menikmati kopinya di tempat. Sebagian lainnya memilih membawanya pergi.

Tetapi ada satu hal yang menarik perhatian saya. Mereka yang membawa pulang kopi itu tampak menenteng gelasnya dengan bangga. Logo hijau itu terlihat jelas dari kejauhan. Seolah bukan hanya kopi yang mereka bawa, tetapi juga sebuah identitas.

Karena penasaran, saya ikut mengantre.
Saya memesan espresso dan cappuccino tanpa gula. Sengaja tanpa tambahan apa pun. Saya ingin merasakan rasa kopinya secara langsung. Pesanan datang. Saya memilih membawanya pergi karena hampir semua kursi sudah penuh.

Pertama saya mencoba espresso-nya.
Sebagai penikmat kopi, saya tahu bahwa espresso pada dasarnya adalah ekstraksi murni dari biji kopi. Tidak ada susu. Tidak ada gula. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Saya mencicipinya.
Lalu saya teringat espresso dari kedai kecil langganan saya yang jauh lebih sederhana. Menurut lidah saya, espresso itu lebih istimewa. Kemudian saya mencoba cappuccino-nya. Hasilnya kurang lebih sama.

Dan di situlah saya mulai berpikir.
Kalau begitu, mengapa orang tetap datang? Mengapa mereka rela mengantre? Mengapa mereka tampak bangga membawa gelas itu ke mana-mana?

Jawabannya mungkin bukan pada kopi.
Jawabannya ada pada keterikatan.
“Kita tidak selalu memilih sesuatu karena kualitas produknya semata. Kadang kita memilih karena ingin menjadi bagian dari komunitas yang ada di sekitarnya.” Dan entah mengapa, pikiran saya kembali melompat pada dunia perguruan tinggi.

Hari ini banyak program studi berlomba menunjukkan kualitas akademiknya. Kurikulum diperbarui. Laboratorium dibangun. Sertifikasi ditambah. Program internasional dibuka. Semua itu penting.
Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan. Apakah mahasiswa merasa menjadi bagian dari komunitas yang mereka banggakan?

Karena pada akhirnya, calon mahasiswa tidak hanya memilih tempat belajar. Mereka juga memilih tempat untuk bertumbuh, membangun jaringan, menemukan teman seperjalanan, dan menjadi bagian dari sebuah identitas sosial.

Inilah yang sering dimiliki oleh banyak program studi umum. Mereka tidak hanya menawarkan mata kuliah. Mereka menawarkan ekosistem. Ada komunitas teknologi. Ada komunitas startup. Ada komunitas kreatif. Ada komunitas bisnis.
Mahasiswa dapat dengan mudah membayangkan dirinya menjadi bagian dari komunitas tersebut. Sementara sebagian program studi keagamaan masih sering sibuk menjelaskan apa yang dipelajari, tetapi belum cukup kuat menunjukkan komunitas seperti apa yang akan dimasuki mahasiswanya.
Padahal manusia adalah makhluk sosial.
Kita ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.

“Positioning membuat orang mengenal kita. Identitas membuat orang memahami kita. Tetapi keterikatanlah yang membuat orang bertahan dan mengajak orang lain untuk bergabung.”

Bandara sore itu mengajarkan saya satu hal sederhana. Bahwa kopi yang baik memang penting. Tetapi yang membuat orang kembali sering kali bukan sekadar rasa kopi itu sendiri, melainkan perasaan bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sebuah cerita, komunitas, dan identitas yang ingin mereka miliki.

*Pranata Komputer Ahli Muda UIN Jurai Siwo Lampung

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.