socio
echo
techno
preneurship

MeTROUNIV Article

Penggunaan Bahasa dan Karakter Diri

Facebook
Twitter
WhatsApp

metrouniv.ac.id – 17/01/2023 – 25 Jumadil Akhir 1444 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Thomas Lickona, seorang pencetus Pendidikan Karakter dari Amerika Serikat pernah menyatakan bahwa salah satu indikasi dari sepuluh indikasi sebuah bangsa yang sedang menuju kehancuran adalah penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. Ungkapan lama mengatakan “Bahasa Menunjukkan Karakter Bangsa” artinya tata cara berbahasa akan dapat menunjukkan dari bangsa mana penutur bahasa itu  berasal. Hadits Nabi menyatakan bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata dengan baik atau diam. Pendek kata tata cara berbahasa seseorang menggambarkan karakter, sifat dan nilai sopan santun yang dia miliki.

Apa yang disinyalir oleh Thomas Lickona tentang hancurnya sebuah bangsa akibat dari penggunaan Bahasa dan kata-kata yang memburuk, bila diamati dan rasakan sesungguhnya sudah dan sedang terjadi. Bagi sebagian kita yang menjadi pengajar di perguruan tinggi barangkali pernah berkomunikasi melalui aplikasi whatsapp dengan mahasiswa. Sebagai contoh, ada kata-kata whastapp begini: “Bapak saya sudah di depan ruangan bapak, bapak kok tidak ada, bapak dimana saya pingin ketemu”. Suatu saat dosen sudah di ruang kerjanya, lalu ada whatsapp dari mahasiswa, “ Bapak ada di ruangan tidak, saya mau ketemu bapak untuk bimbingan”. Mahasiswa tersebut ternyata mengirim whatsap dari tempat kosnya atau tempat tinggalnya entah dimana.

Tidak ada yang salah dengan pesan dan maksud yang dikirmkan mahasiswa lewat whatsap tersebut. Intinya ingin bertemu dengan dosen untuk keperluan bimbingan atau yang lainnya. Namun Bahasa yang digunakan, pilihan kata yang dipilih, menimbulkan perasaan yang tidak nyaman bagi yang menerima pesan. Ada perasaan kurang dihargai, kesan mendikte, ataupun kurang sopan bahkan tidak sopan. Mungkin itulah kelemahan penggunaan Bahasa lewat media digital atau mungkin memang karakter yang merosot yang tercermin dalam penggunaan Bahasa. Bagian terakhir ini barangkali penyebabnya sehingga tidak perlu menyalahkan media digital sebagai biang keladinya. Toh media sangat tergantung kepada penggunanya.

Dalam bidang jasa yang mengedepankan pelayanan prima, statf bagian front office biasanya diberi pelatihan khusus bagamana berkomunikasi, bersikap dengan mimik yang sesuai dan cara berbicara dengan customer. Bahasa sebagai bagian dari pelayanan. Ketika berbicara dengan pelanggan atau pengguna jasa, diksi atau kata-kata yang digunakan ketika berkomunikasi dipilih sedemikian rupa untuk menghilangkan kesan memerintah, menggurui atau tidak memiliki empati.

Bagi sebagian kita yang pernah ke kantor bank, sering kita disambut dengan kata-kata lembut dibalut senyuman manis dari statf teller atau Customer Service. Seperti: “Apa yang bisa saya bantu bapak?”; “Boleh duduk dulu bapak”. Bagi yang pernah naik pesawat, mari kita lihat diksi yang dipilih pramugari untuk menyuruh penumpang: “ Boleh bapak kursinya ditegakkan?”. Kata boleh dipilih dan digunakan sebagai perintah untuk menegakkan sandaran kursi karena pesawat mau take off atau mau landing. Pilihan kata ini bagi yang diajak berkomunikasi menimbulkan kesan dihargai dan dihormati, perasaan empati dan merasa dilayani.

Mengapa dalam pelayanan untuk kepentingan bisnis orang bisa bersopan santun dalam berbahasa namun sangat sukar berbahasa dengan baik dalam komunikasi sehari-hari? Jawabannya sederhana, karena untuk pelayanan ada kepentingan ekonomi yang diharapkan sehingga bahasa sebagai alat untuk meraih keuntungan. Orang boleh menyebut ini hanya basa basi, artinya tidak yang setulus-tulusnya. Sementara dalam komunikasi sehari-hari cara berbicara dan berbahasa adalah cerminan dari karakter seseorang.

Al-Qur’an menyebut cara berbahasa dan komunikasi yang baik itu dengan istilah Qoulan Ma’rufan (Qs. An-Nisa ayat 5 dan ayat 8). Qaulan ma’rufan adalah kalimat dan kata yang sopan, lemah lembut, ungkapan yang pantas dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan yang mendengar atau diajak bicara.

Ma’rufa identik dengan kata ‘urf yang bermakna budaya. M. Quraish Shihab menyatakan ma’ruf secara Bahasa artinya baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Karena itu Qaulan ma’rufan berarti perkataan yang pantas dengan latar belakang dan status seseorang, menggunakan sindiran (tidak kasar) dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan serta pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kemaslahatan.

Selain Qaulan ma’rufan, Al-Qur’an  juga menyebut istilah Qaulan Sadida (Qs. An-Nisa: 9) yaitu istilah yang digunakan untuk menyebut perkataan yang benar dan jujur. Perkataan yang kita sampaikan hendaknya perkataan yang benar dan jujur, bukan berbohong atau mengandung penipuan. Kemudian ada istilah Qaulan Baligha (QS. An-Nisa: 63), yang artinya perkataan yang tetap sasaran dan mudah dimengerti serta berbekas di jiwa. Al-qur’an juga menggunakan istilah Qaulan Karima (QS, Al-Isra: 23), yang artinya perkataan atau ucapan yang mulia, buka kata yang penuh cacian, kasar lagi keras.  Ada pula istilah Qaulan Layyinan (QS. Thaha: 44), artinya perkataan yang lemah lembut yang menggugah kesadaran. Terakhir adalah Qaulan Maysura (QS. Al-Isra: 28) yang artinya perkataan yang ringan, mudah dimengerti dan dipahami.

Menjadi tugas orang tua, para pendidik, dan para pemimpin untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak didik dan generasi penerus bangsa. Salah satunya adalah dengan mengajarkan berbahasa dan berkomunikasi yang baik. Cara berbahasa yang baik adalah cermin dari karakter diri. Menggunakan istilah Al-qur’an, berbahasa dan berkomunikasilah dengan Qoulan ma’rufan, Sadidan, Baligha, Karima, Layyinan dan Maysura. (mh.16.01.23)

Artikel Terkait

DISPENSASI MENIKAH

metrouniv.ac.id – 03/01/2023 – 11 Jumadil Akhir 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)   Harian Tribun

Politik Gagasan & Gerakan?

Politik Gagasan & Gerakan? metrouniv.ac.id – 27/01/2023 _ 5 Rajab 1444 H Dharma Setyawan, M.A. (Wakil Dekan 3 FEBI IAIN

MERAYAKAN PERBEDAAN

metrouniv.ac.id – 03/01/2023 – 11 Jumadil Akhir 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Biasanya orang berkumpul

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.