Penikmat, Pengamat, dan Pembuat

bg dashboard HD

“A reader enjoys a book. An observer understands it. A creator gives the world another book.”
(Anonymous)

metrouniv.ac.id – 3/08/2026 – 19 Safar 1448 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)

Pembaca menikmati buku. Pengamat memahami isinya. Penulis menyumbangkan buku bagi dunia.

Tulisan ini adalah tentang sebuah trayektori di balik karya-karya yang adiluhung. Karya yang kita lihat, dengar, pegang, cerap, atau baca, sejatinya lahir dari tangan dan pikiran seorang pembuat. Sebelum mereka menjadi pembuat, mereka adalah penikmat dan pengamat.

Jika mencermati penulis-penulis hebat itu. Jika membaca perjalanan intelektual mereka. Akan terlihat sebuah pola tiga-langkah. Pertama, mereka menikmati kegiatan membaca. Mencintai buku (book lover), meluangkan waktu secara regular untuk membaca, meski tidak setiap hari. Mereka menikmati dunia literasi, dan menaruh respek terhadap karya tulis dan penulis.

Kedua, mereka mengamati bagaimana buku ‘bekerja’. Mempelajari apa saja yang membuat sebuah buku enak dan layak dibaca. Di tahap ini, mereka biasanya bergeser dari book lover menjadi bookworm, atau kutu buku. Sangat gemar membaca, dalam jumlah banyak, dan hampir setiap hari. Mereka membaca di perpustakaan, di rumah, di perjalanan, bahkan di atas tempat tidurnya. Seringkali, jenis dan tema buku yang dilahap sudah tematik atau spesifik.

Ketiga, setelah menikmati dan mengamati, mereka membuat sebuah buku. Menjadi creator dan menyumbangkan sebuah buku baru kepada dunia ini. Memang, karya-karya pertama mereka jarang yang langsung bagus dan mencuri perhatian. Namun, mereka yang terus menjadi book lover dan bookworm dan tetap menulis, umumnya berakhir sebagai penulis yang hebat.

Syahdan, pola penikmat-pengamat-pembuat di atas, tidak hanya berlaku bagi penulis. Tetapi juga bagi penyanyi, artis, pembuat kebijakan, dan bagi siapa saja yang terlibat dalam proses kreatif pembuatan sesuatu. Di balik karya yang hebat, ada seorang pembuat yang inovatif. Dan pembuat yang inovatif itu, sebelumnya adalah seorang pengamat yang cermat, dan sebelum itu adalah seorang penikmat yang larut dalam keindahan karya sejenis yang diciptakannya.

Sehingga terhadap sebuah karya, manusia dapat memilih untuk menikmatinya, mengamatinya, atau menciptakan karya baru. Ketiganya tampak sebagai sebuah lintasan perjalanan yang dipisahkan oleh pendekatan yang berbeda. Para penikmat mencari pengalaman; pengamat mencari pemahaman; dan pembuat mencari kemungkinan.

Menikmati sebuah buku, misalnya, tidak selalu berarti memahami bagaimana buku itu bekerja. Seorang penikmat bisa menikmati sebuah buku tanpa memahami teknik penulisan paragraf. Tanpa memiliki pengetahuan tentang gaya bahasa. Tanpa keterampilan memilih diksi yang presisi. Cukup membaca saja, dan memperoleh kesenangan dari kegiatan pembacaannya itu. Seperti orang yang bisa tetap menikmati kopi, meski tidak punya pengetahuan tentang varietas biji, tentang teknik sangrai, atau tentang suhu air untuk menhasilkan cita rasa tertentu. Cukup memesan, meminum, dan lalu bahagia karenanya.

Sementara itu, mengamati sebuah karya adalah sesuatu yang berbeda. Mengamati seringkali berarti membaca sebuah buku yang sama berkali-kali, atau menonton film yang sama berulang-ulang. Membaca berulang untuk memahami struktur sebuah buku, bukan hanya permukaannya. Menonton ulang untuk memahami hal-hal yang luput pada saat pertama kali menonton. Intinya, ‘menyelam’ lebih dalam untuk memahami pola, struktur, akurasi, konsistensi, efek, dan lain sebagainya. Jika memiliki teman yang membaca sebuah sebuah buku berkali-kali, sangat mungkin ia sedang berada pada posisi pengamat.

Setelah menikmati dan mengamati, berikutnya adalah membuat. Tak pelak, dibutuhkan pemahaman teori dan kemampuan praktis pada fase ini. Seorang pembuat tidak hanya mampu menjelaskan bagaimana sebuah karya yang baik itu seharusnya dibuat, namun juga mampu membuatnya. Jika pembuat itu adalah seorang musisi, ia paling tidak harus menguasai teori musik sekaligus mampu memainkan alat musik. Jika ia seorang penulis buku, ia perlu memahami teori penulisan paragraf, gaya bahasa, diksi, kohesi, koherensi, konsistensi argumentasi, tata letak, hingga akurasi sitasi. Kecuali teori, sang penulis harus punya keterampilan menyusun paragraf, memilih diksi, memperbaiki naskah berkali-kali, hingga merespon komentar editor.

Namun demikian, penikmat, pengamat, dan pembuat bukanlah tiga peran untuk dipertentangkan. Karena seorang pembuat yang handal, tidak pernah berhenti menjadi pengamat dan penikmat. Sebaliknya, seorang penikmat yang terus mengasah kepekaannya, gradually but surely atau lambat laun akan menjadi pengamat. Tetapi justru pada titik inilah, tantangan itu terjadi. Bahwa jumlah pengamat cenderung lebih banyak dari pembuat. Jika itu terjadi dalam ekosistem pendidikan, maka jumlah penikmat informasi akan lebih banyak dari pengamat informasi. Dan jumlah pengamat informasi akan lebih banyak dari pembuat informasi. Dengan kata lain, institusi pendidikan lebih banyak membeli buku dari luar, daripada membuat buku. Hal ini bisa menjadi sebuah tantangan yang nyata bagi institusi pendidikan tinggi.

Sebagai penutup, patut diketengahkan bahwa gagasan dalam tulisan ini boleh jadi tidak sepenuhnya benar. Hal yang hampir pasti benar adalah bahwa seorang pembuat yang hebat adalah juga seorang pengamat dan penikmat. Bahwa seorang penulis adalah juga seorang pembuat. Dan bahwa penulis yang hebat, pastilah tidak membuat tulisan yang trivial, remeh dan dangkal, seperti ini. Tabiik. Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.