metrouniv.ac.id – 06/02/2024 – 25 Rajab 1445 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)
“There are always two sides to every story.” (American Idiom)
Konon, selalu ada versi lain dari cerita yang terbaca. Ada yang mengisahkan Datuk Maringgih, tokoh dalam novel Siti Nurbaya itu, sebagai orang yang culas nan jahat. Dan tampaknya versi itu yang lebih popular. Namun, ada yang menarasikan Sang Datuk sebagai pahlawan karena di ujung cerita ia berperang melawan para penjajah. Selalu, ada dua sisi dari sebuah cerita. Dua sisi cerita Sang Datuk tampak saling berlawanan..
Bagi para pengajar, ‘cerita’ tentang gaya belajar (learning styles) juga punya dua sisi: VARK Model dan Honey-Mumford Model. Namun dua sisi tersebut tampak saling melengkapi, alih-alih berlawanan seperti narasi Datuk Maringgih. Gaya belajar, sederhananya, adalah cara yang disukai peserta didik ketika menyerap informasi. Dalam VARK Model, misalnya, ada peserta didik yang lebih suka informasi disajikan secara Visual melalui grafik, bagan, dan powerpoint. Ada juga yang Auditory yang lebih senang mendengar ceramah. Ada yang Read/Write, yang rajin mencatat, selalu bawa pulpen dan notes, gemar membaca materi yang diberikan. Ada yang Kinesthetic, yang menyenangi praktik, yang belajar seraya melakukan. VARK adalah akronim dari Visual, Auditory, Read/Write, dan Kinesthetic. Yang visual, belajar melalui penglihatan (learning by seeing). Yang auditory, mengandalkan indera dengar (learning by hearing). Yang read/write, belajar dengan cara membaca dan menulis (learning by reading and writing). Yang kinesthetic, belajar seraya mengerjakan (learning by doing).
Sisi lain dari cerita gaya belajar: Honey-Mumford Model, juga punya empat kategori: aktivis, reflektor, teoritis, dan pragmatis. Aktivis, untuk individu yang lebih suka mengerjakan sesuatu daripada membaca dan mendengar ceramah. Reflektor, bagi yang gemar mengumpulkan banyak informasi sebelum menarik kesimpulan. Teoritis, untuk individu yang menyukai ide, teori, observasi, dan menariknya menjadi kerangka pikir (framework). Pragmatis adalah individu yang mengutamakan implikasi praktis sebuah ide atau teori.
Syahdan, jika Saudara/i suka membawa pena dan notes, suka nge-print materi bacaan atau jurnal, suka membuat catatan-catatan pinggir di sisi kosong buku, suka menghubungkan satu teori dengan teori lain, suka suasana tenang dalam bekerja… mungkin Saudara/i memiliki gaya belajar teoritis yang learning by reading and writing. Jika ternyata bukan? Maka penilaian di atas adalah sisi lain dari cerita yang sesungguhnya. Setiap cerita punya dua sisi, kadang berlawanan, kadang saling melengkapi.