ORANG BIASA CALON PENGHUNI SURGA

IMG-20260227-WA0009

Oleh

Mukhtar Hadi

 

Para penghuni surga adalah orang-orang istimewa. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang beriman, bertakwa, ahli ibadah dan banyak beramal shaleh, sabar, jujur, istiqomah di jalan Alah. (QS. Al-Baqarah; 25) Demikian digambarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Sallalahu ‘alaihi Wassalam. Para Nabi, Siddiqiin, para Syuhada, orang-orang shaleh adalah kelompok khusus yang juga dinyatakan sebagai ahli surga. Dalam sebuah hadits Nabi menyatakan ada 10 sahabatnya (Al-‘ashratu al-Mubasharuna bin Jannah) yang dijamin masuk surga. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin khatab, Utsman bin Afan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman  bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Namun ada pula dalam beberapa riwayat orang-orang yang biasa-biasa saja tetapi dinyatakan sebagai calon penghuni surga. Diantara mereka bahkan dinyatakan sebagai orang-orang tidak istimewa,  karena sebab amalan sedikit saja ia akan menjadi penghuni surga. Siapa  mereka itu? Berikut penjelasannya.

Diriwayatkan, pada suatu kesempatan saat Rasulullah dan para sahabat berkumpul di masjid Nabawi, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat yang hadir: “Sebentar lagi akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga”. Perkataan Nabi ini tentu saja membuat rasa penasaran dalam hati para sahabat. Dalam hati para sahabat bertanya-tanya siapa kira-kira penghuni surga yang dimaksudkan oleh Rasulullah? Apakah ia salah satu sahabat yang paling rajin shalatnya, atau paling rajin puasanya, atau paling banyak bersedekah atau yang tidak pernah absen dalam berjihad?

Tidak seberapa lama kemudian, datanglah seorang laki-laki yang masuk ruang masjid. Para sahabat menengok ke arah orang itu. Seorang laki-laki Anshar dengan wajah yang basah air wudhu, air masih menetes dari janggutnya. Tangannya menjinjing sandal jepit. Terlihat tidak ada yang spesial dari fisik laki-laki anshar ini. Kesimpulannya, orangnya biasa-biasa saja.

Salah seorang sahabat yang paling penasaran adalah sahabat Abdullah bin Amr bin Ash. Ia mengikuti laki-laki Anshar penghuni surga tersebut, menyapanya dan ingin tahu amalan apa yang membuatnya dinyatakan sebagai penghuni surga oleh Rasulullah SAW. Tetapi bagaimana caranya? Maka Abdullah bin Amr bin Ash berpura-pura bahwa ia sedang bertengkar dengan ayahnya, dan kalau bisa dalam tiga hari ini diperbolehkan menginap di rumah laki-laki Anshar tersebut. “Jika diperkenankan, aku ingin tinggal  bersamamu selama tiga hari” ucap Abdullah bin Amr. Calon penghuni surga tersebut dengan senang hati menyambutnya “ Silahkan, dengan senang hati menerimamu”.

Selama tiga hari Abdullah bin Amr menetap dan menginap di rumah calon penghuni surga itu. Dia perhatikan  segala tindak tanduk, perilaku, kebiasaan, dan ibadah laki-laki Anshar tersebut. Tidak ada yang istimewa. Pria itu hanya menjalankan ibadah wajib saja, sama seperti yang lainnya, dan bahkan dalam tiga hari itu tidak pernah ia melihat laki-laki itu di waktu sepertiga malam untuk melaksanakan shalat tahajud. Dalam hati ia bertanya terus “amalan apa yang membuat laki-laki tersebut bsa menjadi penghuni surga?” . Buntu, ia tidak menemukan jawabannya.

Hingga setelah tuntas hari ketiga, ia berterus terang kepada laki-laki tersebut, bahwa ia sesungguhnya tidak pernah bertengkar dengan ayahnya. Itu hanya menjadi alasan supaya bisa menginap di rumahnya. Tujuanku hanya igin tahu amalan apa yang membuatmu masuk surga sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah.  Aku bermaksud ingin melihat keseharian amalanmu agar aku bisa mengikutinya. Tapi ternyata, sepenglihatanku engkau tidak banyak beramal kebaikan.  Apakah sebenarnya amalanmu sehingga engkau dinyatakan sebagai ahli surga oleh Rasulullah? Sungguh-sungguh aku ini tahu.

Laki-laki itupun tersenyum dan menyatakan “Aku memang tidak memiliki amalan, kecuali yang engkau lihat selama tiga hari itu”. Namun jawaban ini tidak memuaskan hati Abdullah bin Amr. Lalu ia bergegas pamit dan hendak pulang. Ketika Abdullah bin Amr melangkah keluar rumah, tiba-tiba laki-laki itu memanggilnya. Ia berkata kepada Abdullah bin Amr, “Benar amalanku sebagaimana yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang atau menipu kepada seseorang pun, baik kepada muslimin ataupun yang lainnya. Aku juga tidak pernah iri dengki atau hasad kepada seseorang atas karunia yang diberikan Allah kepadanya”.

Mendengar penjelasan laki-laki Anshar tersebut barulah Abdullah bin Amr paham dan mengerti. Rupa-rupanya, dua amalan atau sifat itulah yang menyebabkan laki-laki dihadapannya ini menjadi calon penghuni surga. Ia mendapatkan dua pelajaran. Pertama, Jangan pernah menyakiti, menipu, mencurangi atau membohongi orang lain. Perbuatan ini jika dilakukan bukan saja membuat orang lain menderita, terdzalimi dan merasa dipermainkan, tetapi juga menimbulkan luka hati yang akan terus terpatri. Kedua, jangan pernah ada sedikitpun didalam hati rasa iri dan dengki terhadap segala anugerah dan nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, siapapun dia. Rasa iri hanya akan menimbulkan sakit hati, dendam dan berkurang rasa syukur. Rasa dengki menghilangkan rasa cukup dan kedamaian dalam hati. Wallahu a’lam bishawab (mh.26.02.26).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.