socio
eco-techno
preneurship

Perlukah Haji Berkali-kali?

Perlukah Haji Berkali-kali?

10. Perlukah Haji Berkali COVER

metrouniv.ac.id – 6/06/2024 – 29 Dzulqa’ah 1445 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Tidak terasa waktu berlalu, musim hajipun sudah diambang pintu dan sejarah mencatat bahwa ummat Islam Indonesia

berbondong-bondong untuk melaksanakannya, ada yang baru pertama kali dan tidak sedikit pula yang sudah dua atau bahkan tiga serta empat kali. Ibadah haji, adalah ibadah mahdhah yang diwajibkan oleh Allah swt kepada hamba-Nya, sekali dalam se- umur hidup, itupun bagi yang mampu melakukan perjalanan kepadanya, apakah itu dengan berjalan kaki, menunggang unta, berlayar maupun dengan menaiki pesawat. Aman di perjalanan, mempunyai belanja yang mencukupi, baik untuk dirinya maupun untuk keluarga yang ditinggalkannya (keluarga yang menjadi tanggungannya), dan berbadan sehat. Semua itu, diistilahkan dalam al-Qur’an dengan manistatha’a ilaihi sabîlâ (orang yang mampu melakukan perjalanan kepada-Nya).

Ibadah haji, sering juga disebut dengan ibadah dalam rangka memenuhi panggilan Nabi Ibrahim as, sebab memang ibadah haji ini pertama sekali disyari’atkan melalui pangggilan Nabi Ib- rahim as. Oleh karena itu pulalah yang menyebabkan, pekerjaan-

pekerjaan yang dilakukan dalam ibadah haji, menceriterakan riwayat hidup (napak tilas) atas kehidupan Nabi Ibrahim as beserta keluarganya (Siti Hajar sebagai istrinya dan Ismail sebagai anaknya).

Di dalam satu riwayat disebutkan, Ibnu Abbas, menyata- kan bahwa sewaktu Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim as menyerukan panggilan ibadah haji, Nabi Ibrahim sedikit ragu, apakah panggilannya akan didengarkan oleh seluruh umat manusia, Allah swt kemudian meyakinkannya, “Seru sajalah dan Aku (Allah) yang akan menyampaikannya.”

Mahabenar Allah atas segala firmannya, panggilan Nabi Ibrahim as yang telah dikumandangkan ribuan tahun yang lalu itu, telah didengar oleh seluruh umat manusia, hanya saja memang harus diakui, bahwa sikap ummat manusia, khususnya ummat Islam dalam memenuhi panggilan itu yang berbeda-beda antara satu sama yang lain. Sikap tersebut dapat diklasifikasikan menjadi empat.

Pertama, ada yang ingin melaksanakannya dan ia mampu untuk itu, maka iapun dengan senang hati mengerjakannya. Itulah orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Kedua, ada yang ingin mengerjakannya dan ia mampu untuk itu, akan tetapi ada sesuatu aral melintang di luar kemampuan- nya, menyebabkan dirinya tidak jadi mengerjakan ibadah haji itu.

Ketiga, ada yang mampu mengerjakannya, kesempatan baginya terbentang luas, baik dari segi harta maupun dari segi waktu, akan tetapi hatinya tidak tergerak, hatinya justru semakin menjauh.

Keempat, ada yang ingin mengerjakannya, niat yang bulat telah ditanamkan, semangat berkobar-kobar bagaikan api

unggun di puncak kepanasannya, namun seperti kata pepatah, “Ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.” Kewajiban Haji

Oleh karena itu, maka merupakan kekeliruan yang sangat besar bagi seseorang yang menyatakan, bahwa dia tidak pergi melaksanakan ibadah haji sebab panggilannya belum datang/ sampai. Panggilan itu telah datang dan telah sampai, buktinya berbondong-bondong ummat Islam setiap tahun dari seluruh penjuru dunia mengerjakannya. Hanya saja memang harus diakui, bahwa sikap kita dalam memenuhi panggilan itulah yang berbeda-beda.

Persoalannya sekarang adalah, perlukan ibadah haji itu dilakukan berkali-kali, seperti yang dilakukan oleh sebagian kalangan ummat Islam, yang melaksanakannya bukan hanya sekedar dua atau tiga kali, bahkan mencapai empat sampai dengan lima kali dan bahkan ada yang melakukannya setiap tahun. Memang uang yang dipergunakan untuk melakukan ibadah haji itu adalah uangnya sendiri, tetapi sejauh manakah manfaat yang diperoleh dari mengerjakan ibadah haji itu berkali- kali, dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh ummat Islam secara keseluruhan, apabila uang yang akan dipergunakan mengerjakan ibadah haji berkali-kali itu, disumbangkan untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang menyelimuti sebagian ummat Islam, di negeri yang diambang kebangkrutan ini.

Satu hal yang sangat masuk akal adalah, mengerjakan ibadah haji itu sangat indah dan sangat memuaskan secara spiritual, apalagi kita bertemu dengan jutaan perwakilan ummat Islam seluruh dunia, bahkan sebahagian kawan mengatakan kenik- matan mengerjakan ibadah haji itu, tidak dapat diceritakan dan dilukiskan baik dengan gambar, tulisan maupun dengan kata-

kata. Akan tetapi, cukupkah kenikmatan spritual pribadi itu kita nikmati sendiri, sementara banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uang yang akan dipergunakan menunaikan ibadah haji berkali-kali itu.

Manakah lebih diutamakan kepentingan kepuasan spritual pribadi, ataukah kepentingan spritual orang banyak yang nota bene meraka adalah saudara-saudara kita seiman dan seagama. Tegakah rasanya kita membiarkan mereka hidup dalam keme- laratan, yang kata Nabi Muhammad saw, “Kemiskinan itu sangat dekat dengan kekafiran”. Bukankah uang itu lebih baik diper- gunakan untuk membantu dan membentengi mereka dari rayuan kekafiran. Haji kita lakukan sekali dalam seumur hidup maka telah lepas kewajiban kita terhadap Allah swt, tetapi ummat Is- lam kita biarkan kelaparan, merana dalam kesengsaraan, menyebabkan kita berdosa seumur hidup. Nabi bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu yang tidur nyenyak karena kekenyangan, sementara tetangganya tidak bisa tidur karena kelaparan.”

Perlu untuk diketahui bahwa setiap ibadah yang diwajibkan oleh Allah swt terhadap ummatnya mempunyai dampak terhadap sosial kemasyarakatan, baik dalam bentuk solidaritas sosial, maupun dalam bentuk yang lainnya seperti halnya Sholat, Puasa, Zakat dan juga mengerajakan ibadah haji.

Haji Sejati

Ada satu cerita sufi yang sangat menarik, yang diceritakan oleh para ulama kepada kita, bahwa ada sepasang suami isteri yang bergabung dengan satu rombongan berangkat menunaikan ibadah haji, dengan membawa perbekalan yang sangat lengkap. Di tengah jalan suami isteri itu bertemu dengan satu kampung yang penduduknya sangat miskin dan hidup dalam derita

kemelaratan dan kepapaan. Melihat kondisi ini, suami isteri itu merasa iba dan bermaksud menyumbangkan seluruh harta perbekalannya kepada penduduk kampung dan bahkan ikut serta mencarikan solusi atas problema hidup dan kehidupan mereka, sampai penduduk kampung itu terentaskan dari kemiskinan.

Setelah misi ‘Tengah Jalan’ ini mereka rampungkan, sedang- kan waktu pelaksanaan hajipun telah selesai, maka merekapun pulang tanpa mengerjakan ibadah haji. Sesampainya di kampung halaman, mereka disambut oleh teman-temannya yang sama-sama pergi menunaikan ibadah haji dulu, dengan sapaan Bapak Haji dan Ibu Hajjah. Dengan jujur kedua suami isteri itu menjawab, bahwa kami berdua tidak jadi melaksanakan ibadah haji sebab di tengah jalan kami membantu penduduk kampung yang sedang kesusahan. Teman-temannyapun menjawab, “Bapak Haji dan Ibu Hajjah jangan bercanda, kami semua melihat dan menjadi saksi hidup bahwa Bapak dan Ibu menunaikan ibadah haji dengan sangat khusu’ bersama-sama dengan kami, bahkan menjadi pimpinankami.”

Rupanya atas qudrat dan iradat Allah swt, ketika kedua or- ang suami isteri itu sedang asyik membantu penderitaan penduduk kampung tadi, haji keduanya telah digantikan oleh dua orang malaikat, yang menyerupai kedua suami isteri itu, sehingga semua orang termasuk teman-temannya menyaksikan, keduanya menunaikan ibadah haji bersama-sama dan bahkan menjadi pimpinan bagi mereka.

Dari cerita di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa sesung- guhnya apa yang dilakukan oleh kedua suami isteri calon haji tadi, sungguh merupakan perilaku dari seorang haji yang sesung- guhnya dan apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan (tanpa mendahului Allah swt) penulis yakin bahwa pahalanya tidak kalah besar dengan pahala menunaikan ibadah haji, kalau bukan

lebih besar pahalanya di sisi Allah swt. Penulis juga yakin bahwa sesungguhnya orang yang seperti ini disebut ‘haji’ sekalipun belum melakukan ritual ibadah haji.

Sekarang kembali kepada kita, apakah kita akan berkali-kali menunaikan ritual ibadah haji, ataukah kita cukup melaksanakan ibadah haji sekali saja, sesuai tuntunan ajaran agama Islam, sedangkan uang yang akan dipergunakan menunaikan Ibadah Haji yang kedua, ketiga, keempat dan keseterusnya itu diper- gunakan untuk mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan keter- belakangan yang menyelimuti sebagian umat Islam. “Astag- firullahal ‘azhim, apabila saya salah ya Allah. Wallahu a’lam

Artikel Terkait

Cinta dan Pengorbanan

metrouniv.ac.id – 12/06/2024 – 5 Dzulhijjah 1445 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Kamu tidak

Haji dan Kepekaan Sosial

metrouniv.ac.id – 12/06/2024 – 5 Dzulhijjah 1445 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Pada saat

Sepakat Dalam Perbedaan

metrouniv.ac.id – 11/06/2024 – 4 Dzulhijjah 1445 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Berkumpulnya umat Islam dari

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.